UTS- Kondisi Nasional ditengah Pandemi Covid-19
Seperti yang telah kita
ketahui, bahwa kondisi nasional sedang tidak baik-baik saja. Berawal dari
munculnya virus corona yang diduga berasal dari China dan kemudian WHO
mengumumkan, virus ini sudah menjadi pandemic global. Diketahui virus ini
pertama kali masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020. Pengumuman resmi
diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Dua orang dinyatakan positif
terjangkit virus corona atau Covid-19 dan kini sedang menjalani perawatan di
Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta Utara. Semakin hari
jumlah pasien yang dinyatakan positif terdeteksi virus corona semakin
bertambah, begitupun angka kematian akibat virus ini. Tercatat dari data
terbaru covid-19 per 30 Maret 2020, jumlah pasien positif sebanyak 1.414 orang,
meninggal 122 dan sembuh 75. Angka ini akan terus bertambah karena obat atau
vaksin belum ditemukan. Maka perlulah kebijakan pemerintah untuk menekan
penyebaran rantai virus ini.
Kebijakan-kebijakan pemerintah untuk
mengurangi penyebaran virus ini dimulai dengan menjaga selalu kebersihan diri, social
distancing yang nyatanya belum sepenuhnya terealisasikan. Social distancing
yang diharapkan mampu untuk menekan penyebaran virus corona ini, dimaksudkan
supaya menjaga jarak 1-2 meter dengan orang lain dan menghindari kerumunan. Namun,
social distancing ini dianggap tak lagi efekif untuk mengurangi aktivitas
masyarakat di tengah pandemi corona. Presiden Joko Widodo diminta untuk segera
melakukan langkah nyata untuk memutus penyebaran rantai virus ini, salah
satunya dengan karantina wilayah atau lockdown. Menurut Faisal Basri, seorang
ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), tidak
ada pilihan lain bagi Indonesia untuk mengendalikan pandemi ini selain lockdown.
Faisal pun mengatakan, lebih mudah bagi Indonesia untuk menerapkan lockdown
ketimbang negara lain karena secara geografis terdiri dari pulau-pulau.
Walaupun, dampak yang
diakibatkan dengan penerapan lockdown ini tidak mudah. Himbauan
pemerintah untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah, ternyata dapat
memperlambat roda perputaran ekonomi. Sehingga, sejak munculnya pandemi ini,
keadaan ekonomi Indonesia semakin chaos. Salah satu faktor dari Virus
Corona (Virus Covid 19) menyebabkan kurs dollar terhadap rupiah meninggi hingga
mencapai angka 16.000/ USD. Bahkan laporan dari Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) menunjukkan terjadi penurunan dalam beberapa minggu terkahir. Indeks
Harga Saham Gabungan merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan
oleh Bursa Efek Indonesia. Hal ini menimbulkan banyak dampak. Konsumsi swasta,
yang menyumbang hampir 60% pergerakan ekonomi nasional, dipastikan akan
mengalami kontraksi. Penjualan retail, baik di pasar tradisional dan pasar modern
dipastikan turun. Hal lain dapat dilihat dari anjloknya sector perhotelan dan pariwisata
baik domestik ataupun asing. Ketua umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Hariadi
Sukamdani menyatakan “kerugian pariwisata dari hotel dan restoran mencapai 1,5 milyar USD atau senilai dengan 21 triliun IDR”. Dari data tersebut diketahui sebagian
besar wisatawan China menghabiskan 1.100 USD untuk perjalanan per hari ke
Indonesia. Tentunya wisatawan local termasuk dalam perhitungan tersebut. BPS
mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara turun 7,62% pada Januari 2020
dibandingkan Desember 2019. Sementara, wisatawan nusantara turun 3,1% pada
periode yang sama. Tekanan pada konsumsi swasta ini dipastikan akan lebih dalam
pada bulan Maret dan juga bulan-bulan berikutnya jika pandemic ini belum juga
usai. Selain itu juga, penurunan ekonomi berasal dari sector industry.
Dikarenakan, bahan baku yang digunakan untuk menciptakan suatu produk sebagian
besar impor. Bahan baku yang susah dan mahal ini, akan menghasilkan barang yang
tidak sesuai permintaan. Sedangkan, di tengah pandemic covid-19 ini, permintaan
masyarakat semakin tinggi, dikarenakan terjadi panic buying dari
sebagian masyarakat. Masyarakat memilih membeli berbagai macam bahan pokok
dalam jumlah yang sangat banyak guna memenuhi kebutuhan yang nantinya akan
semakin sulit didapatkan dan harga yang dipatok semakin tinggi. Jika hal ini
tidak dapat dihentikan, maka kedepannya akan terjadi inflasi yang membengkak. Disisi
lain, pihak industry yang semakin mengalami masalah finansial, akan mengurangi
jumlah karyawan, sehingga kedepannya jika hal ini masih berlanjut, akan terjadi
tingkat pengangguran yang tinggi. Tingkat pengangguran yang tinggi akan semakin
memengaruhi keadaan social-budaya di Indonesia.
Komentar
Posting Komentar