CERPEN: DENDAM KEMISKINAN


          Di ujung jalan yang gelap itu, terlihat pria sekiran usia 30 tahun  memboyong gerobak tua khas pedagang kaki lima berwarna kuning bergambarkan tokoh kartun spons dengan celana kotaknya. Lengkap dengan lampu penerangan warna kuning diujung depan atap gerobaknya. Menyusuri jalanan sempit khas gang di perkotaan. Tepat pukul 8 malam, gerobak itu mangkal di pertigaan antara gang VI- A dan jalan utama gang VI. Nasi goreng Bang Bob, begitulah pembeli menyebutnya. Nasi goreng bumbu rempah dan nasi goreng mawut, kedua menu itulah menu andalan yang digemari  konsumen diantara olahan menu mie, nasi dan sayur yang disajikan. Selain porsinya banyak, harga yang dipatok pun aman untuk konsumen yang rata- rata adalah mahasiswa perantau dari berbagai daerah yang tinggal di kost maupun kontrakan dekat dengan kampus- kampus yang ada di kota itu. Tak perlu menggunakan sejenis klakson terompet yang biasa digunakan penjual- penjual lainnya untuk menarik pembeli, cukup dengan suara abrakan wajan penggorengan yang dipukul- pukul menggunakan spatula,  mampu membuat pembeli datang mengantre. Bang Bob dengan tampilan khasnya saat berjualan selalu memakai kaos polo gelap bergaris, celana panjang bahan hitam agak lusuh, lengkap dengan kain lap yang disampirkan di pundak kanannya. Saat semakin malam, wajahnya terlihat semakin mengkilap karena terlalu lama berdiri di depan wajan penggorengan.
***
"Bang, mawut enam bungkus kayak biasanya" pesanku langsung yang masih duduk di hengki, motor vespa biru butut kesayanganku. Memang nasi goreng ini adalah langgannku beserta lima penghuni kontrakan yang kutinggali selama tiga tahun menempuh kuliah di kota ini.
"Siap, met. Tunggu ya. Antri dulu agak lama. Ini mau nganterin pesenannya Bu Egi, ada banyak tamu di rumahnya" jawab Bang Bob.
“Santai, Bang. Toh juga masih belom malem banget. Memang Bu Enno gaikut nemenin jualan, Bang?” tanyaku sambil memarkirkan hengki, kemudian duduk di kursi plastik yang disediakan sambil menenteng helm bogo tanpa kaca dengan tali yang agaknya sudah tak aman lagi.
“Enggak. Lagi banyak order jahitan. Maklum, musim karnaval tujuhbelasan, pada rame pesen kostum yang aneh- aneh”  jawabnya sambil menumis bumbu yang digunakan. Pembicaraan pun mengalir begitu saja. Memang dasarnya Bang Bob ini orang yang ramah dan pekerja keras. Itu yang kutangkap setelah tiga tahun menjadi pembeli langganannya. Dibalik itu, Bang Bob sering bercerita bahwa ia sering diejek oleh tetangga- tetangganya. Mereka menghina karena Bang Bob dinilai terlalu miskin dan tidak cocok untuk tinggal di kontrakan yang biaya sewa per bulannya tergolong cukup tinggi untuk ukuran pedagang kaki lima. Maklum, lingkungan kontrakan Bang Bob mayoritas dihuni oleh pegawai kantoran yang gaji per bulannya tembus diatas tujuh juta per bulan. Ejekan- ejekan itu tak pernah dihiraukan oleh Bang Bob. Justru itulah kata- kata cambukan untuk Bang Bob supaya berusaha lagi dan mampu membuktikan kepada orang- orang yang mengejeknya. Tiga tahun yang lalu, Bang Bob bersama isteri dan dua anaknya datang ke kota ini tanpa mempunyai modal yang cukup untuk berdagang. Sehingga mengharuskan menjual satu- satunya motor bebek tua yang ia bawa dari kampung untuk membeli gerobak dan modal dagangannya. Awalnya, Bang Bob merintis usahanya dengan berjualan aneka macam frozen food yang dijual di depan pagar sekolah dasar pada pagi hari. Dan menjajakan dagangannya dengan berkeliling di gang- gang hingga senja tiba. Malamnya, setelah maghrib, Bang Bob harus menjajakan nasi goreng dan segala jenis olahnnya hingga habis. Bahkan pernah pada suatu hari, dagangan bang Bob sama sekali tiada pembeli. Sedangkan Bu Enno, setiap subuhnya harus berangkat ke pasar untuk belanja aneka macam sayuran dan bumbu dapur yang nantinya akan dijual kembali di toko kelontong yang dibangun di teras rumahnya. Dan harus membuat olahan jajanan kantin anak sekolah yang nantinya akan dibawa anak sulungnya untuk dititipkan ke panjaga kantin SD tempatnya sekolah. Semakin berjalannya waktu, uang yang terkumpul dibelikan mesin jahit untuk Bu Enno membuka peluang usahanya. Itulah cerita perjalanan hidup Bang Bob yang dibaginya denganku.
***
Setelah bertahun- tahun Bang Bob berjualan keliling, akhirnya beliau mampu menyewa sepetak tanah ukuran 2x2 dan memperluas lapangan usahanya di embong depan gang VI. Dan aku masih tetap menjadi pembeli setianya. Maklum gaji sebagai karyawan baru belum cukup untuk menikmati makanan setiap hari di restoran cepat saji berwarna merah- kuning. Belum lagi harus membayar sewa kontrakan, listrik dan air PDAM setiap bulannya. Jadi, nasi goreng Bang Bob masih menjadi pilihan menu makan malamku. Semakin lama, usahanya semakin dikenal banyak orang dan semakin ramai. Kemudian, yang kutahu, disamping warung nasi goreng tersebut, disewanya tempat lagi untuk Bu Enno menyalurkan bakat menjahit dan membuat baju karangannya sendiri, yaitu sebuah toko baju kecil- kecilan yang dirintisnya. Hasil jahitan Bu Enno memang tergolong rapi dan halus, sehingga tidak memungkiri bahwa usaha toko baju itu cukup berkembang dengan cepat.  Seiring berjalannya waktu, kehidupan Bang Bob pun berubah drastis. Ia mulai mengembangkan usahanya. Ia mulai membuka rumah makan dengan macam- macam menu, tidak hanya olahan nasi dan mie saja, namun segala jenis seafood dan segala masakan mancanegara turut disajikan di daftar menu rumah makannya. Bukan lagi nasi goreng yang dijualkan keliling di sekitaran gang VI. Namun, rumah makan besar dengan macam- macam menu lezat yang disajikan dan desain interior yang memukau. Semakin besar usaha Bang Bob, kini ia tak perlu terjun ke restorannya untuk meladeni pesanan- pesanan. Ia menyerahkan seluruh kepercayaannya kepada juru masak dan pegawai- pegawainya yang mencapai tiga puluhan di setiap cabang rumah makannya.
Kini, Bang Bob pun menyewa kontrakan rumah di kawasan elit di kota ini. Tak perlu ia mendengar ejekan tetangga- tetangganya. Rumah yang agaknya tergolong mewah itu dilengkapi dengan dua buah mobil yang berjejer rapi di depan rumahnya. Belum lagi lima buah motor yang terparkir di garasi rumahnya. Peralatan- peralatan di dalam rumahnya pun bukan main. Sebagian besar perabotnya merk impor. Begitupun baju yang dikenakan oleh seisi rumahnya bukan hanya baju polo dan celana kain lusuh yang setiap harinya dipakai. Tapi, sejenis baju- baju merk impor berkualitas internasional. Penampilannya pun semakin necis dan berkelas, tidak lagi terlihat lusuh dan serampangan. Memang, kehidupan Bang Bob sekeluarga sangat berubah seratus delapan puluh derajat dari beberapa tahun yang lalu. Tak perlu bangun pagi untuk belanja sayuran, tak perlu lelah untuk mendorong gerobak kuning miliknya dan menunggu pembeli datang menghampiri. Kini, ia hanya perlu berdiam diri di rumah dan sesekali mengecek laporan keuangan dari setiap cabang rumah makannya. Seringkali, Bang Bob menghabiskan waktu dengan pergi pelesir ke berbagai daerah hanya untuk menikmati waktu santai nya. Buruknya, setiap malam ia sering menghabiskan uangnya dengan mabuk- mabukan, pergi ke casino bahkan menyewa wanita sewaan untuk dinikmati. Hal yang sama sekali tak pernah ia lakukan sebelumnya saat masih menjadi pedagang keliling. Bu Enno, istrinya yang setiap harinya memiliki kegiatan baru yakni selalu ngerumpi di cafe ternama di kota ini dengan teman- teman sosialitanya dan berbelanja barang- barang branded tanpa memikirkan fungsi dan kegunaannya.
 Begitupun kedua anaknya yang semakin tumbuh menajadi remaja gaul metropolitan. Setiap harinya selalu hangout dengan teman- teman sekolahnya. Menghabiskan waktu di bar untuk mabuk-mabukan sambil menikmati dentuman musik yang sangat kencang.  Keharmonisan rumah tangga Bang Bob pun sudah tidak terlihat seperti saat masih menjadi pedagang kaki lima. Di rumah yang besar itu, tak ada lagi candaan di depan TV ruang keluarga yang tercipta saat malam semakin larut. Mereka sibuk dengan urusannya masing- masing. Bahkan sang anak pun sering tak berada di rumah. Mereka lebih menyukai dunia luar yang bebas dan tak terbatas.
***
Seiring keseharian yang dilakukan, semakin menurun pula kualitas pelayanan dan rasa makanan di rumah makan Bang Bob. Kurangnya komunikasi dan pengawasan yang terjadi menyebabkan para pegawai murka. Selain itu, anggaran gaji yang semestinya diberikan kepada para pegawai setiap bulannya dipakai untuk memenuhi kebutuhan dan hasrat sehari- hari keluarga Bang Bob, membuat para pegawai bertindak seenaknya sendiri dan mencurangi Bang Bob.  Sehingga, membuat usaha rumah makan Bang Bob menurun dan citra rumah makan milik Bang Bob pun semakin memburuk. Untuk tetap mendapat pemasukan untuk bisnis dan kebutuhan mewahnya, Bang Bob meminjam uang di bank dengan jaminan properti yang dimiliknya. Mulai dari sepeda motor hingga sertifikat tanah. Semakin hari, transaksi peminjaman uang semakin sering dilakukan. Begitupula properti yang dimilikinya sebagai jaminan semakin berkurang. Namun, uang pinjaman yang sedemikian banyaknya tidak dimanfaatkan dengan baik. Ia dan keluarganya tetap saja melakukan hal- hal yang buruk dan merugikan. Tidak sadar kondisi yang dialaminya, bank mengambil seluruh properti yang digunakan sebagai jaminan peminjaman, karena tidak mampu untuk melunasi utangnya.
Akibat ketamakan dan rasa dendam terhadap kemiskinan yang pernah dialaminya, keluarga Bang Bob merugi dan bisnis rumah makan yang dijalaninya gulung tikar. Kini, ia kembali merintis usahanya seperti awal saat ia menjadi pedagang nasi goreng keliling dengan gerobak kuning. J

(***)



Komentar

Postingan Populer