AKu Cinta Dengan Penjual Bunga
Aku Cinta Dengan Penjual
Bunga
Perkenalkan namaku Kamila
Azzahra. Aku hidup sebatang kara dirumah peninggalan kedua orangtuaku. Aku
tidak bisa melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya. Akhirnya mau tidak mau
aku bekerja disalah satu toko bunga. Yah untuk makan cukuplah.
Hari ini aku ditugaskan mengantar bunga
kesalahan satu kantor. Dengan senang hati dan bersenandung ria kukayuh sepedaku
menyusuri jalan. Saat ingin berbalik Tiba-tiba didepanku ada mobil yang melaju
dengan oleng.
"Aaaaaa!" teriakku seraya menutup
mata dengan kedua tanganku.
Aku tidak merasakan apa-apa. Kubuka perlahan
kedua tanganku ternyata mobil tersebut berhenti tepat mengenai kakiku sedikit.
"Lo mau mati hah? Gak punya mata?"
"Kok diam? Tulikah?"
Dengan perasaan campur aduk aku menata tajam
kearah cowok tersebut. Belum lagi aku sempat membuka mulut ia sudah pergi jauh.
"Iiiiiiiii ... cowok sialan, bukannya
bantuin malah pergi gitu aja," ucapku kesal.
"Awas lo ya!" teriakku lagi.
Sepanjang jalan kulontarkan sumpah serapah
untuk cowok itu.
Akhirnya sampai juga aku di sebuah kantor yang
besar. Segera aku langkahkan kakiku untuk memasuki kantor tersebut.
Setelah bertanya. Aku diantar salah satu
karyawan kantor tersebut keruangan. Sebelum masuk karyawan tersebut berkata.
"Nanti bunganya langsung dirangkai ya, mba." Aku hanya mengangguk.
Perlahan Kubuka pintu ruangan tersebut.
Ternyata tidak ada orang. Aku dengan tergesa-gesa masuk dan langsung merangkai
bunga dan memasukkannya kedalam vas.
Saat ingin keluar, karena tidak melihat jalan
aku menabrak seseorang.
"Maaf," ucapku seraya menunduk.
"Jalan pakai mata," ucapnya ketus.
"jalan pakai mata." Aku mengikuti
cara bicaranya. "Jalan itu pakai kaki bukan pakai mata," jawabku
lebih ketus darinya.
"Sialan!" ia langsung memegang
bahuku secara kasar membuat aku sedikit meringis. Saat aku memberanikan diri
untuk menatapnya.
Ternyata.......
Seorang cowok ganteng. Astaga! Kalian tau gak Kim Hyun Joong????
Salah satu aktor cowok difilm BBF. Mirip banget. Seperti mimpi ketemu artis Korea walaupun made in Indonesia.
Seorang cowok ganteng. Astaga! Kalian tau gak Kim Hyun Joong????
Salah satu aktor cowok difilm BBF. Mirip banget. Seperti mimpi ketemu artis Korea walaupun made in Indonesia.
Mimpi apa coba gue tadi malam! Ketemu cowok
yang mirip idola gue! Mak hayati mau pingsan!
"Hey!" panggilnya seraya mengibaskan
tangannya didepan wajahku. Aku pun langsung tersadar dari lamunanku.
"Eh ... sekali lagi maaf ya, Pak! Saya
gak sengaja," ucapku tulus.
"Oke gak apa-apa. Lain kali kalau jalan
diperhatikan," katanya. Aku hanya mengangguk dan masih terus menatapnya.
"Jangan liat saya begitu. Saya jadi
merinding," ucapnya.
"Pak boleh minta foto bareng gak?"
tanyaku.
"Boleh. Sini," ajaknya. Aku pun
mendekatinya dan kamipun berselfie ria. Hahahaha lumayan 'kan guys buat
panas-panasin karyawan ditoko bunga.
"Terimakasih, Pak," ucapku seraya
melangkah mendekati pintu. Saat ingin membuka pintu Tiba-tiba ada yang membuka
dari luar. Aku pun kaget. Gimana gak kaget yang sedang ada dihadapanku ini
adalah Biawak yang udah hampir nabrak aku dan pergi begitu saja. Ya pergi
begitu saya pas lagi sayang-sayangnya
Eakkkk.
Eakkkk.
"Lo," ucapnya dengan sedikit keras.
"Kenapa, masalah buat lo."
"Ngapain lo disini. Ooo ... godain abang
gue lo ya. Ngaku!"
"Iiisss ... Heh orang stres kalau ngomong
itu dipikir dulu. Main nuduh ajah. Lo tanya aja sendiri sama abang lo."
"Udah pergi sana. Jangan lupa bawa bunga
kuburan lo itu. Jangan ada yang tinggal."
"Woyyy! Lo nantangin gue ya. Asal lo tau
ya, ini tu bukan bunga KUBURAN!"
"Serah lo!"
"Gila lo. Cowok stres!" sebelum
melangkah pergi, karena sudah emosi memuncak dengan kesadaran penuh kuinjak
kaki cowok tersebut dan akupun berlari sekencang mungkin.
"Aw ... sialan lo! Cewek gila!"
teriaknya. Aku hanya menjulurkan lidahku tanda aku sedang mengejeknya.
Sedangkan cowok satu lagi hanya tersenyum melihat tingkah kami.
…………………………………………………………………………………
Sore yang melelahkan. Aku baru saja pulang.
Bosku kurang ajar segitu banyak karyawan hanya aku saja yang dibuatnya susah.
"Dasar bos kurang kerjaan!"
"Gak tau apa gue panas-panasan. Item deh
gue. Sial!"
Aku mengayuh sepedaku dengan tergesa-gesa saat
ingin menghindari kubangan air Tiba-tiba mobil mewah melintas dengan kecepatan
tinggi. Hal hasil aku jadi basah kuyub.
"Astaga! Sialan! Woy turun lo!"
teriakku dan terus saja menggedor kaca mobil tersebut. Akhirnya sang empunya
pun turun. Sialnya lagi aku harus berhadapan dengan Biawak itu lagi.
"Dia lagi. Dia lagi."
Kulihat dia mengeraskan rahangnya seperti
ingin melahap mangsa. Aku mulai panik. Kemunduran langkahku menuju sepedaku.
Saat ingin menaiki sepedaku Tiba-tiba saja dua menarik rambutku dengan kasar.
"Aw ... sakit," erangku. Ia malah
tak menghiraukan ringisanku. Dituntunnya aku masuk kedalam mobilnya dan
mendorongku dengan kasar. Akhirnya aku menurut saja. Ia melajukan mobilnya
dengan kecepatan sedang. Aku tak tau aku Mau dibawa kemana. Aku pasrah.
Mobil masih saja melaju. Hanya ada keheningan. Aku sama sekali
tidak ingin menatapnya, hingga dia Tiba-tiba memberhentikan mobilnya secara
mendadak.
"Bilang-bilang dong kalau Mau berhenti, ' Omelku.
Dia tetap tak menghiraukanku, kuikuti arah pandangannya ternyata
mengarah kearah sepasang kekasih.
Kulihat lagi kearahnya, rahangnya sudah mengeras dan tangannya
ia kepal dengan kuat seperti ingin menghajar seseorang.
Belum lagi sempat aku bertanya ia sudah turun dari mobil menuju
sepasang kekasih itu. Aku mengamati apa yang akan dilakukannya. Ternyata ... eh
... ternyata guys sibiawak diselingkuhi sama ceweknya wkwkwk.
Sudah puas memberi kekasihnya pelajaran ia kembali masuk kedalam
mobil. Aku tak bisa menahan tawaku. Terpaksa deh kukeluarkan.
"Wahahaha." Aku tertawa terbahak hingga perutku sakit.
Ia menatapku datar. " Apa yang lucu. Hum?" tanyanya.
"Lo. Lo yang lucu. Hahahaha," jawabku dan masih
tertawa.
"Astaga gadis ini. Diam atau gue turunin lo disini,
hah," ancamnya.
"Turunin aja. Toh gak ada ruginya buat gue," jawabku
sinis. Tiba-tiba dia menarik rambutku lagi agar dekat dengan wajahnya. Semakin
dekat hingga ia mengecup bibirku sekilas.
Aku tersadar refleks langsung menampar pipinya itu. "Woy,
kurang ajar lo," umpatku. Dia hanya menyeringai devil dan kembali
melajukan mobilnya. Aku terus saja mengusap bekas bibirnya dengan tanganku.
Sekali-sekali ia tersenyum kearahku membuat aku semakin jengkel.
Akhirnya kami sampai disebuah butik mewah. Kami pun turun dan
melangkah menuju butik tersebut. Pakain-pakaian yang ada disini sungguh indah
dan tentunya mahal.
Aku hanya melirik sekilas dan kembali duduk disampingnya.
"Kok duduk? Gak ada yang bagus ya?" tanyanya.
Dia kok jadi baik ya? Biawak kutub Utara bisa berubah drastis?
Oh tidak semudah itu .... Ferguso.....!
"Gak ada. Anterin gue pulang aja. Gue udah kedinginan nih.
Mana usah malam lagi," ucapku.
"Oke. Tunggu bentar." Kulihat ia memilih beberapa baju
dan membayar semua baju itu dikasir.
"Nah ... sebagai tanda maaf gue," ucapnya seraya
menyodorkan pakaian yang ia beli tadi. Saat aku sudah berdiri dan ingin
mengambilnya Tiba-tiba saja dia menarik tanganku dan aku jatuh kepelukannya.
Dibelainya rambutku yang panjang. Dia tersenyum melihatku. Beda
denganku aku jadi takut melihatnya. Dia langsung memelukku dengan erat. Aku
memberontak tapi dia tetap saja memelukku. Hingga aku merasakan hangat. Aih
.... aku jadi terbuai.
"Udah gak dingin lagi 'kan?" tanyanya.
"Gak usah sok perhatian. Lepasin .... gue mau pulang,"
ucapku.
"Jangan jatuh cinta sama gue. Lo bukan tipe gue,"
bisiknya. Ia melepaskan pelukannya dan melangkah mendahuluiku.
"Sialan! Siapa juga yang mau sama lo! Biawak kutub
Utara!" teriakku kesal.
"Menjengkelkan! Dasar cowok gila!"
Aku pun mengikutinya masuk kedalam mobil. Beberapa menit
kemudian sampailah kamu dirumahku yang sederhana. Aku segera turun tanpa
mengucapkan sepatah kata pun. Kubanting pintu mobilnya dan berlenggok menuju
rumah.
"Woy! Gadis pendek! Mobil mahal ini. Main banting
aja," kesalnya.
Aku menatapnya dengan tatapan tajam.
"Jangan lama-lama ntar jatuh cinta," ucapnya.
Kuambil batu yang berada dipekarangan rumahku. Niatnya ingin melempar
cowok brengsek itu ternyata ia sudah pergi.
"Sialan!" teriakku.
Hari ini Kamila bersyukur ia ditugaskan ditoko. Jadi dia tidak
perlu panas-panasan diluar. Kamila sedang asik menyirami tanaman sambil
dengerin musik dengan earphone nya. Sesekali Kamila mengikuti lirik lagu
tersebut.
"Kemana ... kemana ... kuharus mencari kemana .... Kekasih
tercinta ... tak tau rimbanya ... lama tak datang kerumah...."
Kami la terus saja bergoyang dan berdendang. Sampai-sampai ia
tak mendengar ada yang memanggilnya. Dewi teman satu profesi dengan Kamila
tersebut langsung menyambut pelanggan yang datang itu.
"Selamat datang di Toko Bunga Ceria, ada yang bisa saya
bantu?" tanya Dewi.
"Tolong pesanan ibu saya yang kemaren," jawabnya.
"Ooo ... Mari ikut saya, Pak."
Dewi langsung membawa cowok tersebut menghampiri Kamila. Kamila
bertugas untuk merangkai bunga.
Sampai ditempat yang dituju. Dewi langsung menarik earphone
milik Kamila.
"Is Dewi. Gue 'kan mau dengerin lagu," omel Kamila.
"Tuh ada pelanggan yang jemput pesanannya," jawab
Dewi. Kamila pun membalikkan badannya dan menatap cowok itu malas.
"Tuh disana, Wi. Lo aja yang ngasih, gue malas," ucap
Kamila dengan menekankan kata malas.
Kamila kembali menggunakan earphone nya dan bersenandung ria.
"Apa salah dan dosaku sayang ... cinta suciku kau
buang-buang....."
Dewi kembali menarik earphone milik Kamila. "Mila, lo itu
gak bertanggung jawab banget sih. Lo mau toko kita bangkrut. Lo gak kenal sama
Bapak ini?" tanya Dewi. Kamila hanya menggeleng.
"Astaga." Dewi memukul jidatnya. "Dia ini salah
satu orang yang membantu toko ini. Dia itu Dimas Prayuda Ajitama dan dia anak
dari Bapak Ajitama pengusaha berlian yang terkenal," jelas Dewi.
"Trus?" tanya Kamila acuh.
"Tau ah. Pokoknya lo layanin Pak Dimas dengan baik. Gue
tinggal dulu." Dewi pun pergi dengan kekesalan yang masih membara.
Kamila melirik cowok itu sekilas dan berlalu mengambil bunga
yang sudah selesai dirangkainya.
"Nih," ucap Kamila seraya menyodorkan buket bunga.
Dimas mengambilnya tanpa bicara sepatah kata pun. Kami
mengangkat bahunya dan melangkah pergi. Baru saja dua langkah rambut Kamila ada
yang narik.
"Aw ... Njir, sakit ogeb."
"Cewek gila,ikut gue."
"Gue gak mau. Dasar Biawak kutub Utara! Lepasin rambut
gue!"
Dimas tetap saja menarik rambut Kamila hingga keluar toko.
"Dengar ya nama gue itu Dimas. Tolong jangan panggil gue
Biawak."
"Serah gue. Mulut ... mulut gue. Lo pula yang ngatur."
"Heh cewek pendek. Kutu! Gue pites lo mati!"
Kamila mendekatkan dirinya pada Dimas. Dimas menaikkan sebelah
alisnya. "Lo mau apa?" tanya Dimas.
Kamila tak mendengarkan Dimas. Saat ini Wajah Kamila sudah
berada dekat dengan dada Dimas. Ya Tinggi Kamila hanya sedada Dimas. Tiba-tiba
Kamila menggigit dada Dimas dengan kuat sehingga Dimas menjerit. Setelah puas
menggigit Kamila menginjak kaki Dimas dan berlari masuk kedalam toko.
Dimas mengusap dadanya yang sakit. "Awas lo ya! Gue balas
lo! Anjiirr sakit banget tau!"
Kamila hanya tersenyum penuh kemenangan. Sesekali digoyangkannya
bokongnya untuk meledek Dimas.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu Kamila jalani dengan
penuh suka cita. Kamila sangat senang mempunyai teman yang baik padanya. Semua
karyawan ditoko bunga tersebut sangat baik termasuk bos mereka.
Hari ini Kamila ditugaskan mengantar bunga kesalah satu rumah
pelanggan tetap mereka.
Setelah menempuh hampir setengah jam menggunakan sepeda, akhirnya sampai juga.
Setelah menempuh hampir setengah jam menggunakan sepeda, akhirnya sampai juga.
"Ada perlu apa, dek?" tanya satpam rumah tersebut.
"Mau nganterin bunga, Pak," jawab Kamila.
"Oh ya sudah mari masuk." Pak satpam pun membawa
Kamila masuk kedalam rumah tersebut. Tiba-tiba Kamila berhenti tepat didepan
pintu. Kamila sangat terpesona dengan kemewahan rumah itu. Rumah yang besar bsk
istana, taman yang indah.
"Dek, jadi masuk gak?" tanya Pak satpam yang berhasil
membuyarkan lamunan Kamila.
"Eh ... jadi dong, Pak."
Pak satpam kembali membawa Kamila masuk. Didalam Kamila langsung
bertemu dengan wanita paruh baya tapi kelihatan masih cantik dan kulitnya masih
terawat.
"Mila!"
"Eh ... i-ibu," jawab Kamila kaget. Ternyata pemilik
rumah mewah ini wanita yang selalu diajari Kamila merangkai bunga ditoko.
"Ayo sini duduk dulu," ajaknya. Kamila pun langsung
mengindahkan ajakannya.
"Ini rumah ibu?" tanya Kamila.
"Iya Mila. Kenapa?"
"Bagus, Bu besar lagi." Ibu itu hanya tersenyum.
Kamila langsung menyerahkan bunga pesanan ibu tersebut. Saat ingin pulang ibu
itu meminta Kamila mengajarinya merawat bunga dengan baik. Kamila pun
mengiyakannya.
Sampailah mereka disebuah taman dibelakang rumah yang cukup
luas. Kamila kembali terpesona.
"Indah banget," gumamnya.
Kamila melihat seorang pria yang duduk dibangku taman dan sedang
asyik membaca koran.
"Bu. Itu anak ibu ya?" tanya Kamila. Ibu itu langsung
melihat kearah yang ditunjuk oleh Kamila.
"Oh iya. Itu anak saya yang nomer satu."
"Rey!" panggilnya. Sang empunya nama pun menoleh
kearah suara. Oh ternyata ..... Abang ganteng yang mirip aktor idolanya Kamila
'Kim Hyun Joong'. Mata Kamila langsung berbinar melihatnya.
Astaga! Apakah ini yang dinamakan jodoh!
Rey hanya tersenyum dan kembali dengan aktivitasnya. Kamila
masih saja menatap ketampanan Rey.
Ya allah jodohkan aku dengannya!
"Bunda!" panggil seseorang yang berhasil mengagetkan
Kamila.
"Iya sayang, ada apa?"
Perasaan Kamila jadi tak karuan. Kamila seperti tak asing
mendengar suara itu. Cowok itu pun mendekat kearah mereka. Keringat Kamila
semakin bercucuran.
"Bunda. Dasi Dimas dimana? Kok gak ada?" tanyanya
seraya melirik kearah Kamila. Kamila hanya menunduk.
"Kamu mau kemana? Hari ini 'kan libur."
"Ah masa' sih,Bun?"
"Iya sayang."
"Astaga." Kamila menahan tawanya yang sedari tadi
ingin lepas. Dimas masih saja melihat kearah Kamila.
"Mila, ibu minta tolong cek tanaman ibu ya," pintanya.
Mila? Apa dia cewek pendek itu? Hmmm gue kerjain lo!
"Ya udah bun, bunda masuk aja biar Dimas yang ngawasin
dia," ucap Dimas. Ibunya hanya mengangguk dan melangkah masuk kedalam
rumah.
Kamila merasakan tenggorokannya Tiba-tiba sakit.
"Hahaha. Ketemu lagi kita gadis pendek," ucapnya
seraya tertawa jahat.
"Biasa aja kali," ucap Kamila seraya menjauh dari
Dimas. Kamila mulai mengecek tanaman sambil bersenandung ria.
"Aku ingin memukulmu .... Aku ingin meninjumu .... Ingin
menginjak ... Ingin membunuhmu .... Semua dapatku lakukan dengan kantong ajaib
..."
Kamila bersenandung dengan memilin tangkai bunga karena geram.
Dimas yang tersendiri dengan lirik lagu Kamila langsung menarik rambut Kamila.
"Aw ... Sakit!" teriak Kamila.
"Hebat juga nyali lo ya. Coba sekali lagi nyanyi lagu yang
tadi."
"Malas!"
Dimas kembali menarik rambut Kamila dengan kuat hingga Kamila
meringis kesakitan dan air matanya menetes menahan sakit. Retribusi yang
melihat penyiksaan itu. Langsung memeluk Kamila dan menjauhinya dari Dimas.
"Lo apa-apaan sih, ini anak orang tau. Seenaknya aja lo siksa,"
ucap Rey kesal dengan tingkah adiknya itu.
"Belain aja terus cewek gila itu."
"Lo ada masalah apa sama dia, hah?"
"Banyak." Dimas mendekat kearah mereka. "Ikut
gue," ucap Dimas seraya menarik tangan Kamila. Rey dengan cepat menepis
tangan Dimas. Membuat Dimas semakin kesal.
"Lepasin dia Rey, gue masih ada urusan sama dia," ucap
Dimas.
"Gak gue gak bakalan Lepasin dia."
"Mila, abang antara pulang ya?"
Kamila hanya mengangguk dan masih dengan berurai air mata. Masih
saja beberapa langkah mereka berjalan Tiba-tiba tangan Kamila ditarik oleh
Dimas sehingga Kamila lemas dari pegangan Rey.
"Dimas!" teriak Rey.
"Lo gak usah ikut campur," ucap Dim menarik paksa
Kamila. Dimas menuntun Kamila masuk kedalam mobil dan melajukanya dengan
kecepatan sedang. Kamila hanya terdiam dan menatap jalanan lewat kaca mobil.
Kamila tak ingin melihat Dimas.
Tiba-tiba saja Dimas menepikan mobilnya. Kamila yang merasa
mobilnya berhenti langsung saja melihat kekanan dan kiri tapi tak ditemukannya
tempat yang dituju. Kamila menghembuskan nafas berat.
Pasti gue mau disiksa lagi!
Beberapa menit cuma ada keheningan. Kamila tetap melihat dari
arah samping ia tak mau melihat Dimas.
"Gue minta maaf," ucap Dimas memecahkan keheningan
diantara mereka.
"Hm," jawab Kamila.
"Gue minta maaf," ucap Dimas lagi.
Kamila tak menjawab. Entah kenapa ia merasa membenci Dimas. Rasa
sakit masih ia rasakan. Kamila berusaha menahan air matanya. Kamila tak ingin
melihat Dimas selamanya.
Dimas mendekat dan memeluk Kamila tapi dengan sigap Kamila
mendorong Dimas. Kamila membuka pintu mobil dan keluar. Kamila kembali
menangis. Ia tak menyangka Dimas sekasar itu.
Taxi datang tepat waktu Kamila langsung menaiki taxi tersebut
meninggalkan Dimas yang masih terdiam didalam mobil.
"Aarghhhh!" teriak Dimas.
Komentar
Posting Komentar