CERPEN : Jadi Untuk Lebih

Pagi yang cerah, aku bergegas keluar rumah sambil mendorong sepedaku. Aku tidak ingin terlambat. Tentu saja, karena ini hari pertamaku dibangku SMA, jadi aku tidak boleh sampai terlambat. Kukayuh sepedaku dengan semangat menuju sekolah baruku.  Setelah selesai tentang semua pemberitahuan, aku menuju kelas dan mulai berkenalan dengan teman-teman baruku, dengan perkenalan yang baru itu, aku merasa aneh saat tiba-tiba mereka membuatku menjadi ketua di kelas ini. Semua terasa menyenangkan. Aku menjalani hari-hari seperti biasa dengan suasana yang baru. Ini terasa menyenangkan bagiku.

Hari ini, aku harus pulang terakhir karena aku harus mengumpulkan tugas ke guruku. Setelah aku pergi kembali ke kelas untuk mengecek kelas, aku bergegas ke parkiran dan segera pulang. Keadaan di sekolah sudah cukup sepi, sebagian besar siswa sudah pulang dari tadi. Ya, memang aku pulang agak akhir karena harus menunggu teman yang belum selesai dan mencari ruangan guruku. Pantas saja disini cukup sepi.

Saat tiba di parkiran yang berada di dekat lapangan, tiba-tiba aku mendengar suara yang sepertinya kukenal, "Aku mohon, biarkan aku pulang, aku sudah memberi kalian semua uangku. Tolong biarkan aku lewat." katanya sambil memohon. Aku mendekati mereka perlahan, dan setelah kulihat ternyata itu teman sekelasku. Aku sangat terkejut, karena dia anak yang cukup ramai dan sangat ceria di kelas. Bisa dibilang dia seperti moodbooster di kelas. Aku berfikir keras bagaimana cara menolongnya. Aku cukup bagus dalam bela diri, namun jika aku menggunakannya, masalah ini akan makin panjang walau aku berhasil mengalahkan mereka. Akhirnya aku punya ide, aku segera mengambil sepedaku dan mengayuhnya dengan kencang ke arah mereka, "Awas, awas, minggir...!!!!" kataku sambil berteriak kencang. Sontak mereka langsung terkejut dan saling menjauh. Aku lewat tepat didepan mereka dan dengan sengaja menabrakkan sepedaku ke pohon, namun aku siasati dengan sedikit mengerem. Aku rasa mereka tidak tahu karena jarak mereka dengan pohon itu cukup jauh. Setelah itu, aku segera menuju kearah merekasambil sedikit berlari. "Ah, maaf, maafkan aku. Aku terlalu cepat mengayuhnya sampai lupa kalau remnya sedikit bermasalah. Hehe..." ucapkusambil cengingisan. "Lho, kamu disini rupanya. Dari tadi aku nyari kamu tahu. Katanya kamu mau bantuin aku buat tanya tugas ke siapa...aduh lupa namanya, ah, pak Ari. Mumpung tadi aku masih lihat orangnya." kataku sambil membuat diriku sedikit terlihat bodoh. "Eh, kalian juga mau ikut? Biar sekalian." ujarku. Namun, mereka hanya terdiam sambil sedikit gugup. Mereka seumuran kami, tapi dari kelas lain. Gugup, mungkin karena salah satu dari mereka tahu bahwa aku pandai karate dan sudah berada ditingkat yang tinggi, sedangkan dia juga salah satu murid karate, namun tingkatnya sangat jauh dariku. Darimana aku tahu? Tentu saja aku tahu, karena sering guruku karate memintaku untuk mengajari murid tingkat bawah. Dan aku jarang melihatnya ikut latihan. "Wah, uang kalian terlihat banyak. Tapi sepertinya aku pernah melihat dompet itu." . Mereka semakin gugup dan mulai takut. "Ah... ini... ini..." mereka bicara sambil terbata-bata. "Apa?" tanyaku sambil memasang wajah penasaran, "Coba kulihat dompetnya.", "Benar kan, ini dompetnya. Yapi, kenapa kalian membawanya?" Tanyaku sambil terus memasang tampang bodoh sambil tersenyum. "Ah, tidak. Ta...tadi itu...hmmm...kami hanya...hmmm..."katanya terbata-bata. "Oh....ya sudah kalau begitu berikan." kataku memotong kata-katanya. Mungkin ekspresiku menjadi sedikit marah, kesal karena mereka, tanpa ragu mereka langsung memberikannya padaku. "Kenapa wajah kalian seperti itu? Kalian kan tidak melakukan kesalahan. lyakan?" kataku sambil tertawa dan menepuk bahu salah satu dari mereka. "Oh ya, apa kalian mau ikut kami?",ucapku sambil berpura-pura. "Ah, tidak. Ada sesuatu yang harus kami lakukan. Jadi, kami harus pergi sekarang." katanya dengan gugup. "Kalian yakin, tidak mau ikut?", "Padahal setelah bertanya tentang tugas, kami akan latihan bersama, lho." kataku sambil tersenyum lebar. "Tidak, terimakasih banyak. Kami harus pergi." setelah itu mereka segera pergi sambil mempercepat langkah.

Setelah mereka pergi, aku langsung bertanya kepada temanku, "Kamu baik-baik saja.? Apa yang terjadi sampai mereka melakukan itu padamu?" tanyaku. "Aku tidak tahu, tadi aku tidak sengaja tersandung dan menyenggol mereka sedikit.", "Tapi, terimakasih banyak telah membantuku." katanya sambil tersenyum. "Ya, sama-sama. Ini dompet dan uangmu.". "Terimakasih banyak." katanya masih mengucapkan terima kasih. "Ohya, bagaimana sepedamu? Apakah ada yang rusak?" tanyanya mulai khawatir. "Ah, tidak apa-apa. Itu hanya siasatku saja."jawabku. "Lain kali berhati-hatilah. Dan pulang saat sedang ramai." kataku menasehatinya. "Siap, pak ketua!" ucapnya lantang dengan suara beratnya yang khas. Sedangkan aku hanya tertawa mendengarnya.

Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, dia semakin dekat denganku. Dia juga.sering membantuku. Bahkan teman-teman bilang dia seperti seorang asistenku. Lama-kelamaan kami semakin dekat hingga bersahabat baik. Dan dia juga terlihat semakin.ceria.

Suatu hari, aku melihatnya duduk sendiri dilapangan belakang sambil termenung. Dia terlihat sedih. Tanpa basa-basi aku langsung menghampirinya, aku khawatir dia diganggu lagi oleh anak-anak nakal itu. Saat aku menghampirinya, raut wajah sedihnya semakin terlihat. Aku bertanya apa yang terjadi. Namun, dia menjawab bukan tentang anak-anak nakal itu. Tapi sesuatu beban yang mengganjal dihatinya selama ini. "Aku rasa, kamu cocok sekali jika jadi TNI.", "Kamu tinggi, kuat, jago karate, pintar, baik, dan juga keren." katanya dengan nada sedih. Itu membuatku heran. "Andai aku bisa sepertimu, pasti akan lebih mudah.", "Dari SMP aku sangat ingin jadi TNI, tapi kau tahu aku tidak terlalu kuat, sedikit penakut, dan juga tinggiku masih kurang beberapa cm. , "Padahal aku juga sudah berusaha keras". "Andaikan bisa, aku akan menjaga negara ini dengan kemampuanku. Menjadi seorang yang kuat, dan melindungi orang lain. Aku ingin menjadi hebat untuk lebih baik. Sebagai seorang TNI dan sahabat yang baik". Aku tersenyum mendengar kata-katanya, "Hmm... itu masalahnya. Tapi, aku kira tinggimu hanya kurang beberapa cm saja untuk syarat minimum. Dan soal kekuatan, kamu hanya perlu berlatih setiap hari. Aku akan membantumu jika kau mau." kataku. "Apa kau yakin ini akan berhasil?" tanyanya. "Tentu saja. Asal kau juga yakin bisa." jawabku dengan penuh keyakinan. "Baiklah kalau beqitu. Aku mau. Terima kasih lagi." ucapnya dengan semangat. "Oke, kita mulai besok." ujarku sambil tersenyum."
Keesokan harinya, sepulang sekolah, aku mulai mengajaknya berlatih. Mulai dari lari, lompat tali, dan lainnya. Dia terlihat sangat lelah, namun juga terlihat lucu, terkadang aku sampai menahan tawa saat melihatnya latihan. "Jika dirumah, kau juga harus latihan sendiri, biar maksimal." ujarku. "Ya, baiklah..." jawabnya dengan nada lelah.
Kami latihan seperti ini selama berbulan-bulan. Dan hasilnya terlihat. Dia semakin berkembang. Dan lucunya dia terus mengucapkan terima kasih padaku. Seakan akan kata terima kasih telah melekat di mulutnya.

Sudah 6 bulan aku berada disini, awalnya semua berjalan seperti biasa. Sampai suatu ketika ibuku sakit cukup parah. Aku dan ayahku sangat sedih dan kebingungan. Ayahku bekerja keras, sedangkan aku merawat ibuku sambil sesekali membantu ayahku, jika ada yang menjaga ibu. Semua ini membuatku sangat tertekan dan juga kebingungan. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Aku berangkat sekolah dengan fikiran yang kacau, seakan tak siap menerima pelajaran apapun hari ini. Sampai guruku mengingatkan l‹ami, "Anak-anak jangan lupa untuk segera membayar uang gedung sekolah sebesar 1 juta.".Sontak itu membuatku kaget dan semakin bingung. Bagaimana caranya agar aku bisa membantu ayahku? Sedangkan ayah sendiri pikirannya lebih kacau karena harus mencari uang sendiri dan juga memikirkan ibu.

Aku berjalan menuju parkiran sambil melamun. "Hey...!!!" ujar sahabatku sambil menepuk bahuku. Itu membuatku sanqat kaget. "Sedang apa kau? Kenapa melamun? Wajahmu terlihat murung akhir-akhir ini. Pasti ada masalah. Masalah apa?" tanyanya tanpa memberi jeda untuk menjawab. "Tidak, aku tidak ada apa-apa."jawabku. "Apa kau yakin?" tanyanya lagi. "lya, aku tidak apa-apa." jawabku sambil sedikit tersenyum. "Aku pulang dulu, ya!" ucapku sambil menaiki sepedaku. Aku meninggalkannya dengan dia yang masih terlihat penasaran.

Sambil tiduran di kasur, aku masih berfikir bagaimana caraku membantu ayahku mendapatkan uang. Memang, aku membantu mengajar karate dan setiap minggunya aku diberi 75 ribu untuk 3 kali seminggu, walau aku sudah tingkat tinggi, tapi guruku percaya kepadaku. Beliau bilang, tinggal sebentar lagi aku sudah berada di tingkat paling tinggi, sehingga menyuruhku untuk membantu mengajar adik tingkat.
Namun, jika hanya mengandalkan itu akan memakan waktu terlalu lama. Aku berpikir keras, sampai tidak sadar aku tertidur.

Saat aku bangun, aku melihat jam yang menunjukkan pukul 4 sore. Aku membuka ponselku, dan melihat ada pesan masuk, "Besok pulang sekolah, datanglah kerumahku. Ada yang ingin bertemu denganmu." sahabatku mengirim pesan itu, dan membuatku penasaran. "Siapa?",tanyaku.

Keesokan harinya, sepulang sekolah dia mengajakku kerumahnya. Memang, jarak rumahnya dengan sekolah cukup dekat, sehingga kami bersepeda bersama. Sampai disana, dia mempersilakan aku masuk dan duduk. Ya, aku sudah beberapa kali berkunjung kesini. Tak berapa lama, ayahnya keluar dan menyapaku. Ayahnya pun sudah mengenalku. Beliau serin  bilang jika dia selalu mendengar tentangku dari anaknya. Setelah mengobrol singkat, tiba-tiba ayahnya memintaku untuk mengajar sahabatku dan adiknya beladiri. "Hanya sebentar saja tidak apa-apa, setelah pulang sekolah. Seminggu dua kali sudah cukup.", "Om minta tolong ya. Soalnya belajar dari kejadian kakaknya yang kamu selamatkan, om ingin adiknya juga bisa membela dirinya." ujar beliau dengan lembut. "Baik om, saya akan usahakan, dan memberitahu kapan waktunya." jawabku sambil tersenyum. Setelah beberapa lama disana, akupun pulang kerumah.

Awalnya aku tidak tahu, kalau ternyata ayahnya membayarku 100 ribu untuk 2 kali latihan. Aku pun merasa tidak enak, tapi beliau dan sahabatku memaksaku. Pernah setelah selesai latihan, aku langsung pamit dan berlari keluar mengambil sepedaku. Namun, keesokannya sahabatku tanpa sepengetahuanku memasukkan uanq ke dalam dompetku. Sampai ayahnya bilang kepadaku, "Nak, om minta terima saja uang itu. Itu juga sebagai rasa terima kasih om sekeluarga. Pokoknya harus diterima. Kalau tidak, kamu tidak boleh kesini lagi." ujarnya sambil bercanda. "Tapi, om. Ini terlalu banyak." jawabku tidak enak. "Kalau dibandingkan dengan pelatih lain, ini tidak ada apa-apanya. Jadi, terimalah.". Jawaban dari beliau hanya membuatku tersenyum, dan akhirnya menerima uangtersebut.

Aku bersyukur, ada jalan untukku saat ini. Uang hasil mengajar di 2 tempat itu, aku kumpulkan dan ditambah uang sakuku yang aku sisakan. Sudah beberapa bulan aku mengajar. Sahabatku dan adiknya pun semakin hebat, sehingga ayahnya pun ikut bangga. Uang yang kuperoleh pun sudah lebih dari cukup untuk membayar uang gedung. Kemudian sisanya aku simpan. Siapa tahu nanti ada kebutuhan lain. Dan aku pun masih diminta mengajar sahabatku. Keadaan ibuku sudah membaik, dan terlihat sehat seperti dulu. Aku sendiri merasa sangat bahagia.

Tanpa terasa aku sudah duduk dibangku kelas 3. Saat aku ke rumah sahabatku untuk mengajar, ayahnya tiba-tiba bertanya kepadaku, "Kamu ingin melanjutkan kemana?" tanyanya. Aku menjawab, " Saya akan menjaga negara ini dengan kemampuan saya. Menjadi seorang yang kuat, dan melindungi orang lain. Saya ingin menjadi hebat untuk lebih baik. Sebagai seorang TNI dan sahabat yang baik. Seperti yang pernah dikatakan kepada saya." jawabku tegas sambil tersenyum. Kulihat beliau dan sahabatku tersenyum bangga padaku. Begitu, sampai mimpi kami menjadi kenyataan. Kami tetap berfikir bahwa kami bukan hanya ingin sekedar sukses, tapi kami juga ingin dengan kemampuan kami ini dapat membantu orang lain.

Komentar

Postingan Populer