Cerpen mengejar mimpi

MENGEJAR MIMPI
         Kring .... Suara HP berdering hari itu tanggal 2 Mei 2015 seorang anak bernama Riki mendapat kabar dirinya lulus Sekolah dari SMA dengan nilai yang sangat memuaskan dirinya menjadi juara umum di sekolahnya. Kabar itu menjadi kabar yang menyenangkan karena dirinya telah lulus namun di satu sisi itu juga menjadi kabar menyedihkan karena Riki Masih bingung antara mau melanjutkan untuk kuliah atau bekerja. Seandainya dia sekolah lanjut orang tua nya juga tidak punya biaya mau bekerja dia juga masih bingung mau kerja apa dan kerja dimana. Setelah merenung beberapa hari ia akhirnya memutuskan untuk kuliah dia yakin dengan sekolah lanjut dia akan menjadi orang yang sukses di masa depan dan berguna bagi negara.
         Adzan Maghrib berkumandang seperti biasa Riki pergi ke mushola untuk beribadah setelah melaksanakan ibadah Riki langsung pulang ke rumah dia ingin menyampaikan keinginannya sekaligus meminta izin kepada orang tua nya untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah. Riki berkata kepada bapak nya “ pak Riki mau sekolah lanjut Riki minta doa restunya “. Sang bapak pun menjawab “ kamu tau kan Rik bapak ini tidak punya biaya untuk menyekolahkanmu, sampai lulus SMA saja sudah hampir putus leher bapakmu apalagi kalau sampai lulus kuliah bisa bisa bapakmu ini mati berdiri ”. Mendengar perkataan dari sang bapak itu dia langsung terdiam dia tak berani berkata apa apa lagi dan dia pergi ke kamarnya karena dia tak berani berkata apa apa lagi di depan sang bapak, tak terasa waktu menunjukkan jam 22:00 dan Riki tertidur di dalam tidurnya dia bermimpi sang bapak memberikan izin kepada dirinya untuk kuliah, saking bahagianya dia melompat lompat bahagia dan bruuk dia terjatuh dari tempat tidurnya “ Hmm ternyata hanya mimpi “ jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari Riki berniat melaksanakan solat malam “ sekalian solat malam lah mumpung sudah bangun “ begitu katanya dalam hati setelah solat dia pun berdoa “ Ya Tuhan tolong ridailah hambamu ini dan berikanlah kemudahan kepada hamba agar hamba bisa sekolah lanjut serta bukakanlah pintu hati bapak hamba agar memberikan izin kepada hamba untuk kuliah aminnn “. Setelah selesai dia tidur kembali .
           Suara adzan berkumandang membuat orang muslim terbangun dari tidurnya begitu juga Riki dia segera bergegas ke mushola untuk menunaikan ibadah sholat subuh setelah selesai dia pun bergegas kembali ke rumah dia mengambil bak air yang biasa digunakan untuk menimba air, dia mengambil air untuk keperluan dirinya dan keluarganya. Setelah selesai melakukan tugasnya dia beranjak kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya hari itu acara perpisahan di sekolahnya tepat pada tanggal 29 Mei 2015 setelah selesai mandi dia segera memakai Seragam yang telah dipersiapkan oleh bapaknya tak lupa dia juga sarapan pagi setelah semuanya siap dia berpamitan kepada bapaknya untuk berangkat ke sekolah, dia berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda onthel pemberian sang bapak yang biasa dia gunakan, jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh namun dia tetap semangat mengayuh sepedanya, dia menikmati perjalanan itu di tengah perjalanan pemandangan yang cukup indah terpapar hijaunya pepohonan dan pagi yang sudah mulai menguning membuat hatinya semakin senang di tambah lagi sejuknya embun dan suara nyanyian burung yang merdu di pagi hari membuat rasa lelahnya menggayuh sepeda hilang saat itu juga. Tak terasa dia sudah sampai di depan gerbang sekolahnya dia segera turun dari sepeda dan masuk kedalam sekolahan dan duduk di tempat wisuda yang sudah di sediakan, dia duduk di samping teman dekatnya, yaitu Edo dia sudah bersahabat sejak kelas 10 keheningan tercipta di situ hingga Edo membuka percakapan dia bertanya “ Rik setelah lulus ini mau lanjut kemana ? “.
            Riki menjawab “nggak tau do masih bingung mau kuliah nggak ada biaya, tapi mau kerja juga bingung kerja apa “
            Edo : “ tapi kamu ingin kerja apa kuliah Rik dari hati yang terdalam”
            Riki : “ jujur, aku sih pengennya lanjut tapi kamu kan tau bagaimana ekonomi keluargaku, pas – pasan do beda sama kamu ekonomi keluargamu jauh lebih bagus dari keluargaku”.
             Mendengar jawaban dari temannya itu Edo langsung terdiam dan keheningan kembali terjadi, hingga acara perpisahan wisudawan wisudawati dimulai acara tersebut berlangsung dengan tertib hingga selesai dan seluruh siswa siswi mulai berhamburan, ada yang foto foto ada pula yang langsung pulang begitu juga dengan Riki dia ingin langsung pulang namun langkahnya terhenti karena dia mendengar seseorang memanggilnya.
           “Riik Riki kemari bapak ingin bicara sama kamu”. Seketika itu juga Riki menghentikan langkahnya dan mencari sumber suara tersebut ternyata pak Abdul guru fisika nya. Pak Abdul “ Rik kesini bapak mau bicara denganmu”. Riki pun menjawab ”iya pak, ingin bicara apa ya pak ?”. Setelah itu pak Abdul mengajak Riki masuk kedalam ruangan dan pak Abdul bertanya kepada Riki “gimana Rik mau lanjut kemana ?”
           Riki, “nggak lanjut pak sepertinya bapak saya nggak punya biaya pak buat saya kuliah dan nggak setuju juga kalau saya kuliah”
           Pak Abdul, “tapi Rik apa kamu yakin dengan keputusanmu itu kamu dan nggak menyesal kedekapanya apalagi kamu termasuk anak yang cerdas, berprestasi, dan selalu mendapat ranking pertama dari kelas 10 sampai kelas 12 apa lagi kamu juga pernah menjadi juara harapan 1 di olimpide sains nasional (OSN) bidang fisika di tingkat nasional sangat di sayangkan sekali Rik kalau kamu nggak lanjut”.
           Riki, “ tapi pak bapak saya itu tidak mengizinkan saya sekolah lanjut pak, bapak menginginkan saya untuk langsung kerja saja”
         Pak Abdul,”ya sudah Rik nanti kamu coba ngomong lagi sama bapakmu klo kmu ingin kuliah, kalau soal biaya nggak usah dipikir bapak akan bantu kamu, nanti kalau bapakmu masih nggak memberikan izin juga kamu suruh bapakmu datang kesekolahan besok untuk menemui saya”.
           Riki, “beneran pak ? “
           Pak Abdul, “iya Rik bener bapak mau bantu kamu”
           Riki,” ya udah pak kalau begitu terimakasih banyak pak, saya pulang dulu pak, assalamualaikum pak”
           Pak Abdul, “waalaikumsallam”
           Di tengah perjalanan pulang Riki selalu teringat kata kata gurunya tersebut akhirnya setelah sampai di rumah dia langsung beristirahat dan malam harinya dia memberanikan diri untuk mencoba berbicara pada bapaknya lagi, namun apa hasilnya tetap nihil bahkan bapaknya marah besar namun Riki teringat pesan gurunya dan menyuruh bapaknya untuk pergi ke sekolahnya besok menemui pak Abdul, guru fisikanya.
           Tak terasa pagi kembali tiba sejuknya embun pagi yang membuat badan menjadi segar dan suara nyanyian burung yang membawa kebahagiaan Riki dengan di bonceng pak Tono, bapaknya pergi kesekolahan untuk menemui pak Abdul, mereka menaiki sepeda onthel seperti biasa sesampainya di sekolahan Riki bersama bapaknya menuju ruangan pak Abdul.
        Tok tok tok pak Tono mengetuk pintu ruangan pak Abdul.” Ya silahkan masuk”. Suara dari dalam ruangan tersebut dan pak Tono bersama anaknya masuk kedalam ruangan. “ silahkan duduk pak, Rik” kata lelaki yang berada di dalam ruangan tersebut yang tak lain merupakan pak Abdul.
       “ ya pak” Riki dan bapaknya menjawab serempak, lalu mereka duduk.
       Pak Abdul, “langsung saja pak sebelumnya saya minta maaf saya mau tanya kenapa ya bapak tidak memberikan izin kepada kepada anak bapak untuk kuliah, anak bapak ini cerdas dan berprestasi jadi sangat di sayangkan jika tidak melanjutkan kalau hanya masalah biaya bapak nggak usah terlalu di pikir pak”
       Pak Tono, “ begini pak menurut saya pak kuliah itu tidak menjamin masa depan pak faktanya sudah ada keponakan saya kuliah 6 tahun baru lulus S1 di Jakarta tapi apa pak setelah lulus juga nganggur orang tuanya habis pak sawahnya itu alasan saya pertama dan yang kedua saya juga tidak punya biaya pak apa bapak mau membiayai sekolah anak saya ?”.
      Pak Abdul, “ tapi pak jangan samakan anak bapak ini dengan anak lainnya pak saya kenal bagaimana sifat anak bapak ini dan kalau soal biaya saya bisa membantu pak yang terpenting bapak memberikan izin kepada anak bapak agar nantinya di berikan kemudahan dalam kuliah nanti karena ridha Allah itu ridha orang tua pak” .
     Akhirnya setelah mendapat saran dan wejangan dari guru tersebut pak Tono memberikan izin kepada anaknya untuk kuliah seperti yang di idam-idamkan oleh anaknya tersebut Seminggu kemudian Riki berpamitan kepada bapaknya dengan diantar oleh gurunya dia berangkat untuk daftar kuliah di universitas yang di Jakarta.
      Hari demi hari berlalu dan tahun demi tahun pun berlalu tidak ada kabar dari sang anak pak Tono yang hidup sendiri di gubuk yang sederhana itu Lelaki tua itu rindu kepada anaknya yang merupakan anak semata wayangnya, kring kring pak Tono terkejut ternyata HP nya berdering ternyata nomor yang tidak ia kenal tetapi beliau berharap bahwa itu anaknya yang sudah 4 tahun pergi menuntut ilmu, dengan segera beliau mengambil HP tersebut dan mengangkatnya. “ Halo assalamualaikum pak, saya Riki pak maaf tidak pernah memberi kabar saya mau bilang ke bapak kalau saya sudah lulus pak dan saya di terima kerja di perpajakan pak lusa saya pulang pak karena Minggu depan wisuda, bapak datang ya” .
      Seketika itu juga pak Tono menangis, bukan karena sedih tapi karena bahagia, bahagia karena bisa melihat anaknya sukses dan masih ingat kepada dirinya” i..... Iya le bapak pasti datang”.
       “ ya sudah pak Riki mau beli tiket dulu, assalamualaikum”.
       “Wassalamu’alaikumsallam, hati hati ya le”, kata pak Tono sekaligus menutup telfonnya.
      Tok tok pintu berbunyi, pak Tono segera membuka pintu rumahnya, ternyata itu Riki anaknya, Riki langsung memeluk bapaknya, sudah 4 tahun lebih dia tidak bertemu kepada sang bapak karena mengejar mimpinya dan akhirnya dia berhasil menangkap mimpi yang dia kejar, pagi harinya bersama sang bapak Riki pergi menemui gurunya dia ingin mengucapkan terimakasih banya karena sudah membantunya dan memberi support kepadanya sehingga dia bisa menjadi seperti sekarang ini.
      “ terimakasih pak guru sudah membantu saya mengejar mimpi saya pak sehingga saya bisa seperti sekarang ini”
     “ya Rik, sama sama itu semua berkat bapakmu beliau yang sudah mendoakanmu siang dan malam sehingga kamu bisa seperti sekarang ini”.
      Riki, “Iya pak sekali lagi saya ucapkan terima kasih “
      Pak Abdul, “sama sama Rik” .
      Akhirnya Riki bisa menggapai mimpinya dan menjadi orang yang berhasil dia hidup bahagia bersama sang bapak dan keluarganya.
















“ semua tergantung Anda mau mengejar mimpi atau terus bermimpi, hanya itu pilihannya “


Komentar

Postingan Populer