CERPEN : MULANYA~ PERCAYA




“Bukan tentang siapa yang datang di awal. Tetapi, tentang siapa yang mampu bertahan hingga akhir.”

“Selamat pagi dunia.” Itu kata yang terucap saat pertama melangkah masuk gerbang sekolah. Hari ini hari pertama para murid baru resmi menjadi bagian dari sekolah ini. Tapi, bukan aku. Namaku Fara cewek yang terkenal galak di satu sekolah mungkin karena aku cukup tegas dengan semua. Aku sudah satu tahun di SMA ini atau bisa dibilang aku sekarang sudah menjadi murid kelas 2 SMA. Melihat beberapa anak baru masuk sekolah pastinya sebagai senior sempat terbesit pikiran jijik di otakku. Jahat memang, biasalah penyakit jadi kakak kelas.

“Hai far!” ada seseorang menepuk pundakku, sontak aku terkejut. “Astaghfirullah Tar, kamu ngagetin aja!” kataku sambil mencubitnya. Dia Tari sahabat terbaikku. Namun, kepribadian kami sangat berlawanan. Aku juga tidak tahu kenapa kami bisa begitu dekat padahal sangat jauh berbeda. Tari sangat cerewet, ceria, dan aktif bergerak. Sedangkan, aku sangat malas dan pemilih dalam melakukan aktivitas. Jika, menurutku aktivitas itu tidak penting maka, aku tidak akan melakukannya. Tari sangat ramah pada semua orang sedangkan, aku lebih memilih judes jika orang itu tidak ku kenal.  “Aduh far, kamu kok melamun liat apasih?”. “Pengen tau aja kamu.” Kataku singkat dan berlanjut meninggalkan Tari yang sibuk mencari apa yang aku lihat.

Tari mengejarku hingga sampai di sebelahku dan kami berjalan bersama ke kelas. Di kelas seperti biasa ada satu lagi sahabatku yang akan selalu menyambut saat aku dan Tari sampai. “Hallllooo! Semangat sekarang kita kelas 11” katanya dengan semangat. Aku hanya tersenyum dan langsung melanjutkan langkahku masuk kelas. “Sudahlah sar, gak usah diambil hati ya.” kata Tari sambil merangkul Sarah. “Fara kenapa lagi? Pasti dia bertengkar lagi dengan Natra”. “Mungkin iya, aku juga gak tau, dia belum cerita. Dari tadi dia hanya diam dan cuek ke semua.” gumam mereka berdua kesal.

Aku meletakan tas di samping meja dan duduk dengan malas. Ya, Tari dan Sarah benar. Terjadi sesuatu antara aku dan Natra. Sekejap HP ku bergetar tanda ada sebuah pesan. “Kamu dimana?” aku benci pesan ini. Itu dari Natra. Dia adalah cowok yang sekarang sedang bersamaku. Dia baik, supel, tegas, perhatian, ya seperti cowok pada umumnya. Kami sudah bersama sekitar 6 bulan. Sekarang Natra sedang sibuk pada jabatannya sebagai ketua salah satu organisasi di sekolah. Sejak saat itu dia berubah, aku seperti kehilangan rasa pada dia. Dugaan Tari dan Sarah benar, sekitar 3 hari yang lalu aku dan Natra bertengkar hebat. Karena aku mendengar rumor kalau dia semakin dekat dengan teman sekelasnya yang dulu pernah dia kagumi. Tapi Natra seakan tak pernah peduli pada hal ini dan pada rasa sebal ku. Hingga pertengkaran ini terjadi.

Aku tak menghiraukan pesan itu, biarkan Natra merasakan apa yang aku rasakan. Tidak pernah dipedulikan. Semua cewek selalu menghargai kesibukan pasangannya. Tapi sadar dirilah sedikit, ada yang menunggumu untuk berkabar dan kamu pedulikan. Kalau memang tidak sanggup melakukan itu, untuk apa mau terus melanjutkan.

HP ku semakin bergetar, aku kira Natra akan berhenti jika aku tidak menjawab. Ternyata tidak, pesannya terus masuk dan sangat menyebalkan.

“Kenapa gak dijawab? Kamu marah?”

“Ada yang ingin tak jelaskan, kamu punya waktu?”

“Kalau kamu punya waktu, aku mau ketemu kamu untuk bicara tentang ini.”

“Aku ingin menyelesaikan masalah ini.”

Dan masih banyak lagi pesan yang lain. Dia mengajak aku bertemu? Tidak salah? Akhir-akhir ini bahkan untuk telfon saja dia sangat jarang mau. Dia bilang ingin menyelesaikan masalah ini. Apa yang sebenarnya ingin dia selesaikan, masalahnya atau hubungan kami. Aku semakin malas menanggapi semuanya. Karena aku tahu sepertinya rumor tentang Natra dan teman sekelasnya benar.

Saat itu sebelum liburan kenaikan kelas, aku pernah melihat dengan mataku sendiri. Natra dan teman sekelasnya duduk berdua di dalam kelas mereka. Ya, aku dan Natra memang beda kelas tapi masih dalam satu deret ruangan yang sama. Selain itu, aku pernah melihat Natra masih menyimpan foto perempuan itu di ponselnya. Banyak hal tentang mereka yang sudah menguras air mata dan sabarku. Sejak saat itu percayaku ke Natra mulai luntur. Apalagi ditambah kesibukannya akhir-akhir ini membuat kami semakin jauh dan renggang. Mungkin celah ini yang diambil orang lain untuk masuk diantara kami. Jika memang benar, tak apa ini juga salahku.

“Woi, kamu kenapa sih far? Gak seru ah.” tiba-tiba sarah sudah ada di sebelahku dan mengagetkan ku. “I’m fine sar.” kataku. Sarah menghela nafas dan diam. Pelajaran hari ini berlangsung sangat membosankan menurutku.

Hanya masalah Natra yang ada dipikiranku. Aku sudah tidak tahan dan butuh tempat cerita. Jadi, aku memutuskan untuk bercerita pada Sarah dan Tari tentang ini saat istirahat nanti. Entah bagaimana tanggapan mereka, yang terpenting aku sudah menceritakannya. Mungkin mereka sudah bosan mendengarkan tentang masalahku dan Natra. Bahkan, pernah mereka menemui Natra dan marah-marah karena sikap Natra akhir-akhir ini. Memang mereka sedikit mengerikan tapi, aku sangat sayang mereka.

Bel berbunyi, tanda pelajaran keempat selesai. Sekarang waktu istirahat pertama. Waktunya aku jujur tentang masalah ini pada Sarah dan Tari. Mereka masih pergi ke kantin untuk membeli beberapa jajanan tanpa aku, aku sedang malas untuk kemana-mana. Sebaiknya aku menunggu mereka kembali sambil menyiapkan kata-kata untuk bercerita. Tiba-tiba Hpku bergetar lagi. Huh, lagi-lagi Natra, kenapa dia tidak bosan padahal aku hanya membaca pesannya dan harusnya dia tahu karena simbol centang dua di Hpnya akan berubah jadi biru. Beberapa pesan masuk lagi.

“Aku tau aku salah, maaf. Tapi, kita gak bisa terus seperti ini Far. Kita harus bicara, meski sebagai seorang teman. kalau itu mau mu.”

Apa dia bilang? Sebagai teman? Apa aku tidak salah membaca. Setelah 6 bulan baru kali ini Natra mengatakan hal seperti ini. Hatiku hancur, semua rasa takutku mulai muncul. Aku masih sangat sayang pada Natra tapi, jika ini yang dia mau, aku akan terima. Tersiksa sekali rasanya. Andaikan ini di rumah pasti aku sudah menangis sekencangnya. Sayangnya ini di kelas, banyak teman-teman lain dan aku tidak mau terlihat lemah. Mana mungkin cewek galak yang membuat orang lain segan ini menangis di depan umum, tidak boleh.

Aku masih tidak sanggup membalas pesan Natra, aku takut salah langkah dan malah merusa semuanya. Sarah dan Tari kembali dari kantin. Mereka melihat mataku yang berkaca-kaca sehingga langsung mendekat ke arahku. “Kamu kenapa lagi far? Pasti Natra lagi.” Kata Tari sambil merangkulku. “Kamu ini ngeyel far, sudah tau dia itu gak peduli dan dekat dengan yang lain. Kamu masih saja mau dibohongi. Gemes aku sama kamu.” Wajah Sarah yang putih langsung memerah. “Aku harus bagaimana lagi? Aku gak sanggup meninggalkan Natra.” Kataku dengan nada rendah karena sudah sangat lemas. “Ini kalian baca saja pesan terakhir dari Natra.” Aku menyodorkan Hpku pada mereka. Mereka membaca dengan wajah serius. Sontak wajah mereka berubah. Sarah langsung marah-marah dan mengatakan kalau akan menemui dan memukul Natra. Sarah adalah temanku yang paling mengerikan. Meskipun humoris dan ceria, dia ini atlet Kempo, sekali pukul tepar pasti. Untung ada Tari yang sedikit menenangkan Sarah. Aku hanya diam dan terus menunduk. Aku bingung.

“Lalu gimana? Kamu mau ketemu dia?” Tanya Tari padaku. “Aku tidak tau Tar.” Suaraku bergetar. “Temui saja far, kamu harus berani ambil langkah, jangan mau terus dibodohi seperti ini.” Apa ini benar, aku tidak yakin sanggup menemui Natra. “Kamu lupa far, apa kata Anti teman sekelas Natra? Coba kamu ingat itu baik-baik bahkan dia sudah kasih kamu bukti juga.” Sarah memang benar, Anti pernah mengirimkan foto Natra dan teman sekelasnya itu. Anti mengira bahwa aku dan Natra sudah tidak berhubungan. Padahal tidak, atau mungkin belum. Bahkan mungkin sebentar lagi.

Setelah memikirkan saran dari Sarah dan Tari, aku mulai yakin untuk menemui Natra. Aku ingin semuanya jelas. Jika memang harus berakhir maka segeralah dan aku ingin lekas bangkit. Tapi aku tak yakin akan semudah itu melupakan Natra. Bahkan bisa saja aku akan sangat sakit hati dan sulit percaya lagi. Bagaimana tidak, aku sangat percaya pada Natra sebelumnya bahkan aku mendampingi dia dari awal menitih karirnya sebelum jadi ketua. Tapi sekarang setelah sedang di puncak dia setega ini. Dia lupa pada janjinya dulu. Memang benar kadang kata-kata yang diucapkan sesorang hanya kosong tanpa arti. Sekarang aku mulai percaya itu.

“Kita ketemu malam ini jam 6 di kafe biasa, aku hanya ada waktu malam ini. Malam ini atau tidak sama sekali.” Pesan itu yang aku kirim pada Natra. Aku sudah siap mendengarkan semuanya. Semua kata-kata manis Natra yang akan dia ucapkan hanya untuk menenangkan. Tapi, kali ini aku tidak akan goyah.

Sekarang saatnya, aku sedang ada di depan kaca dan menguatkan diri sendiri. Tidak seperti biasanya, sekarang aku benci pertemuan ini. Biasanya bertemu Natra adalah hal yang paling aku tunggu. Aku melangkah keluar kamar dan tidak sengaja hampir menabrak Mama yang membawa air minum.

Astaghfirullah fara, kamu ini kenapa? Kok ngelamun jalannya, untung airnya gak tumpah.”

“Maaf Ma, fara mau pergi dulu. Mau ketemu Natra.” Jawabku lembut.

“Mau ketemu Natra kok wajahnya gitu, ada apa kak?”

“Gak ada apa-apa Ma, aku hanya capek. Aku berangkat dulu ya ma.”

Aku mencium tangan Mama dan berjalan keluar rumah. Menaiki sepeda motor menuju kafe yang telah aku tentukan. Saat perjalanan aku mulai membayangkan apa yang akan terjadi. Apakah Natra akan mengakui semua tuduhan ku atau justru akan mempertahankan kami. Hatiku cemas jika semua tuduhan ku selama ini benar, apa yang bisa aku lakukan.

Memang kadang pura-pura tidak tahu apa-apa itu menenangkan. Tapi, memendam semua rasa takut dan penasaran itu juga menyiksa. Selama ini aku memilih menghiraukan semua rumor itu karena aku mencoba percaya dia. Sudahlah, sekarang sudah waktunya mendengar yang sebenarnya. Meski akan menyakitkan aku tetap butuh penjelasan dan kepastian.

Aku sampai di kafe itu dan memarkir sepeda motor ku. Aku lihat Natra sudah duduk di bangku biasa kami tempati. Seketika mataku berkaca-kaca, terbayang kembali semua kenangan yang telah aku lalui bersama Natra. Badanku bergetar mengingat semuanya. Aku tak menyangka Natra yang dulu sangat ku percaya bisa setega ini. Ah, rasanya aku tak sanggup berjalan ke arahnya, semua terlalu berat. Aku dan Natra tidak pernah bertengkar hebat sampai seperti ini. Itu semua sebelum kami renggang dan perempuan itu datang.

Aku memberanikan diri masuk ke kafe dan menemui Natra. Meskipun, mataku sangat berkaca-kaca aku menahan semuanya. Aku datang dan mengucapkan salam, Natra tetap duduk dan menatapku dengan senyum kecut. Dia mempersilahkan aku duduk. Aku diam karena tidak tahu harus apa. Natra pun masih diam dan menatapku dengan wajah sedikit ragu. “Ada apa Nat?” tanyaku untuk membuka percakapan. Natra masih dia dan tetap menatapku dengan tatapan menyebalkan itu.

“Maafkan aku Far.” Hanya kata itu yang terucap dari Natra. Matanya pun mulai berkaca, nada suaranya melemah. Seketika hatiku hancur, apa maksudnya mengatakan kalimat itu. Aku tetap diam dan menunggu dia melanjutkan kalimatnya.

“Aku tahu kamu pasti marah dan lelah selama ini, aku sadar aku juga sudah melakukan kesalahan ke kamu.”

“Apa maksudmu Nat?” tanyaku singkat.

“Aku selalu menghindar dari pertanyaanmu seputar kita. Tapi, sekarang aku sadar aku salah. Aku tidak mau terus melukai kamu Far, tolong mengerti.” Dia mencoba meraih tanganku tapi aku menghindarinya.

“Apa semua tentang Sinta benar Nat? Kamu bersamanya selama ini dibelakangku? Jujurlah tak apa.” Air mataku sudah tidak bisa terbendung. Semua menetes begitu saja, tapi aku tetap tersenyum pada Natra. Sepertinya semua rasa khawatirku diperjalanan benar. “Aku tahu ini jahat Far, tapi aku juga menyesal sekarang. Kenapa aku bisa setega ini ke kamu. Aku bingung harus ngomong apa ke kamu dan mamamu tentang ini.” Jawab natra. “Katakan saja semuanya sekarang, akhiri jika memang kita harus berakhir.” Kataku tegas padanya.

“Ya, aku akui kami bersama dibelakangmu. Maafkan aku Far, semua mengalir begitu saja dan aku tidak bisa menjaga komitmen kita.”

“Tapi..kenapa Nat?” jawabku.

“Sinta terlalu baik dan sempurna, rasa kagumku kembali dan sekarang kami sudah lebih dari teman. Aku tidak mau terus membohongi dan menyakiti kamu.”

Aku menangis disana. Mencoba tidak mengeluarkan suara agar orang lain di sana tidak tahu. Ternyata semua benar Nat, aku kecewa kamu menghianati kita.

“Kalau kamu mau marah sekarang di depanku saja. Maaf aku tidak bisa mempertahankan kita, aku menyesali semuanya. Tapi sekarang rasaku sudah berpindah ke Sinta.” Lanjut Natra dengan sedikit terbata-bata.

Apa dia bilang, rasanya berpindah. Semudah itukah semua ini terjadi. Kenapa aku sebodoh ini sampai tak menyadari semua. aku pernah mengorbankan semua untuk mendampingi kamu sampai seperti sekarang, tapi semua ternyata sia-sia. Sekali lagi aku masih tidak percaya Natra melakukan ini. Percayaku selama ini juga tidak berguna. Kamu melukaiku Nat dan yang terpenting, kamu melukai komitmen kita. Aku sempat menyesal pernah memberikan hatiku pada orang seperti kamu saat ini. Tapi semua sudah tidak berguna, aku tidak bisa menahanmu lagi. Aku terdiam dan mencoba mengambil nafas panjang sebelum mulai bicara. Natra pun hanya menundukan kepalanya sedari tadi.

“Aku maafkan kamu Nat. Terima kasih telah meningkari komitmen mu sendiri. Yang harus kamu tau aku sangat terluka tapi, aku tidak bisa lagi menahanmu. Baiklah aku pergi.”
         
         Aku berdiri dan meninggalkan Natra tanpa salam. Aku sudah tidak kuat ada di sana. Melihat sesorang yang sangat aku percaya sekarang menjadi seseorang yang aku benci. Aku pulang dengan mata sembab, untung saja Mama dan Papa sudah tidur. Jadi, mereka tidak melihatku. Aku menangis semalaman di kamar. Semua ini berat, aku membereskan semua foto bersama Natra yang masih terpajang. Sebelum tidur Hpku bergetar lagi. Pesan yang tak akan pernah aku lupakan.

“Terimakasih Far, maafkan aku untuk semua. Kamu harus bahagia lagi ya. Aku akan selalu mengingatmu sebagai masa laluku, aku hanya tak mau terus menyakiti kamu.”

Aku menyayangi Natra bahkan sampai detik ini. Tapi, aku harus memulai semuanya lagi tanpa kamu selamanya. Berkat kamu sekarang aku mulai meragukan semua kesetiaan dan komitmen.

Mungkin aku tidak bisa lagi percaya pada komitmen baru. Aku terlalu takut semua tentang kamu terulang lagi. Lebih baik aku mencoba sendiri saja. Aku benci pada hal yang berbau komitmen dan laki-laki. Menurutku semua itu pasti berubah. Seperti apa yang pernah terjadi sekarang. Aku akan menolak semua hati yang datang karena aku takut kecewa lagi. Tapi, aku percaya suatu saat akan ada sesorang yang datang dan tidak akan pergi seperti kamu Nat.



Komentar

Postingan Populer