CERPEN : Bulan Sabit Gompal
Bulan Sabit Gompal
“HANA!!”
teriakku yang berlari mendekati Hana yang berjalan menuju portal.
“Kenapa kamu
meninggalkan aku.Ini hari pertama sekolah di Akademi Alam Langit,kau tak boleh
sendirian.” Ujarku.
Sekolah kami
resmi ditutup karena penduduk Tanah kalah saat pertarungan mencari Ikan emas
bersirip emas.Dahulu,semua manusia berasal dan tinggal ditanah.Rasa ingin tahu
muncul pada manusia pribumi,apakah masih ada kehidupan dilangit.Akhirnya
beberapa dari nenek moyang berpikir bagaimana caranya mereka menuju ke
langit.Hingga akhirnya ada penemuan bubuk pasir berkilau emas yang bisa membuka
portal menuju ke langit.Betapa terkejutnya seluruh umat manusia ada alam yang
sangat indah dibalik portal tersebut.Beberapa dari kami akhirnya memilih untuk
pindah ke Alam Langit.
Namun penemuan Alam Langit itu
menjadi sejarah buruk bagi penduduk tanah.Orang-orang yang pindah ke Alam
Langit dianggap berkhianat pada nenek moyang kami.Kami penduduk Tanah selalu
diajak penduduk Alam Langit untuk tinggal bersama.Namun kami menolaknya karena
itu dianggap mengkhianati nenek moyang.Hingga kami menyepakati untuk mengadakan
petarungan mencari Ikan Emas bersirip emas disetiap lima tahun sekali.Ikan itu
dianggap oleh penduduk Tanah maupun penduduk Alam Langit adalah dewa kehidupan.Kami
harus memenangkan sayembara yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.Ikan Emas
itu harus kami temukan singgasana Ikan
Emas yang selalu berpindah-pindah.Siapa yang menang yang berkuasa,yang bebas
mau melakukan apa saja terhadap penduduk yang kalah,namun tidak boleh ada
tumpah darah.
“Selamat pagi,anak-anak.Sekolah
Bumi Tanah sudah resmi ditutup oleh pemerintah alam langit.Untuk itu,anak-anak
Tanah sekolah disini.Nah,pekenalkan nama kalian anak-anak.” Ujar salah satu
guru disekolah ini.kami berempat memperkenalkan diri.Aku,Hana,Key,dan Ley
memang seumuran.Karena itu kami sekelas sekarang.
“Namaku Hana.”
“Namaku Dam,”
“AW!!BAU
CACING NIH!” teriak salah satu anak dikelas ini.
“HAHAHAHAH”
semua orang tertawa.
“ HAHAHA!Apa
kau tidak sadar kalau bau keringatmu lebih buruk dibanding bau babi sekalipun?”
“DAM!”
tegas Hana.Aku tak peduli,”Biar saja,mereka yang memulai.”
***
Sore
hari,dirumah Hana.
“Han,kau mau
tau apa yang sedang kupikirkan?” Hana menggeleng.Aku menghela nafas,”Kau
memang tak pernah tau apa yang ku pikirkan,Han.”
“Mana aku tau
kalau kamu tidak memberitahuku,Dam.Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Sampai kapan
Alam Langit dan Bumi Tanah harus mengadakan petarungan lima tahun sekali macam
itu,Han.Aku yang melihatnya saja jenuh.Rasanya aku ingin sekali berteman dengan
penduduk Alam Langit.Kau tahu,kalau boleh jujur sebenarnya penduduk Alam Langit
lebih rendah hati,tapi tidak berlaku untuk anak-anak yang satu kelas dengan
kita.”
“tapi itu kan
ga semua teman sekelas kita seperti itu,Dam.” tegur Hana.
“Kau mau ikut
rencanaku,Han.Kita temui Paman Av.” Paman Av adalah ketua suku di Bumi
Tanah.Kami sangat menghormati orang itu.Bukan hanya itu,kami percaya kalau
Paman Av adalah Titisan Dewa Tanah.Ia bisa menyembuhkan rasa sakit dengan hanya
sekali usap,mempunyai kekuatan sihir yang menajubkan.
“Aku ikut
saja denganmu,Dam.Ayo!”
Seketika mataku
terbuka lebar,bersemangat.Kami bergegas menuju ke rumah Paman Av.
***
“Wahai,kalian
baru saja menjadi murid Akademi Alam Langit lima hari yang lalu,tapi lihatlah,kalian
sudah mencari tau tentang Alam Langit.” Cetus Paman Av menjawab
pertanyaanku tentang Alam Langit.”Tapi itu tidak masalah,kalian berhak untuk
tahu.”
Kemudian Paman Av menceritakan
bagaimana Alam Langit,tentang mereka yang membuat penduduk Bumi Tanah
kecewa.Awalnya,penduduk Bumi Tanah tidak keberatan kalau mereka dan
saudara,kerabat,dan sahabat harus terpisah.Lagipula,mereka masih bisa
berkunjung satu sama lain lewat bubuk pasir putih berkilau emas.Penduduk Bumi
Tanah punya satu permintaan untuk penduduk Alam Langit.Meminta untuk bilang ke
Titisan Dewa Langit untuk menurunkan hujan setelah penduduk Bumi Tanah menanam
tanaman mereka.Penduduk Alam langit setuju.
Namun,suatu hari,hujan turun
semalaman.Ini bukanlah hujan biasa.hujan terus turun dengan derasnya.Banjir
dimana-mana.Rumah-rumah tenggelam,kami tak bisa membuka portal untuk menuju
Alam Langit untuk berlindung karena bubuk pasir putih berkilau emas telah
lenyap disapu banjir.Seluruh rakyat Bumi Tanah marah dengan penduduk Alam
Langit.
“Tapi,bukankah
yang bisa menurunkan hujan itu Dewa Langit,Paman Av?” cetusku.
“Wahai,kau
menyalahkan Dewa?Dewa itu melakukan semua yang kau pinta.Dewa tak pernah salah.”
Jawab Paman Av tegas.”Sudah gelap,aku sudah selesai menjawab.Kalian bisa
tinggalkan tempat ini.”
***
“Apa kau tahu
dimana Titisan Dewa Langit,Aim?” Aim adalah teman sekelasku yang keturunan
Alam Langit.Dia sangat baik sekali.Waktu hari pertam kami masuk di Akademi Alam
Langit,hanya dia yang bersedia untuk menjadi teman sebangku.Sejak saat itu,kami
berteman baik.
“Jelas aku
tahu,Dam.Tempatnya ada diujung pelangi.Ayo kita kesana.”
Aku bergegas mencari Hana dan pergi
menuju ke tempat Titisan Dewa Langit.Lihatlah,indah sekali pemandangan Alam
Langit.Ada danau yang menyilaukan cahaya matahari.Matahari indah sekali diwaktu
senja.Matahari yang jaraknya lebih dekat,terlihat bundar besar dan sekit lebih
merah warnanya.Tapi Alam Langit punya tameng pelindung untuk melindungi dari
teriknya matahari hingga teriknya sama dengan yang kami rasakan di Bumi Tanah.
Belum usai kami terkesima dengan
pemandangan ini,ada pelangi didekat danau ini.Betapa besarnya pelangi ini.Warna
mejikuhibiniu yang khas dan disalah satu ujung pelangi ada rumah yang
indah sekali.”Dam,Han,ini rumah Paman Rei.”
“Hai Paman
Rei,maafkan aku yang mengganggumu.Ada dua temanku dari Bumi Tanah yang ingin
bertemu dengan Paman.”
Aku dan Hana
benar-benar takjub dengan Paman Rei.Posturnya gagah sekali,Rambutnya putih
namun wajahnya masih muda sekali seperti orang berumur 29 tahun.
“Masuklah dan
duduk dikursi anak-anak.Akhirya tamuku dari anak-anak pribumi.Kalian pasti
ingin tahu kenapa terjadi banjir di Bumi Tanah ratusan tahun lalu,bukan?”
Sontak kami
berdua terheran bagaimana Paman Rei bisa tahu,padahal kami beum memberitahu.”Jangan
heran,itulah kelebihan Paman Rei.” Ucap Aim.
“Jadi,begitu
ya kata Av.” Ucap Paman Rei setelah mendengarkan kami bercerita.
“Dahulu,memang
ada hujan lebat yang turun di Bumi Tanah dan menenggelamkannya.Ah,kami dianggap
berkhianat dengan Dewa Tanah,tidak setia.Tapi itu kliru,kami tetap menjaga ada
istiadat.Bercocok tanam tanpa merusak alam,menjaga kelestarian alam,menjaga
agar langit dan bumi selalu bekerja sama,itu yang kami lakukan.Aku baru tahu
tentang kekecewaan penduduk Bumi Tanah tentang banjir itu.Terimakasih anak-anak.”
Lenggang,kami
semuaterdiam setelah mendengarkan cerita dari Paman Rei,”Lalu,apakah Paman
Rei ada rencana?” tanya Hana.
***
“Tapi memang
seperti itu Paman Av,” ujarku.Aku memilih untuk langsung bercerita pada
Paman Av sepulang dari rumah Paman Rei.
“Dan kau
lebih percaya orang khianat itu?Bulan sabit gompal,betapa kecewanya aku saat
ini.Setelah menerima kenyataan kalau anak-anakku harus sekolah di Alam
Langit,sekarang aku ditambah kecewa kalau kalian sudah mendapat pengaruh untuk
berkhianat pada Dewa Tanah,Wahai.” Tegas Paman Av.
“Tidak
Paman,kami tidak berkhianat,kami hanya ingin kita hidup damai dengan Alam
Langit.”
BUM! belum selesai Hana bicara,namun
Paman Av sudah dikuasai amarah,dia sontak menirim pukulan berdetum pada Hana.”Jangan
buat aku mengutukmu jadi batu gadis kecil,dengarkan aku,Bumi Tanah dan Alam
Langit tidak akan pernah bersatu!” tegas Paman Av.
“Hei,Av.Kau
kenapa keberatan dengan niat bocah ini.Bocah ini tidak salah Av,kau yang selama
ini tak membuka hati untuk menerima penjelasan dari kami.”
“KURANG
AJAR!Siapa yang mengundangmu kemari,Aku tidak sudi melihatmu menginjakkan kaki
dirumahku! "
Plup!Paman Rei
membungkus Paman Av dengan selaput transparan,”Av,maafkan aku,aku terpaksa
melakukan ini agar kau mau mendengarkanku.Kenapa kau tak menceritakan semuanya ke
anak-anak ini Av,kau hanya mencerirtakan sebagian.”
Kami terkejut
melihat seluruh penduduk Bumi Tanah datang,membawa bambu runcing,mungkin ingin
menyerang Paman Rei.
Plup!Paman Rei juga
membungkus seluruh penduduk Bumi Tanah dengan selaput transparan,terkunci
didalamnya.
“Av,Kau tak
menceritakan pada penduduk Bumi Tanah termasuk pada kedua anak ini,kau yang
khianat Av.Dewa memerintahkan untuk damai.Tapi lihat kau sekarang,semenjak
hujan lebat itu,kau benar-benar mengunci hatimu.Asal kalian tahu,kami tak
memberitahu kalian tentang kebakaran hutan di Alam Langit saat itu.Kau tahu
kan,Av kalau Dewa Api adalah Dewa yang paling keras kepala,suka bertindak
semaunya.Itu yang dilakukan Dewa Api pada Alam Langit.Dewa Langit langsung saja
mengirim hujan untuk memadamkan api.Itulah sebabnya hujan turun di Bumi
Tanah.Itu yang selama ini ingin ku katakan,Av.”
Plup! Entah bagaimana Paman Av berhasil
membuka selaput transparan itu.”Lantas,mengapa kau setuju dengan petarungan
mencari ikan emas bersirip emas itu,Rei?” tanya Paman Av.
“Bukankah
percuma aku menolaknya,Av?Bukankah jika aku menolak kau dan rakyatmu malah
kecewa?”
Lenggang,semua
terdiam.Paman Av berjalan mendekati Paman Rei,jarak mereka sekarang hanya satu
jengkal saja.
“Hatiku
sangat keras,Rei,maafkan aku.”
Kami semua
tersenyum mendengarnya,plup! selaput transparan yang menyelimuti seluruh rakyat
Bumi Tanah terbuka.
Setelah itu,kami penduduk Bumi Tanah
dan Alam Langit hidup damai.Tak ada lagi yang dianggap berkhianat,tak ada lagi
petarungan mencari ikan emas bersirip emas.
Lutfia Rahma w
191420360
Komentar
Posting Komentar