CERPEN : Kala Aku Tak Semauku


Namanya Esa, remaja perempuan yang baru saja merayakan ulang tahunnya. Tepat pada tanggal 19 Juni 2019 ia berusia 17tahun. Kata teman-temannya, sweet seventeen pasti selalu ada kado terindah dan kejutan yang tidak bisa dilupakan. Esa terlahir dari keluarga yang sangat mampu. Kepala Desa adalah pekerjaan ibunya, serta ayahnya seorang pegawai negeri sipil di salah satu kantor ternama di daerah Blora. Meskipun begitu, ia tidak diajarkan oleh kedua orangtua nya  untuk hidup berfoya-foya. Orangtuanya selalu memenuhi apa yang ia butuhkan. Bukan apa yang ia inginkan. 

Seperti namanya, Esa berpostur tinggi besar dengan rambut hitamnya yang tidak pernah Panjang. Murid kelas 2 SMA, di salah satu sekolah favorit kotanya. Karena itu, ia dicap sebagai primadona cantik nan cerdas. Tak jarang seluruh orang desanya yang memiliki anak laki-laki selalu menggadang-gadang agar kelak berjodoh dengannya. Tak jarang pula ia kesal dengan sebutan primadona itu, menjadi anak dari orang nomer satu di desanya membuat Esa tak leluasa dalam bergaul. 

Esa selalu menjadi sorotan apabila ia melakukan hal yang tidak selayaknya dilakukan oleh seorang anak kepala desa. Setiap hari selalu diwejangi oleh ibunya, tidak boleh begini lah begitu lah seperti ini lah seperti itulah. Pernah sesekali ia mencoba nakal hanya karena ingin tahu seberapa murka nya sang ibu. Misalnya, ia dengan sengaja bersepeda mengelilingi desa dengan celana yang sangat pendek dan ketat tanpa sepengetahuan sang ibu. Dan ternyata memang benar, sesampainya nya dirumah sang ibu marah dengannya dan ibunya juga menjelaskan bahwa saat ia bersepeda ada tetangga yang menyempatkan untuk lapor kepada ibu bila ia bersepeda dengan  mengenakan celana yang pendek dan ketat.

Dikarenakan tugas sekolah dan banyaknya kerja kelompok, selama menjadi murid SMA ia memutuskan untuk tidak tinggal di rumah melainkan di kost. Bapak ibunya mengabulkan permintaannya itu dengan syarat pada setiap akhir pekannya ia harus pulang ke rumah. Sebenarnya Esa sedikit keberatan dengan syarat tersebut, sempat terjadi debat dengan orangtuanya. Ia ingin untuk kembali ke rumah satu bulan sekali dan untuk uang saku dapat di tranfer melalui rekening. Namun orangtuanya bersih kekeh agar ia tetap kembali kerumah saat akhir pekan, atau jika tidak begitu uang saku tidak akan di berikan. Tentu saja, mau tidak mau suka tidak suka ia menurut saja untuk selalu pulang ke rumah setiap akhir pekan.

Wejangan-wejangan sang ibu semakin ketat seusai ia merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas. Sang ibu sangat takut apabila anak gadis satu-satunya itu salah dalam pergaulan. Keluarganya kental sekali dengan adat jawa, termasuk dengan primbon. Esa lahir pada Hari Selasa dan saat pasaran legi.Pasaran sama artinya dengan hari dalam adat jawa. Menurut orang pintar kepercayaan ibunya, anak yang lahir pada hari selasa dan dengan pasaran legi memiliki watak yang sangat keras kepala, pendendam, dan apabila sudah suka dengan lawan jenis maka ia sangat sulit untuk melupakan orang yang ia sukai. Itulah yang menjadikan alasan mengapa ibunya sangat membatasi segala tingkah Esa.

Keputusannya untuk tinggal di kost untuk mendapatkan kebebasan yang mutlak, ternyata bukan pilihan yang tepat. Kost yang dipilih orangtuanya ternyata masih ada ikatan saudara jauh keluarganya dengan si pemilik kost. Tentu saja, hal itu dimanfaatkan ibunya untuk memantau anaknya meskipun sedang berjauhan. Kerap sekali ketika Esa pulang kerja kelompok lewat jam 9 malam di rumah temannya yang tidak begitu jauh dari kost nya, ia selalu kena marah ibunya.

Bagaimana bisa ibunya tahu kalau bukan ulah ibu kost nya yang selalu laporan apa yang dikerjakannya selama di kost. Baru sebulan ia tinggal di kost, sudah ada saja tingkah ibunya untuk memata-matainya dari jauh. Hal ini tentu membuat Esa tidak nyaman dan sempat merasa putus asa untuk melawan tingkah ibunya yang sang sudah dapat dikatakan mirip dengan agen FBI. 

Suatu sore, ada seorang pemuda datang bertamu ke rumahnya. Tepat saat akhir pekan, yang berarti ia sedang dirumah.Esa mendengarkan bincang antara ibunya dengan pemuda itu dari kamar. Pemuda itu mengusulkan bahwa hendak mengaktifkan kembali organisasi karang taruna yang selama ini vakum. Mendengar hal tersebut, jiwa sosialnya meronta-ronta. Lama sekali ia tidak berkumpul dan bertukar pikiran dengan pemuda pemudi di desanya. Tanpa menunggu lama, Esa langsung mengutarakan persetujuan kepada ibunya di depan pemuda tamu tersebut. Dengan alasan untuk mendengar bagaimana keluhan anak muda di desa.Tanpa ba-bi-bu ternyata ibunya juga langsung menyetujui permintaan nya.

Alhasil, dari yang biasanya  ia selalu malas apabila disuruh pulang, sejak saat itu ia sangat semangat pulang kalau menjelang akhir pekan. Ia mengisi waktunya untuk berkumpul dengan teman-teman karang taruna. Membahas program selama 1 periode kedepan dan mencari solusi atas keluhan pemuda yang menghambat kelancaran organisasi, mengingat bahwa organisasi tersebut sempat vakum selama kurang lebih 3 tahun terakhir. Setelah ada gambaran untuk kedepannya, lalu yang selanjutnya dibahas adalah bagaimana cara membangun kesadaran pemuda desa akan pentingnya peran anak muda dalam kemajuan desa. Esa berpikir itulah yang sangat penting untuk dibahas. 

Pada awalnya, cukup banyak yang datang pada diskusi santai yang diadakan. Dengan iming-iming  kopi sebagai pancingan agar agenda diskusi tersebut tidak terkesan monoton dan membosankan. Semakin lama, sukarelawan semakin bertambah. Dari situlah yang menjadi alasan Esa untuk selalu optimis membangkitkan kembali organisasi karangtaruna. Meskipun dari sekian banyak sukarelawan, hanya ia perempuan satu-satunya.Tidak banyak perempuan desanya yang masih punya banyak waktu luang untuk ikut serta dalam organisasi. Kebanyakan dari mereka ketika sudah lulus sekolah, langsung dinikahkan oleh orangtuanya. Orang tua mereka tanpa memikirkan sudahkah matang pemikiran anaknya untuk mengurus keluarga atau sudahkah siap anaknya mengurus rumah tangga. Beberapa alasan mungkin karena termasuk dalam sebuah kategori desa yang kental akan adat dan budaya jaman dulu, sehingga disamakan dengan saat jaman orangtua mereka dulu yang selalu beranggapan bahwa pendidikan tinggi tidaklah penting bagi perempuan, karena akhirnya juga kembali menjadi ibu rumah tangga yang selalu mengurus keluarga. Itulah stigma yang selama ini dianut oleh kebanyakan orang yang tinggal di desa Esa. Kembali ke masalah organisasi, tidaklah menjadi halangan bagi Esa untuk terus optimis membangkitkan organisasinya itu. 

Suatu ketika, ada pemuda baru yang bergabung bersukarela meluangkan waktunya untuk membangun organisasi desa. Laki-laki berpostur tinggi ramping dengan warna kulit sawo matang. Sedikit cerita, ternyata laki-laki itu adalah putra dari seorang tukang kebun di SD-nya dulu, berprofesi sebagai musisi musiman yang bekerja menunggu bila ada yang hendak ada hajat untuk memeriahkan hajatannya tersebut, namanya Wawan. Cukup kreatif segala usulannya yang disampaikan dalam forum diskusi. Dalam beberapa kesempatan, kerap sekali Esa disandingkan dengan musisi tersebut. Entah itu suatu kebetulan atau memang akal-akalan teman-teman yang lain untuk menjodohkan Esa dengan Wawan. Yang jelas semenjak kehadiran Wawan, Esa semakin bersemangat dan bahkan tidak pernah sama sekali putus mengeluh atas tekadnya untuk kemajuan desa.

Sampai saat Wawan benar-benar mengungkapkan perasaan nyamannya kepada Esa, jujur saat itulah Esa bak orang yang hendak makan buah simalakama. Bila ia membalas perasaan Wawan padanya, akan terjadi masalah besar dengan kedua orangtuanya. Bila ia menolak perasaan Wawan, mungkin akan berdampak pada organisasi yang sekarang sedang digarapnya tersebut.

Akhirnya, Esa memutuskan untuk menceritakan apa yang memenuhi pikirannya kepada Wawan.Lalu dengan kesepakatan mereka berdua, Esa membalas perasaan Wawan dan menjalani hubungan yang dibiarkan mengalir begitu saja. Dengan meyakinkan diri, Wawan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab mungkin saja kedua orangtuanya akan memberikan izin padanya untuk menjalani hubungan yang lebih dari sekadar teman dengan Wawan untuk saat itu.

Hari demi hari ia jalani, Wawan yang selalu menyempatkan waktu untuknya. Sampai-sampai ketika ia berada di kost dan merasa kesepian pun, Wawan mengunjunginya ke kost. Saat Esa tidak dijemput untuk pulang akhir pekan oleh supir, Wawan yang menjemputnya. Semua hal, Esa lakukan dengan Wawan. Baik di rumah, di organisasi, maupun di kost. Awalnya, kedekatan mereka hanya dianggap sebatas teman oleh ibunya. Namun, lama-kelamaan ibunya juga mencurigai kedekatan mereka. Sebelum ibunya dirasuki pikiran pikiran yang tidak baik tentang Wawan oleh tetangga-tetangganya, Esa akhirnya memutuskan untuk membawa Wawan kerumah untuk mengenalkan kepada orangtuanya.

Sengaja, rencana mereka itu ia lakukan di malam minggu saat akhir pekan. Wawan menjemput Esa dari kost langsung menuju rumah. Tepat saat adzan shalat Isya mereka sampai rumah. Sesampainya di depan gerbang pagar, Ibu sudah berdiri disana dengan memasang raut wajah marah yang sontak membuat Esa dan Wawan seketika takut. Namun bagi Wawan, mundur sebelum berperang merupakan simbol dari seorang pecundang. 

Esa langsung ditarik ibunya, sudah tidak boleh dekat-dekat lagi dengan Wawan. Karena menurut ibunya, Wawan memberi pengaruh buruk ke anak perempuannya itu. Wawan seorang pemuda yang tidak jelas masa depannya, tidak jelas pekerjaannya, dan berasal dari keluarga yang kurang sepadan dengan keluarganya. Atau singkatnya bobot bibit dan bebet Wawan tidak pantas untuk Esa. Tanpa ada sedikitpun kata yang terucap dari mulut Wawan maupun Esa, dari tindakan ibu yang seperti itu sudah tersirat makna bahwa hubungan dekat antara anak perempuannya dengan seorang musisi musiman tersebut tidak mendapat restu.

Semenjak saat itu, Esa dikurung dan benar benar dijauhkan dari Wawan. Keanggotaan Esa sebagai remaja perempuan satu-satunya dicoret dari organisasi. Sudah tidak bisa lagi Esa berkecimpung didalamya. Hanya bisa menuruti semua kemauan ibunya. Bila bicara soal kecewa, mungkin sudah tingkat kecewa tertinggi yang dirasakan Esa terhadap Ibunya yang demikian.Ibunya yang selama ini selalu tidak pernah komentar mengenai bobot bibit bebet dalam berteman, namun kali ini tidak.

Begitulah, setiap orang mungkin akan memandang orang yang lahir dari keluarga kaya, akan senantiasa mulus kehidupannya.Satu hal yang mereka lupakan, seperti pepatah Jawa, “Urip iku sawang sinawang”.Apa yang kau lihat baik, belum tentu baik baik saja, begitupun sebaliknya.

Komentar

Postingan Populer