CERPEN - Sahabat Terbaik
Namaku
Adit, dimana rumahku berada di suatu gang kecil dan di gang tersebut hanya
terdapat 6 rumah saja. Dilingkungan ku tersebut aku tidak mempunyai teman
walaupun disana terdapat satu anak yang umurnya sebaya dengan aku. Namanya
Sekti yang dimana umurnya lebih tua satu tahun dari aku dan dia adalah kakak
kelas ku di SD.
Namun
keluarga kami terjadi kesalahpahaman dan mengakibatkan pertikaian, hal tersebut
lah yang mengakibatkan aku tidak dapat berteman dengan sekti dan akupun tidak
mempunyai teman dilingkungan rumahku. Rumahku dan rumah dia bersebrangan
dimana aku sering melihat dia dibalik kaca jendalaku, dimana ia bersama
kakaknya dan keponakannya bermain bersama, terkadang aku merasa iri dengan hal
itu.
Terkadang
pertikaian antara keluargaku dan kelurga dia tercetus, mungkin itulah yang
menimbulkan perasaan benci diantara kita. Suatu ketika aku lewat didepan
rumahnya untuk pergi ke Indomaret dia melihat ku dengan tatap yang sinis dan
juga mengejek ku tetapi aku hanya diam saja karena jika aku membalasnya itu
hanya akan tambah memperkeruh permasalahan dikeluarga kami. Disuatu saat, sekti
bermain layang – layang disamping rumahku dimana disamping rumahku itu adalah jalur kereta api dua arah yang jalur satunya itu sudah tidak berfungsi lagi
sehingga biasa kami gunakan untuk bermain, menjemur barang, dll. Sekti bermain
layang – layang bersama dengan ayahnya dan tidak berlangsung lama sekti
ditinggalkan oleh ayahnya yang mau memberi makan ayam peliharaannya.
Disaat sekti bermain layang – layang sendirian, tiba – tiba layangannya tidak
terkendali dan akhirnya tersangkut di pohon belimbing yang berada di halaman
rumahku yang dikelilingi oleh pagar. Aku melihat kejadian itu, dia nampak sedih
karena layangan tersebut merupakan layangan kesayangannya. Melihat hal itu
akupun menolong dia dan mengambilkan layangan tersebut.
Lalu
layangannya aku berikan lagi kepadanya. Dia tampak senang dan berterima kasih
kepadaku. Dan disaat itulah aku beranikan untuk berbincang-bincang dengannya.
Adit :“Sek, apakah kamu
membuat sendiri layangan ini?”
Sekti :“Iya aku membuat
sendiri dengan bantuan ayahku”
Adit
:”Wah hebat juga ya kamu, ajarin aku
buat layangan dong biar kita nanti bisa bermain bersama, Btw aku belum pernah
main layang – layang nih, jadi sebelum kita buat layang – layangnya sebaiknya aku
ajari dulu cara menerbangkan layang – layang.
Sekti
:”Oke gampang itu, besok ayo kita buat
layang – layang dirumahku lalu habis itu kita bermain bersama. Sekarang ayo
kita terbangkan layang – layang ini sambil nanti kuajari.
Akupun
senang dengan adanya peristiwa itu akupun bisa mulai akrab dan dapat berteman
dengan
Sekti. Dan setelah layang – layang tersebut berhasil kami terbangkan, kami
bermain
layang
– layang sambil bercerita tentang kehidupan kami selama ini dan terkadang
diselingi
oleh canda dan gurau. Keseruan tersebut merupakan awal kisah
persahabat kami.
Keesokan
harinya, yaitu pada hari sabtu pukul 1 siang aku keluar rumah untuk menunggu
Sekti yang akan mengajari aku untuk membuat layang – layang. Tak menunggu lama
Sekti-pun keluar rumah dan akupun diajak Sekti untuk mencari bahan – bahan
untuk membuat layang – layang tersebut. Kami pergi ke Pasar untuk membeli kertas
layang – layang, tali, dan lem. Lalu selanjutnya kami mencari bambu dan
kebetulan dirumahku terdapat bambu bekas untuk membuat kandang kelinci. Setelah
kami mendapatkan semua bahan yang diperlukan, kami-pun pergi kerumah Sekti.
Namun sesampainya didepan rumah Sekti aku ragu untuk masuk karena dibenakku aku
takut kalau dimarahi oleh keluarganya. Tampaknya Sekti mengetahui keragu –
raguanku tersebut dari mimik wajahku dan akhirnya ia meyakinkan aku untuk masuk
kerumahnya. Karena aku ingin berteman dan lebih akrab dengan keluarganya supaya
dapat menyelesaikan pertikaian antara keluarga kami. Akhirnya aku beranikan
untuk masuk kerumahnya.
Pertama
kali aku masuk kerumahnya aku-pun bertemu dengan keluarganya dimana pada saat
itu keluarganya sedang berkumpul untuk menonton TV. Mereka, saat mengetahui aku
cenderung acuh dan cuek. Namun, saat aku dan Sekti mulai membuat layang –
layang Sekti-pun mengajak aku untuk bercanda dan hal itulah yang mencairkan
suasana. Ketika keluarganya Sekti melihat kami yang akrab akhirnya ayahnya
Sekti menawarkan bantuan kepada kami dan mengajakku untuk berbincang – bincang.
Begitu pula dengan Ibunya. Mereka sangat baik kepadaku. Dan akupun mulai sadar
bahwa apa yang selama ini ada dibenakku tak seperti dikenyataan.
Dan setelah itupun aku menjadi sering bermain kerumahnya dan sudah
akrab dengan Sekti dan juga keluarganya. Namun, berbeda dengan Sekti. Ia belum
pernah bermain kerumahku dan belum begitu akrab dengan keluargaku. Dan akhirnya
akupun mengajak ia untuk bermain kerumahku.
Adit :” Ehh Sek, kamu kan belum pernah
kerumahku? Bagaimana kalau besok kita main kerumahku? Nanti kita main
playstation,pokoknya mah seru nanti”
Awalnya Sekti menjawab ajakan ku
tersebut agak lama mungkin ia ragu seperti aku yang dulu ragu untuk bermain
kerumahnya. Lalu aku meyakinkan ia seperti ia meyakinkan aku dulu. Akhirnya Sekti
mau untuk bermain kerumah ku.
Keesokan harinya, pada hari Minggu pukul 8 pagi ia berada disamping
rumahku dan memberikan isyarat untuk memanggilku yaitu dengan bertepuk tangan
sebanyak 2 kali, itu merupakan isyarat yang kami buat untuk memanggil satu sama
lain. Lalu aku pun langsung keluar rumah dan mengajaknya kerumahku yang
kebetulan pada saat itu aku dirumah sendirian karena kedua kakakku sedang ada
kerja kelompok dengan teman sekolahnya, dan Ibuku sedang kepasar. Kami pun
langsung main playstation. Awalnya kami main playstation sangat seru dan senang
namun ditengah kami sedang asik bermain Ibuku pulang. Ia pun agak panik
terlihat dari mimik wajahnya. Namun wajah paniknya tersebut hilang ketika ibuku
berkata.
Ibu :”Ehh Sekti tumben
kamu main kesini? Kalau bisa mah sering – sering main kesini supaya Adit
kerjaannya gak tidur aja.”
Sekti :” Iya bu, besok –
besok saya akan sering main kesini”
Tak
lama kemudian setelah ibuku selesai untuk memasak. Aku pun disruh oleh Ibuku
untuk makan dan Ibuku juga mengajak Sekti untuk makan bersama kami. Ibuku pun
mengajak Sekti untuk berbincang – bincang. Aku melihat wajah takut, panik,
cemas dari Sekti pun sudah hilang. Akupun merasa senang dengan hal itu. Lalu, setelah
kami makan Sekti berpamitan untuk pulang.Walaupuun kami sudah akrab dengan
keluarga kami masing – masing, nampaknya Ibuku dan Ibunya Sekti masih diam –
diaman walaupun sudah tidak terjadi pertikaian. Dan aku dan Sekti pun berencana
untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Akupun mempunyai ide kalau besok
bertepatan dengan hari tironanku. “Tironan” merupakan tradisi jawa untuk
memperingati hari kelahiran disetiap bulannya. Dan aku pun usul untuk tironanku
tersebut dilaksanakan dan akan membagikan makanan ke seluruh tetangga ku tak terkecuali
dengan keluarganya Sekti. Menurutku itu merupakan peristiwa yang tepat untuk
mendamaikan mereka.
Keesokan
harinya, awalnya Ibuku menyuruh aku yang mengantarkan makanannya. Namun, aku
langsung menolak dan malah pergi bermain dengan Sekti, memang hal itu yang aku
rencanakan supaya Ibuku memberikan langsung makanan tersebut kepada ibunya
Sekti sendiri. Disaat ibuku memberikan makanan tersebut ke ibunya Sekti, aku
dan Sekti pun pergi ke rumahnya Sekti untuk mencegah apabila terjadi hal – hal
yang tidak diinginkan. Namun, ketika Ibuku dan ibunya Sekti melihat kami sedang
asik bermain, ternyata mereka merasa senang dengan melihat kami berteman. Lalu
Ibuku memberikan makanan tersebut ke Ibunya Sekti dan setelah itu ibuku
memutuskan tidak langsung pulang, namun ia ingin melihat kami bermain sambil
berbincang- bincang dengan Ibunya Sekti. Mereka tampak sudah saling memaafkan
dan tidak mempermasalahkan apa yang sudah terjadi waktu dulu. Mereka juga
tampak asik berbincang-bincang.
Melihat
hal itu kami sangat senang. Rencana kami berhasil setelah sekian lama keluarga
kami terdapat pertikaian akhirnya pun dapat terselesaikan. Dan setelah kejadian
itu kami hampir setiap hari bermain bersama, pasti ada saja keseruan yang kami
lakukan. Terkadang akupun meminta Sekti untuk mengajarkan atau membantuku mengerjakan PR.
Sekti merupakan anak yang pintar, ia selalu termasuk ranking 3 besar
dikelasnya ia pun pernah mendapatkan juara 3 catur tingkat kabupaten pada tahun
2010. Kami setiap hari berangkat kesekolah bersama dan juga pulangnya, terkadang
salah satu diantara kita menunggu karena jadwal pulang yang berbeda. Kami pun
punya hobi yang sama yaitu bermain sepak bola, dia berposisi sebagai striker
dan aku berposisi sebagai kiper. Kami juga mengikuti SSB di Desa Sumberrejo
yaitu bernama SSB Taruna Sumberrejo. Setiap hari selasa, kamis, dan sabtu sore
kami latihan sepak bola, kami berangkat dengan berbocengan naik sepada pedal
milikku. Jarak rumah kami dengan lapangannya sekitar 5 km.
kami
pun suka bermain tenis meja dimana rumahku dibelakang tepat polsek sumberrejo
dan disana terdapat tenis meja. Dan kamipun bermain tenis meja disana. Awalnya
kami main tenis meja dengan asal-asalan karena kami baru pertama kali dan belum
tahu teknik serta aturan bermain tenis meja sampai akhirnya ada seorang polisi
yang melihat kami dan mengajari kami bermain tenis meja. Dan sampai akhirnya
kami pun bisa bermain tenis meja dan bahkan kami dijadikan lawan sparing oleh
bapak-bapak polisi disana. Terdapat banyak lagi kegiatan yang setiap hari kami
lakukkan. Pasti ada saja keseruan yang kami ciptakan setiap harinya. Kami
selalu bersama bahkan beberapa orang menganggap kami adalah kakak beradik.
Namun
sekitar bulan agustus 2012 itu aku melihat beberapa keanehan atau yang berbeda
dari Sekti. Dia terlihat lemas dan sering tidak nyambung saat diajak berbicara.
Prestasinya pun menurun drastis bahkan nilai UN (ujian nasiaonal) yang ia dapat
berada di ranking 9 dari yang terakhir. Dimana hal itu sangat berkebalikan
dengan Sekti yang ku kenal selama ini. Dia pun juga sekarang jarang untuk
keluar rumah. Beberapa kali aku datang kerumah nya namun dirumahnya telihat
sepi dan pintu rumahnya pun dikunci.
Pada
suatu ketika aku melihat Sekti berada disamping rumahku dibagian jalur kereta
yang sudah tidak berfungsi lagi, memang tempat itu merupakan tempat yang sering
kita gunakan untuk mengobrol karena viewnya sesawahan yang indah. Seketika aku
langsung menjumpai nya dan mengobrol dengannya. Kita mengobrol seperti biasa
dan aku pun bertanya kenapa selama ini dia jarang keluar rumah?. Namun ia tidak
menjawabnya. Akupun melihat tangan dan kakinya yang bergerak-gerak sendiri
seperti bergetar. Memang yang aku tahu tangan Sekti itu sering bergetar-getar
itu dari dulu namun dengan rasio yang ringan, tapi sekarang aku melihatnya
malah bertambah parah apalagi kakinya pun ikut bergetar. Namun aku tak ingin
menanyakan hal itu. Aku lebih ingin menghiburnya.
Pada
awal bulan September, Ibuku melihat Sekti berjalan didepan rumahku dan
tiba-tiba Sekti terjatuh karena tersandung dan mengakibatkan ia mengalami kejang-kejang.
Ibuku pun akhirnya memanggil kakekku dan juga ayahnya sekti dan ia langsung
dibawa ke Rumah Sakit. Mengetahui hal itu akupun bertanya-tanya kepada
ibuku,dan tetangga ku apa yang sebenarnya terjadi terhadap Sekti namun tak ada
yang memberitahukan aku.
Hampir
1 minggu setelah kejadian itu aku diberitahu oleh Ibuku bahwa Sekti dipindah ke
Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Kemudian aku bertanya kepada Ibuku penyakit
apa yang dialami Sekti selama ini. Akhirnya Ibuku memberitahukan ku bahwa Sekti sekarang
diagnosis menderita kanker otak dan sekarang dalam keadaan koma.Aku terkejut
mendengar hal itu dan tanpa kusadari air mataku pun berjatuhan membasahi
pipiku. Aku berbicara kepada Ibuku jika aku ingin sekali untuk menengok Sekti
namun Ibuku Berkata “Sabar nak! Kamu do’a kan saja Sekti supaya cepat dan dan
sembuh, Ibu juga sebenarnya ingin menengoknya tapi tempatnya pun jauh kita
harus naik bis dan ibu juga masih harus bekerja untuk makan kita”. Akupun
memaklumi kondisi saat itu dan hanya dapat mendoakannya setiap saat atas
kesembuhannya.
1
minggu setelah itu aku mendapat kabar baik tentang Sekti bahwa ia sudah
terbangun dari koma dan akan pulang hari
ini. Ibuku berkata bahwa keluarganya tidak sanggup untuk membayar lagi biaya
pengobatannya akhirnya ia menjalani rawat jalan. Setelah sekti sampai dirumah
aku langsung menengoknya namun nampaknya Sekti seperti tidak mengenal
siapa-siapa lagi dengan tatapan yang kosong dan berbaring lemah. Namun aku tak
mau melihatkan raut muka sedih dihadapan dia dan keluarganya. Aku mencoba untuk
berbicara dengannya dan menberikan semangat untuk berjuang melawan penyakitnya
tersebut dan kembali seperti semula. Setiap hari selepas pulang dari sekolah
dan ketika aku ada waktu, aku selalu menemaninya sambil menceritakan kembali
keseruan apa saja yang telah kami lakukan. Walaupun ia masih tidak sadar namun
aku berharap hatinya mendengarkan apa saja yang aku ucapkan kepadanya untuk
mengenang saat kebahagian kita selama berteman.
Keesokan
harinya pada hari senin, awal bulan Oktober 2013 kondisi dari Sekti memburuk
akhirnya ia dibawa kembali ke Rumah Sakit Dr, Soetomo Surabaya. Pada pukul 12
malam aku mendengar kebisingan seperti
keributan akupun terbangun dan lampu dirumahku semua menyala dan aku melihat
ibuku tidak ada dirumah, lalu aku melihat keluar rumah dan dirumah Sekti sudah
ramai dengan orang-orang dan aku hendak keluar rumah untuk melihat apa yang
sebenarnya terjadi namun aku dicegah oleh nenek ku. Lalu aku bertanya kepada
nenekku apa yang sebenarnya terjadi, awalnya nenek tidak mau meberitahukannya
namun aku terus memaksannya dan akhirnya nenek memberitahukan ku bahwa pada pukul
10 malam tadi Sekti dinyatakan sudah meninggal dunia. Mendengar berita tersebut
akupun terkejut dan tidak dapat berkata-kata. Aku tidak diperbolehkan untuk
melihat Sekti secara langsung karena diumurku yang masih kecil dan khawatir
nanti aku “Sawanen”. Semalaman aku terus menangis dan peristiwa itu
merupakan malam paling menyedihkan dalam hidupku.
Keesokan
harinya, rumah Sekti semakin ramai orang - orang yang takziah. Kebetulan
dihaari itu aku ada ujian jadi aku tetap masuk sekolah. Disekolah aku berusaha
menyembunyikan kesedihanku. Namun air mataku tak bisa terbendung ketika
mengingat kenangan yang terjadi disekolah ini bersama Sekti. Selepas pulang
sekolah aku diajak ibuku untuk kerumah Sekti tapi Ibuku meminta aku untuk tidak
menangis karena itu bisa membuat keluarga Sekti tambah sedih. Setelah sampai
kerumahnya Ibunya Sekti langsung menjumpai aku lalu memelukku sambil menangis
akupun hanya bisa diam saja. Dan beliau juga berkata aku sangatlah mirip dengan
Sekti dan meminta aku untuk tidak pernah melupakannya dan terus mendoakannya.
Lalu kami pergi ke tempat di makamkan-nya Sekti kami pun berdoa bersama.
Sebulan
kemudian keluarga kami pindah rumah di Desa Sumuragung karena rumah kami
terkena pelebraran jalur kereta api . Dilingkungan ku yang baru tersebut disana
terdapat banyak anak yang umurnya sebaya dengan aku. Aku mempunyai banyak teman
disana. Namun aku akan selalu mengingat Sekti sampai kapan pun dengan segala
perjuangan dan cerita keseruan yang telah kami lakukan. Andaikan waktu dapat
berputar aku ingin kembali kemasa-masa kami masih dapat bermain bersama. Dan ia
merupakan Sahabat terbaik sampai saat ini.
Nama : Aditya Putra Atmana
NIM : 1914120306
Komentar
Posting Komentar