UTS- Darimana Anggaran Pembiayaan COVID-19 Berasal?






Pada bulan Maret WHO (World Health Organization) menetapkan Virus Corona (COVID-19) termasuk pada masalah global, sebab virus ini penyebarannya cepat hingga ke wilayah yang jauh dari asal muasal virus ini terjadi. Korban yang positif terkena virus ini terus bertambah dari hari ke hari.
Di Indonesia pada tanggal 30 Maret 2020, kasus positif corona mencapai 1.414 kasus dan jumlah korban meninggal 122 orang, sedangkan yang sembuh 75 orang. Tagar #dirumahsaja sudah bertebaran di media sosial. Pemerintah Indonesia sudah mengingatkan masyarakat untuk melakukan aktifitasnya di rumah. Kegiatan perkantoran dan pendidikan pun beralih aktifitas menjadi online. Salah satu pencegahannya yang kini dilakukan dengan social distancing. Social distancing sendiri, dimaksudkan untuk meminimalisir kontak langsung antar-manusia atau menjaga jarak tertentu yang bertujuan untuk mengurangi resiko penularan.
Ekonomi global mengalami kelumpuhan akibat dari mewabahnya virus corona yang semakin hari semakin bertambah. Data dari International Monetary Fund (IMF) menyatakan ekonomi dan keuangan global saat ini telah mengalami krisis akibat dari COVID-19. Dengan cepat atau lambat dampak dari krisis ekonomi dan keuangan akan mempengaruhi perekonomian dunia.
Lalu, darimana anggaran pembiayaan COVID-19 berasal?
Anggaran merupakan rencana keuangan yang berfungsi sebagai patokan berdasarkan program dan rencana yang telah disusun. Anggaran dibagi menjadi dua yaitu Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dengan adanya anggaran, target dan tujuan bisa berjalan sesuai rencana dan memungkinkan pengalokasian sumber daya dapat efektif.
Presiden Joko Widodo, meminta kepada kementerian dan seluruh kepala daerah agar mengalokasikan anggaran khusus untuk penanganan corona di APBN dan APBD. Pemerintah berfokus disektor kesehatan serta bantuan sosial dalam menyikapi dampak yang timbul. Perjalanan dinas dalam/luar negeri, pertemuan dan penyelenggaraan acara sementara dipangkas untuk kebutuhan anggaran pembiayaan COVID-19. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah diminta bergerak dalam mengalokasikan kembali  anggaran pendapatan dan belanjanya.
Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, pemerintah akan bertanggung jawab atas biaya perawatan pasien yang terkonfirmasi positif terinfeksi virus corona (COVID-19). Anggaran perawatan pasien nantinya akan difokuskan melalui Kementerian Kesehatan. Dan saat ini tengah disusun peraturan presiden untuk pemberian kepastian rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain mengenai penjaminan BPJS Kesehatan dalam penanganan COVID-19.
Sri Mulyani menyampaikan, "Stimulus fiskal dan dana penanganan COVID-19 yang dialokasikan Pemerintah Indonesia melalui APBN masih relatif kecil, yakni berkisar Rp 118,3 triliun - Rp 121,3 triliun atau kurang dari 1 persen PDB."
Lalu, efektifkah hal tersebut dilakukan? Sebenarnya dana penanganan COVID-19 dari APBN saja tidak cukup ditambah lagi pemerintah sedang menggalang anggaran tambahan yang bersumber dari pinjaman luar negeri. Dokter dan tenaga medis mulai kewalahan menangani pasien yang semakin hari semakin bertambah.belum lagi, rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang membutuhkan bantuan penanganan COVID-19  serta alat pelindung diri (APD), masker, dan kebutuhan kesehatan lain yang stoknya mulai menipis.
Pelayanan kesehatan Indonesia sendiri masih belum siap menangani pasien dibandingakan negara-negara lain. Terlihat dari ketersediaan fasilitas dan pelayanan medis yang belum memadai. Mirisnya alat Pelindung Diri (APD) yang dikenakan sebagian dokter dan tenaga medis masih sangat terbatas, hingga jas hujan yang disulap menjadi pakaian APD dalam penanganan pasien. Pakaian tersebut bukanlah pakaian standar yang seharusnya dikenakan oleh para tenaga medis.
Salah satu upaya yang wajib dilakukan masyarakat Indonesia yaitu adanya kesadaran masyarakat dalam penghentian penyebaran virus COVID-19 dengan cara tetap berada di rumah. Bukan berarti berdiam diri dan bermalas-malasan, kita masih bisa melakukan aktfitas bermanfaat. Antara pemerintah dengan masyarakat juga harus saling bergotong royong menghadapi permasalahan COVID-19 dan tantangan perekonomian yang akhir-akhir ini mulai menurun.

Referensi:

Komentar

Postingan Populer