CERPEN : No More Drama Bukber


“Ma, nanti ada bukber sama temen-temen kantor ya.”

Alya membaca pesannya jam tiga sore. Pas waktunya akan mengolah bahan makanan, menjadi menu berbuka nanti Maghrib. Diusapnya wajah berkali-kali, berharap rasa kesal dan sedihnya pergi. Ini hari ke berapa Ramadhan? Ia mengecek kalender berlogo Bank yang di gantung di tembok dapur. Ah, tanggal masehi hari saja dia gak tahu, bagaimana caranya menghitung tanggal Hijriah? Nasib sebagai ibu di rumah saja dengan anak-anak yang belum sekolah, terkadang Alya lupa hari, lupa tanggal. Yang tidak pernah lupa, tentu saja tanggal suaminya mentransfer gaji bulanannya.

Diambilnya telepon dari atas meja dapur untuk mengecek tanggal dengan akurat, ternyata sudah hari ke sepuluh semua umat muslim di dunia melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Sudah sepuluh hari, dan selama itu sudah berapa hari Rifky (suaminya) buka puasa di rumah? Rasanya kurang dari hitungan jari di salah satu tangan saja.

Buka bersama, buka bareng, ifthar berjamaah ... apalah namanya itu, yang jelas tidak di rumah, dan bersama istri dan anak-anaknya. Mungkin bagi anak-anaknya tidak masalah. Mereka masih balita, belum juga ikut berpuasa. Juga memang sudah biasa, tidak pernah makan malam dengan ayah mereka.

Jarak kantor yang puluhan kilometer dari rumah, ditambah macet, ditahan teman untuk ngopi dulu, ngobrol dulu, haha hihi dulu, membuat ayah dari dua anak itu selalu sampai di rumah larut malam. Saking larutnya, seringnya Alya ketiduran saat menunggu.

Sekarang di bulan Ramadhan, harusnya Rifky sudah bisa pulang dari jam tiga sore. Semacet-macetnya, saat Adzan Maghrib berkumandang, salah satu kakinya sudah melewati pintu masuk rumah mereka. Tapi lagi dan lagi, dia baru sampai larut malam.

“Memangnya buka barengnya sampai jam berapa, Yah?” tanya Alya suatu hari.
“Ya bukber dimana-mana sama, pas Maghrib aja.” Rifky menjawab sambil membuka sepatunya di teras. Bahkan belum ada kakinya yang melewati kusen pintu, istrinya sudah menginterogasi.
“Terus? Kok jam sebelas baru sampai rumah?”
“Assalamualaikum,” ucap Rifky sambil mengecup kening istrinya yang mungil, dan bulat. Dia maklum, karena putri kecil mereka masih membutuhkan ASI, Alya belum bisa menjadi kurus seperti dulu. Tapi tidak masalah, menurutnya sang istri malah lebih cantik begini dari pada berpipi tirus.

Belum mendengar jawaban salamnya dari sang istri, lelaki itu tidak meneruskan langkahnya. Dipandangnya mata sang istri, yang tiba-tiba sudah penuh kaca.

“Jawab dulu salam Ayah.”
Alya masih bungkam, bibirnya mengerucut walaupun tidak sampai sempurna. Karena biarpun kesal, dia masih sadar, jika bibir monyong sempurna itu bisa menghilangkan kecantikannya.
“Gak mau jawab salam Ayah?” tanya suaminya lagi.
“Mama yang nanya duluan, harusnya Ayah jawab dulu sebelum bilang Assalamualaikum.” Sang istri mencoba berkilah.
“Ayah baru dateng---.”
“Wa’alaikum salam!” Dengan cepat Alya memotong ucapan suaminya lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki terhentak, sambil mengusap ujung luar matanya.

Rifky menghela nafas, mengira-ngira apa yang membuat ratu mungilnya murka. Segera diambilnya telepon genggam dari tas, mengutak atiknya sebentar, baru masuk ke dalam rumah.
“Kok gak nungguin ayah?” Selesai sholat sunnah sebelas rakaat, Rifky keluar kamar masih menggunakan sarung. Istrinya terlihat sedang duduk di sofa di ruang tv mereka.

“Kata siapa? Mama nungguin tiap hari, sampe ngantuk-ngantuk! Ayah ini gak sadar juga apa ya? Jam dua nanti itu Mama udah harus bangun lagi, nyiapin makan sahur buat kita! Belum kalau Atiqah bangun minta nen. Habis subuh memangnya bisa tidur lagi kayak Ayah? Rasyid kan udah Mama biasain bangun jam setengah enam, ya masa anak udah bangun, ibunya tidur lagi? Belum lagi harus nyiapin sarapannya Atiqah. Rendem baju anak-anak. Atiqah bangun, nen lagi terus mandi makan ... “

Wow, pikir Rifky dalam hati. Sambil terus mendengarkan ocehan Alya yang belum juga selesai, Rifky tahu kalau ia dalam masalah besar. Istrinya menghamburkan segala kekesalannya dalam sekali nafas. Dia sudah sering mendengar keluh kesah ini, tapi biasanya dalam bentuk cerpen, serial, paling banter berbentuk cerbung. Tidak pernah dalam satu novel seperti ini.

Padahal dia tadi hanya bertanya, kenapa Alya membuka cemilan tanpa menunggu dirinya selesai sholat tarawih.

Lima tahun menikah, empat tahun berpacaran, dan satu tahun dijadikan tempat sampah curhatan romantisme Alya dengan, yah ... pacar sebelum dirinya, membuat Rifky cukup paham bagaimana ia harus menghadapi kemarahan wanita di hadapannya yang masih berapi-api mengungkapkan kekesalan.

Dia duduk di sebelah Alya, masih menajamkan telinganya, karena setelah tanda titik ia yakin istrinya akan membuka sesi tanya jawab. Diambilnya satu potongan martabak keju kacang kesukaan ratu mungilnya, disodorkan ke mulut. Martabak bersambut, digigit setengah, lalu omelannya berlanjut. Satu kali lagi, Rifky mencoba peruntungannya memberi martabak pada kucing yang lapar. Sukses. Dan percobaan ke tiga,

“Ayah apa sih! Pengen bikin Mama tambah bulet ya?!”
“Mama yang pengen bikin Ayah lurus,” balas Rifky sambil melihat ke arah kotak pembungkus martabak yang ia pesan sebelum masuk ke dalam rumah tadi; isinya tinggal kurang dari setengah. Sebuah cubitan maut mendarat di perutnya yang sudah masuk kategori dad-body-goal. Empuk, padat, tumpah ruah.
“Ayah, kalau Mama marah itu harusnya serius dengerin.”
“Iya, di dengerin.”
“Bukan di kasih makan!”
“Iya, di kasih makan,” jawab Rifky lagi. Satu potong martabak sudah dalam proses pengunyahan di dalam mulutnya sendiri. Mendengarkan yang marah itu sama melelahkannya dengan amarah itu sendiri. Bikin lapar.
“Ayah ....”

Jurus nada merajuk sudah terdengar. Yang dipanggil menoleh perlahan, terlihat pertahanan ratu mungilnya sudah patah,  air mata berderet rapi bagai semut merah yang berbaris di dinding. Tolong ... jangan lanjut bernyanyi.

Di lapnya semua minyak dari tangan dan bibir menggunakan tissue, termasuk milik Alya. Jika tidak, ocehan akan berlanjut besok pagi, karena baju yang terkena noda minyak.

“Ayah!”
Dua kata yang sama, dengan nada berbeda. Sama-sama membuat jantung berpacu kencang.
“Kita belum selesai ngobrol! Jawab dulu, tadi kenapa jam sebelas baru sampai rumah?!”
Setelah marah berputar-putar, merembet dari A sampai Z, ternyata Alya masih ingat dengan inti permasalahannya. Pintar.
Rifky memulai dengan helaan nafas panjang, supaya dramatis.
“Iya, maaf. Harusnya Ayah cepat pulang. Tapi bagaimana, semua orang menahan Ayah. Sebentar lagi terus. Ya gak enak juga Ayah kalau habis makan langsung cabs aja.”
Alya diam saja mendengarnya, sedih dengan kenyataan yang memang benar. Tapi kesedihan utamanya tetap karena dirinya dibiarkan sendirian saja.
“Jangan keseringan bukber-bukber sama teman, Ayah. Gak tau apa istri Ayah ini juga butuh teman berbuka?”
“Iya, maaf. Tapi sudah kebiasaan setiap Ramadhan juga begini kan?”
“Kebiasaan jelek kan gak perlu diikuti.”

Giliran Rifky yang terdiam. Merenungi perkataan istrinya yang memang benar. Acara buka bersama di restoran sepulang kantor, dengan teman satu team, lalu giliran teman satu divisi, lanjut teman satu kantor ... isinya dia lagi dia lagi. Belum teman kuliah, SMA, SMP, SD. Walaupun belum pernah dengan teman sewaktu TK. Teman kantor lama, juga teman tempat Rifky ‘ngamen’ mencari receh tambahan untuk anak dan istrinya. Jangan lupa teman satu mobil omprengan, teman nongkrong di pos ronda, tapi belum pernah dengan teman yang suka makan di warung janda.

Ah, banyak sekali waktu laki-laki itu yang terbuang di luar. Belum lagi ekstra biaya yang harus dikeluarkan setiap makan enak. Belum ada yang minta di traktir, dengan dalih posisi Rifky di kantor sekarang yang lebih tinggi dari mereka. Belum waktu Sholat yang terlewat. Dan yang terakhir, istri tercinta nya ini ... yang merajuk dengan manis.

“Tadi makan apa?” tanya Alya akhirnya, setelah terdiam cukup lama.
“Hot plate. Mama makan apa?” Rifky balas bertanya, sambil mengusap lengan kekar sang istri yang sudah berada dalam dekapannya lagi. Lengan Alya kekar karena menggendong Atiqah dan Rasyid setiap hari.
“Telor ceplok pake kecap.”
“Sayurnya apa?”
“Timun aja, sama tomat. Selada juga, kebetulan masih ada. Males masak, Yah,” terang Alya sambil mengusap cairan yang sekarang menyumbat hidungnya.
“Maafin Ayah ya.” Tiba-tiba rasa bersalah menyergap hati, saat Rifky makan enak, sang istri makan seadanya.
“Untuk sahur gimana kalau kita beli aja, Ma? Biar gak capek, terus Mama bisa makan enak. Mau?”
Tawaran Rifky dengan cepat mengubah suasana hati dan mimik muka Alya. Seketika cerah ceria.
“Mama mau nasi padang, Yah. Gulai ayam, sama ubi tumbuk di restoran yang biasanya itu. Jangan lupa perkedel kentangnya ya. Sate padang juga boleh, gak usah pake lontong tapinya. Kerupuk kulit nya yang banyak. Sekalian beli ayam pop buat makan Rasyid nanti siang ya. Lumayan kan Mama jadi gak usah masak. Es teh nya juga sekalian beli ya, soalnya beda kalau teh dari resto padang itu. Enak.”

Rifky tersenyum, melihat bahagia istrinya yang sesederhana itu. Mirip nama restoran masakan padang yang harus di datanginya sebentar lagi. Tidak apa, pikirnya. Ini semua untuk menebus rasa bersalahnya karena keseringan bukber-bukber sama teman-teman.

Dan siapa tahu dia bisa dapat jatah sebelum subuh menyapa. Atau sebelum putri bungsunya merengek merebut apa yang Rifky ingin nikmati.

Drama bukber satu tahun yang lalu melintas di benak Alya membuatnya tersenyum. Dia bahagia, karena kemungkinan besar tahun ini tidak akan ada drama yang sama.

Dipandanginya Rifky, yang masih bersarung dan berkopiah, membimbing Rasyid menuntaskan Iqro nya. Sambil Atiqah bergelayut manja di atas punggung suaminya itu.

Sebentar lagi Adzan maghrib akan bergema. Sajian buka puasa yang Alya olah dari sehabis ashar sudah tersaji cantik di meja makan.

No more drama, cuma ada bahagia.

Komentar

Postingan Populer