BINTANG
BINTANG
Pandanganku terpaku pada hamparan bintang-bintang di
langit yang membentuk aliran sungai nan indah. Malam ini di pesisir pantai
hanya ada diriku, ombak yang berdebur
kencang, angin yang membelai wajahku dan pasir putih yang saat ini menjadi alas
ku untuk tidur yang menemaniku. Mungkin sesekali tidur di bawah hamparan
bintang memandang luasnya langit, ditemani semiir angin serta dengan menghirup
aroma garam yang cukup pekat bukanah ide yang buruk. Terkadang didur di luar
ruangan seperti ini memanglah perlu untuk sejenak melupakan urusan dunia nyata
yang sangat melelahkan dan membsankan. Walaupun suasana cukup gelap mengingat
sumber penyinaran di sini hanyalah berasal dari bintang yang bersinar di langit
dengan indahnya.
Matahari merupakan salah satu bintang di langit,
namun kini ia sedang tidur di peraduannya dengan nyaman. Sekarang biarkan
teman-teman nya lah yang menemani kesedirianku. Aku melihat bintang di langit
yang berupa titik-titik kecil yang membentuk pola, meskipun tak tau pasti di
mana letaknya dikaranakan jarak nya yang sangat jauh.
Aku
mencintai bintang....
Suatu perumpamaan tentang cinta yang tak akan pernah
sampai. Namun, kau bisa melihatnya dari kejauhan. Terlihat indah dan
menawan...... namun tak dapat kau gapai. Meskipun engkau menggunakan pesawat tercepat pun engkau akan
tetap meleleh ketika sudah dekat.
Bintang.....
Anggap saja itu namanya. Ya, itu memang namanya.
Representasi kisah cinta yang tak akan kuceritakan kepada siapapun. Kini aku
akan bercerita kepadamu. Ya, walaupun ini merupakan kisah yang rumit
Bintang. Ia adalah seorang anak laki-laki yang
tampan. Anak laki-laki seusia denganku waktu itu yang kutemukan dalam satu regu
paduan sekolah yang kebetulan akan menmplkan tampilannya pada pentas di
sekolah. Memang pada saat intu kami masih lah belia. Kami duduk di bangku
sekolah menengah pertama.
Aku memang tidak pernah merasakan peasaan yang
seperti ini. Yang menurutku sendiri...... terdengar sangat aneh. Ya, aku memang
tidak pernah percaya akan cinta. Apalagi yang namanya cinta pada pandangan
pertama. Itu terdengar menggelikan bagiku. Ya... aku tidak pernah mempercayai
cinta sejak melihat ayahku sedang bersama orang lain selain ibuku. Lalu mereka
punbercerai. Sejak saat itulah aku tidak pernah mengenal cinta.
Aku mulai mengaguminya mulai saat itu. Aku mengagumi
suaranya yang tegas, tubuhnya yang lebih tinggi dariku, ataupun tatapannya yang
tajam. Atau mungkin senyumannya.
Hari berganti bulan dan bulan pun berganti tahun. Selama itu kulewati
dengan terus memandangnya dari kejauhan. Ya, memang aku tidak pernah berbicara
dengannya. Sekedar menyapa pun aku tidak berani. Apalagi sampai berbicara,
apalagi menatap matanya yang tajam itu. Aku pun juga mengetahui namanya dari
teman temanku yang mengagumi nya. Ya. Ia memang sepurna. Ia tergolong siswa
yang mendapat beasiswa saat di sekolah. Hingga tak heran jika banyak siswa yang
mengagumi nya. Tidak sepertiku yang suka tidur dikelas. Bahkan ada gadis yang
terang-terangan menyatakan suka padanya.
Hhh... ia sepertinya memang tak terjangkau oleh
tanganku. Sikap dinginnya kepada semua orang yang membuatku terhambat untuk
mendekatinya.
***
Tahun tahun pun belalu. Kami pun akhirnya sudah
menyelesaikan pendidikan kami di sekolah menengah. Saatnya berpisah...
Aku harus pindah
ke luar kota. Ke tepat di mana aku jauh dari bintang. Ke tempat di mana
aku tidak bisa melihat sinar terangnya
lagi.Sementara ia berada pada sekolah favorit di kota ku sekarang ini.
Sedangkang aku berada di sekolah yang jauh dari sinarnya.
Tahun-tahun pun tak menjawab apapun. Sampai sekarang
ini aku masih terpesona akan keindahannya. Bayangan wajahnya masih terngiang di
fikiranku. Aku masih tetap menyukainya. Kubiarkan hatiku gelap agar aku masih
tetap melihat ia. Aku membiarkan cahaya memasuki hatiku, yaitu kabar dari
kehidupannya. Ya.... walaupun hanya dari layar monitorku. Aku melihat tawanya,
senyum indahnya. Sepertinya ia telah berubah banyak, mengingat ia dulu sangat
jarang tersenyum bahkan hampir tidak pernah. Namun sekarang ia bisa tertawa.
Aku pun ikut tersenyum sendiri melihatnya.
Ternyata setelah ku telusuri lagi media sosialnya,
rupanya aku menemukan apa penyebabnya. Di salah satu fotonya ia terlihat sedang
tertawa berssama seorang gadis yang cantik yang kuyakin adalah kekasihya.
Melihat bahwa status di media sosial nya yang sudah
tidak sendiri, aku pun menyerah. Ia sudah bahagia bersama gadis yang dapat
membuat ia tersenyum kembali. Namun apa yang bisa kulakukan? Aku benar-benar
mencintai nya. Aku tidak bisa beralih. Dan akhirnya aku pun meutuskan untuk
tetap melihatnya. Aku tak peduli pada status nya itu. Aku akan tetap
mencintainya.
***
Tahun-tahun pun berlalu. Mungkin sudah 10 tahun.
Kini aku telah memiliki butik sendiri. Ya, memang dari dulu hobiku adalah
menggambar. Namun aku tidak menyangka bahwa pada akhirnya aku akan menjadi
sesukses ini. Sekarang aku telah mapan. Aku tidak lagi menyusahkan ibuku yang
selama ini sudah membanting tulang untuk membiyayaiku kuliah. Ia sudah bisa
menikmati masa tuanya sekarang.bersa beberapa kucing peliharaanya yang lucu.
Hhh... setidaknya salah satu beban hidupku sudah terangkat.
Soal pasangan? Tentu saja aku tidak punya. Jangan
bercanda. Aku benar-benar belum bisa melupakan bintang.
Mungkin sekarang ia sudah menjadi pria yang sukses.
Mengingat betapa pintar nya ia dulu saat di sekolah. Mungkin ia juga bertambah
tampan. Munkin ia juga sudah punya kekasih. Oh, mungkin juga ia masih bersama
dengan wanita yang kulihat dulu di media sosial nya. Mungkin mereka akan segera
menikah. Mungkin, mungkin, mungkin. Dan masih banyak lagi
kemungkinan-kemungkinan lain yang mampu membuatku tidak fokus untuk melanjutkan
pekerjaaku hari ini.
Sesuatu pun menyadarkanku dari lamunanku tadi. Jika
aku penasaran akan hidupnya, mengapa aku tidak mengapa aku tidak menyelidikinya
sendiri?.
Akhirnya aku pun mencari nama nya lewat madia sosial
ku. Setelah ku lihat status dan fotonya, oh betapa terkejutnya aku ketika
melihat bahwa statusnya yang dulu sudah memiliki kekasih kini tertulis bahwa
saat ini ia adalah pria lajang. Oh betapa senangnya aku. Setelah ku lihat lagi,
ternyata foto saat dirinya bersama gadis itupun sudah dihapus.
ASTAGA,
MUNGKIN INI SATNYA !!!
Aku mencari tempat ia bekerja. Dan lagi-lagi aku pun
dikejutkan oleh sesuatu. Ternyata kami berada pada satu kota yang sama. Ya, aku
memang kembali ke kota kelahiranku begitu aku selesai kuliah. Sedangkan ibuku
menetap di kota di mana masa sekolah menengah ku kuhabiskan. Ya ampun.. aku
benar-benar tak percaya. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi.
Ku cari dimana alamatnya sekarang. Ternyata ia
tinggal tidak jauh dari tempat ku bekerja sekarang. Tapi mengapa aku tak pernah
berjumpa dengannya lagi. Atau mungkin pernah namun aku tidak pernah melihatnya.
Sekarang ia menjadi CEO di perusahaan turun temurun keluarganya. Menggantikan
ayahnya yang sudah tua.
Aku membelalakkan mataku saat melihat wajahnya yang
sekarang. ASTAGA!!! IA BENAR-BENAR TAMPAN. Sosok bintang yang kukagumi berubah
menjadi laki-laki dewasa yang sangat tampan dan berbadan tegap. Bahkan sosoknya
mungkin mampu mengalahkan sosok dewa yunani yang terkenal akan ketampanannya.
Ya ampun, wanita mana yang mampu berpaling dari sosok setampan dirinya.
Akhirnya aku pun mulai berpikir bahwa untuk
mendapatkan sosok setampan itu pastilah membutuhkan usaha yang tidak sedikit.
Aku mungkin harus mengalahkan puluhan wanita atau mungkin ratusan wanita yang
juga menginginkannya.
Mungkin mulai sekarang aku harus mulai membenahi
penampilanku dan menuruti saran ibuku untuk lebih berpenampilan veminin.
Mungkin mulai sekarang aku harus sering pergi ke salon. Ya, mulai sekarang aku
harus mulai lagi terbang untuk menggapainya. Meskipun kemungkinannya kecil
sekali.
***
Bulan-bulan pun berlalu. Aku akhirnya bisa merubah
penampilanku yang sebelumnya seperti seorang kutu buku, menjadi seorang dari
kaangan atas yang berkelas dan veminin.
Minggu ini aku akan bertemu dengannya. Dengan sosok
tampan idamanku. Kami akan bertemu dalam acara reuni sekolah yang akan
diselenggarkan besok malam. Aku sangat senang. Sebentar lagi aku akan bertemu
dengan pangeran berkuda putih ku. Ya, aku sangat yakin ia akan melirikku begitu
kami bertemu. Penampilan ku sudah sangat berubah dari dulu. Dan mengingat
sekarang aku sudah menjadi orang yang sukses di karier ku. Kami sudah berada di
kelas yang sama sekarang.
Ya, aku sangat yakin akan hal itu. Wahhh.... aku
tidak sabar untuk menunggu malam itu tiba
***
Saat-saat yang ditunggu pun telah tiba. Malam ini
adalah malam yang akan menjadi malam terindah di hidupku.
Aku masuk ke dalam ballroom hotel yang sudah dipesan
untuk acara reuni tahun angkatanku. Suasana di dalam benar-benar ramai. Banyak
dari mereka yang membawa pasangan mereka karena memang di usiaku yang sudah
hampir kepala tiga ini memang sudah seharusnya memiliki pasangan hidup.
Astaga.. aku jadi malu datang sendiri seperti orang hilang.
Pandanganku terpaku saat aku menolehkan kepalaku ke
pintu masuk ballroom. Ia datang. Ya ampun. Mataku benar-benar tidak bisa
berkedip melihat sosoknya yang benar-benar menyilaukan. Ia sangat tampan.
Bahkan air liur ku pun spertinya akan menetes melihatnya.
Aku pun mengamatinya. Ia terlihat datang sendiri.
Astaga, sepertinya ini benar-benar adalah malam keberuntunganku. Ia terlihat
sedang mencari teman untuk mengobrol. Selang beberapa saat pun aku
menhampirinya yang terlihat masih sendiri.
Aku berdeham, untuk membersihkan suaraku. “hai”.
Sapaku, benar-benar singkat.
Ia menolehkan kepalanya dan sepertinya terlihat
bingung. Dan tersenyum canggung. “hai miss....”. ia terlihat seperti sedang
berpikir. “aku sepertinya pernah melihatmu di suatu tempat”. Katanya. ya
memang kita satu sekolah dulu. Pikirku
Aku pun tersenyum mendengarnya. “ya kita memang satu
sekolah dulu. Tapi kau sepertinya memang tidak mengeeetahui nya, mengingat kau
sangat tertutup pada teman-temanmu”. Sindirku.
Ia tertawa. Astaga, ia bertambah tampat berkali-kali
lipat saat sedang tersenyum. “oh, benarkah? Ya aku dulu memang seperti itu”.
Lalu ia pun melanjutkan. “baiklah siapa namamu miss?”
“namaku
stela”. Jawabku.
Akhirnya kami pun terlibat perbincangan yang sangat
panjang. Sampai pada akhirnya ia pun mengantarkan ku pulang ke apartemenku. Sepertinya
kali ini aku benar-benar akan mengapainya.
***
Hari berganti bulan. Kami pun menjadi akrab satu
sama lain. Dan selalu menyempatkan untuk bertemu setiap akhir minggu. Ia adalah
pria yang manis ternyata. Dan selama ini tidak ada gangguan dalam hubungan
pertemanan kami. Aku pun menyimpulkan bahwa ia sepertinya memang belum memiliki
kekasih.
Hingga suatu saat aku pun
mengajaknya untuk makan malam bersama.
Aku
sudah menyiapkan diriku untuk ini. Aku akan mengatakannya sekarang. Aku
benar-benar sudah tidak sabar untuk melepaskan masa lajangku ini. Ia terlihat
tampan seperti biasanya. Aku pun juga mencoba untuk berpenampilan sempurna
malam ini. Dengan pergi ke salon untuk perawatang tubuhku selama berjam-jam
Pada awalnya memang terlihat seperti makan malam
biasa. Hingga ketika kami sudah menyelesaikan makan malam kami, aku pun mulai
memberi kode pada pegawai restoran.
Dan tiba-tiba lampu pun mati. Dan lampu menyala di
atas tempat kami duduk. Ia sempat kaget melihat kejadian ini. Namun, aku
tersenyum untuk menenangkannya. Pada akhirna aku tidak bisa menguasai mulutku
sendiri. Dan mulai mengatakan semua yang kurasa selama ini.
Aku memulainya dengan pertemua pertama kami saat ia
bersama regu paduan suara sedang melakukan pentas. Lalu berlanjut pada
perasaanku yang aneh saat melihatnya. Serta saat aku mulai menguntitnya saat ia
sedang membaca di taman dengan beresembunyi di semak-semak. Lalu saat ia sedang
berada di kantin sekolah. Atau pada saat aku mengikutinya saat pulang sekolah,
padahal rumah kami tidak satu arah. Ia terus mendengarkan ku dengan seksama.
Dia adalah pendengar yang baik.
Aku terus bernicara tanpa meperdulikan bisikan
orang-orang yang memperhatikan kami dan
mengaakan bahwa aku peremmpuan yang tak tahu malu. Karena akan mengatakan
perasaanku pada seorang pria.
Sampai pada akhirnya kami sampai pada inti
pembicaraan. “aku menyukaimu sejak dulu. Tidak, mungkin lebih tepatnya aku
mencintaimu. Aku ingin memilikimu. Aku ingin menjadi kekasihmu. Mungkin ini
terlalu cepat untukmu. Namun, aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya lebih
lama lagi”.
Lama ia terdiam. Pengunjung pun sepertinya sudah
muak melihat drama yang sudah kubuat. Namun, pada akhirnya ia pun menjawab.”
Sejujurnya aku selama ini pun sangat nyaman denganmu stela.” Senyumku merekah
mendengarnya. “ namun, maafkan aku stela, aku sudah mempunyai calon istri lain
yan akan mengasuh anakku kelak. Aku dijodohkan oleh orang tuaku. Pernikahan
bisnis memang. Perusahaanku di ambang kehancuran. Orang tuaku terpaksa
menjodohkanku. Demi menyelamatkan perusahaan”. Jelasnya
Aku membeku. Seperti disiram air se secara
tiba-tiba. Air mataku menetes. Aku pun membalas perkataanya dengan emosi yang
sudah mengasaiku
“ tapi selama ini kau bilang kau memang tidak
memiliki kekasih bukan?”.
“ memang. Perjodohan ini memang bar direncanakan dua
minggu yang lalu”.
“ ta..tapi mengapa kau tidak mengatakannya? Kau bisa
menceritakannya padaku”
“ maafkan aku keluargaku memang sengaja
menyembunyikannya. Aku pun terpaksa mengikutinya. Agar tidak terjadi skandal
yang akan menambah maslahku” jelasnya. “sekali lagi maafkan aku stela. Aku
sudah menganggapmu sebagai sahabatku selama ini. Aku tidak bisa menggantikanmu
dengan mendiang istriku dahulu”.
“ tu...tunggu tadi kau bilang kau sudah punya anak
dan sudah menikah? Tapi dengan siapa?” otakku terus berputar memikirkannya.
Lalu aku teringat akan sesuatu. “wanita yang ada di foto media sosialmu itu kah
yang kau maksud mantan istrimu?”
Ia
mengangguk.
“ lalu kemana ia sekarang?”
“ ia sudah tiada” jawabnya
Astaga. Aku menutup mulutku dengan tangan. “astaga
maafkan aku bintang. Aku benar-benar tidak mengetahuinya. Maafkan aku”.
“tak apa. Bukan salahmu”. Ia tersenyum. “mungkin ini
adalah pertemua terkhir kita stela. Lusa aku akan berangkat ke inggris untuk
mengurus perusaancabang di sana. Sekali lagi maafkan aku. Aku ingin mengatakan
bahwa aku menyayangimu sebagai sahabat. Selamt tinggal stela”. Ia pun pergi
meninggalkanku.
Air mataku pun sekali lagi tumpah ke luar mataku.
Aku mengejarnya sebelum ia kembali masuk ke mobil. Aku mencekal tangannya.
“tunggu”. Nafasku terengah-engah. Aku pun tersenyum
pahit dan mengatakan alasanku menahannya. “aku ingin melihat calon istri dan
anakmu nanti saat pernikahan kalian. Jadi jangan lupa undang aku ke pesta
pernikahanmu”. Aku tersenyum. Mencoba mengiklhaskan hal yang sudah ku
tunggu-tunggu seumur hidupkuuntuk bersama orang lain
Ia tersenyum “tentu”. Katanya.
Dan dengan begitu ia pun pergi meninggalkanku
sendirian di pinggir jalan. Mungkin ia ingin mengasihaniku karena, jika ia
mengantarkan aku pulang nanti pasti ia takut akan memberi harapan yang lebih
kepaaku. Jadi ia meninggalkan aku sendiri di sini, di pinggir jalan. Dimana
semua orang menatapku heran. Mengapa seorang gadis menangis sendirian di tepi
jalan? Atau mereka mungkin menganggapku orang gila.
Ya, gila karena pujaan hatinya yang selama ini
dikejarnya meninggakan wanita itu dipinggir jalan dengan keadaan yang
memperinhatinkan. Dengan rambut yang sudah acak-acakan pipi basah karena air
mata dan make up yang luntur.
Singkatnya aku sekarang ini benar-benar hancur
Dan begitulah akhir dari perasaanku. Walaupun pada
akhirnya aku juga akan merasakan patah hati yang mungkin akan sulit untuk
disembuhkan. Atau mungkin tidak akan pernah sembuh. Mengingat aku begitu
menggilainya.
Namun, aku juga bahagia dapat merasakan indahnya
jatuh cinta dan aku juga akan berusaha bahagia
akan pernikahannya nanti. Hhh.. semoga saja perempuan itu dapat merebut
hatinya dan membuat bintang itu semakin terang di angkasa.
***
Bali, 1 tahun kemudian
Sekarang disinilah aku dengan peasaan yang sama.
Ia sudah menikahi wanita itu. Ia sudah memiliki
pengganti untuk mendiang istrinya yang sudah meninggal dan menggangtikan sosok
ibu untuk anaknya. Sedangkan aku? Tentu saja aku tak punya pengganti. Mungkin
aku harus menggelapkan hatiku untuk beberapa tahun lagi agar aku bisa
melupakannya. Atau mungkin aku memang tak akan bisa melupakan keindahannya itu.
Karena, saat ini hanya bintanglah yang dapat mengisi
kegelapan hatiku
Selesai~
Komentar
Posting Komentar