CERPEN : Rumahmu Bukanlah Rumahku
Rumahmu Bukanlah Rumahku
Hari ini
Abah mengenalkanku pada kedua remaja dihadapannya. Kata Abah mereka adalah
seorang mahasiswa, entah apa tujuan mereka kemari aku pun tak peduli. Kebetulan
Abah merupakan pemilik pondok pesantren yang cukup terkenal. Jadi, aku tak
heran jika banyak mahasiswa yang keluar-masuk pesantren ini demi tugas
penelitian maupun bahan skripsi.
“Almira panggil aja Mira” Ucapku mengenalkan diri pada
mereka
“Aku Adam, senang bertemu denganmu” jawabnya begitu sopan
“Oh hai.. Aku Denis” Ucapnya, seraya mengulurkan
tangannya hendak berjabat tangan, namun tak ku balas karena dia bukanlah
mahramku apalagi didepan abah. Bisa-bisa nanti aku diceramahi panjang lebar
oleh abah.
Tak sengaja manik mataku beradu pandang dengan lelaki
yang bernama Denis. Aneh, aku merasakan sesuatu yang bergemuruh didalam dadaku.
Detak jantungku tiba-tiba berpacu lebih cepat dari biasanya. Apa yang aku
rasakan ini adalah wajar? Kedua sorot matanya begitu teduh seakan-akan aku
telah jatuh kepadanya begitu dalam. “Astaghfirullah Mira, apa yang sedang kamu
pikirkan? Tidak..tidak kamu tidak boleh seperti ini, ini sudah termasuk zina”
batinku.
Abah menyuruhku untuk mengenalkan komplek pesantren ini
kepada kedua mahasiswa tadi. Ya semacam tour guide begitu. Padahal tadinya aku
ingin melarikan diri dengan alasan membantu umi memasak di dapur, namun tetap
saja gagal.
Aku memulai
dari bagian pondok paling depan, hingga
bagian yang jarang dikunjungi para santri. Aku sangat berterima kasih kepada
suara adzan yang berkumandang, dengan begitu berakhirlah urusanku dengan kedua
mahasiswa ini. Mereka tidak tahu bagaimana aku bersusah payah untuk
menyembunyikan senyumanku ketika mataku dan mata Denis saling bertemu. Apalagi
ketika dia tersenyum menunjukan sederet giginya yang begitu rapi, subhanallah
melihatnya saja sudah begitu sejuk.
Aku rasa
dia agak pendiam, hal ini terlihat jelas ketika aku dan Adam berbicara tentang
perkembangan Agama Islam. Sedangkan Denis hanya berdiam diri saja. Dia hanya
beberapa kali tersenyum tanpa ada niat sedikitpun untuk bergabung dalam
pembicaraan.
“Kalian sholat dulu , udah tau kan dimana letak
musholanya” suruhku
“Oke mir” ucap Adam sedangkan Denis hanya membalas dengan
senyuman
Aku memandanginya dari jendela dapur, yang kebetulan
menghadap persis kearah mushola. Sulit rasanya, kedua mataku tetap saja
memandangi sosok tampan itu, Denis. Namun ada sesuatu yang agak mengganggu
fikiranku, apa Denis tidak sholat dhuhur? dia dari tadi hanya duduk diteras
mushola hingga Adam selesai sholat, dasar anak muda jaman sekarang, sholat saja
masih malas-malasan, tapi kalau urusan pacaran selalu nomor satu.
“almira.., cepat kesini bantuin abah”
“ Iya bah..”
Aku kira disuruh bantu apa, tenyata aku disuruh untuk
mengangkati Buku-buku sumbangan dari donatur. Badanku kurus loh, masih saja
disuruh mengangkat buku-buku yang mungkin lebih dari 5 tumpukan. Berat…
“Butuh bantuan?” Aku terpaku melihat sosok didepanku, ya
dia adalah Denis.
“Eh…enggak makasih” jawabku, seraya melanjutkan berjalan
kaki
Brukkkkk… sial rokku terlalu panjang, sehingga aku tak
sengaja menginjaknya. Dasar….aku jadi jatuh kan. Aku melihat Denis menahan
tawanya. Aku sangat malu.
“Kalau gak kuat bilang aja, tubuh kecil begitu sok-sok an
bawa beban berat” Ujarnya sambil membereskan buku yang berjatuhan. Bukannya
bantuin Aku dulu malah bantuin buku-bukunya.
“Bisa berdiri gak?” ini apa lagi ya tuhan… Denis
mengulurkan tangannya kearah ku? Ini mimpi kan?
“heyy” ucapnya menyadarkan lamunan ku. Aku merasa pipiku
semakin memanas.
Aku bersiap menerima uluran tangan Denis, namun aku
langsung mengurungkannya. Bagaimana jika Abah tau.. bisa mati aku. Rupanya Denis
sudah faham akan hal itu, aku jadi agak lega. Sepanjang perjalanan aku dan Denis
asik berbicara satu sama lain. Rupanya dia orangnya sangat cerewet, berbeda
dengan perkiraanku sebelumnya dan aku merasa nyaman berbicara dengannya.
“Mir.. kamu kan tinggal dipesantren kayak gini, apalagi
yang punya abah kamu sendiri. Apa kamu nggak merasa dikekang? Kan seusia kamu
ini seharusnya sudah sibuk mencari” ujarnya
“Sibuk mencari apa?” Aku menatapnya tak mengerti
“Pendamping hidup maksudnya” ucapnya sambil terkekeh
“Nggak juga sih..kalo Abah orangnya nurut Mira aja, yang
penting Mira bahagia, lagi pula kan sudah besar pasti sudah bisa nentuin mana
yang baik mana yang gak baik”
“Yang baik itu yang kayak gimana sih?” Tanya Denis
kepadaku. Sungguh pertanyaan yang tidak berbobot.
“mmm gimana ya? Yang pasti seiman. Mau
sholatnya bolong-bolong apa gimana itu masih bisa aku bimbing, tapi kalo udah
beda keyakinan, kan gak tau juga membimbingnya kayak gimana. Tuhannya aja udah
beda ” jawabku.
Aku melihat tiba-tiba Denis terdiam dan senyumnya
seketika hilang. Apa ucapanku menyinggung perasaannya? Bukankah memang fakta
jika dia sholat masih bolong-bolong? Lantas kenapa harus marah?
“Ini bukunya ditaruh dimana?” ucapnya dengan nada datar
“ke perpustakaan yang baru” ujarku.
Denis mempercepat langkahnya dan meninggalkanku begitu
saja.
“Aneh, malah
ninggalin begitu aja. Kalo tau gitu tadi gak usah dibantuin, Ibaratnya udah
kaya ditinggikan, diterbangkan lalu dijatuhkan” Runtukku dalam hati
Semenjak kejadian kemarin, aku hanya melihat Adam .
Dimana Denis? Apa dia sudah pulang lebih
dulu. Ah..ternyata tidak. Saat ini aku tengah melihat Denis memasuki dapur,
sepertinya mencari air minum.
“Darimana?”
“Habis ibadah, kenapa?”
“Subhanallah…. Masih ingat juga ternyata buat sholat
Dhuha”
Denis membalas dengan senyum tipis, namun aku melihatnya
agak dipaksakan.
Syukur Alhamdulillah, sekarang jam 10 pagi. Pasti Denis
habis sholat Dhuha. Walaupun aku sering melihat Denis tak menunaikan sholat
entah apa alasannya, aku bersyukur ia masih mau melaksanakan sholat Dhuha.
Rasanya aku jatuh dalam pesonanya
semakin dalam. Aku luluh pada sorot matanya, tempat dimana aku menemukan
keteduhan dan ketulusan. Tiap kali Denis bercerita kepadaku, pipiku terangkat
kemudian mengembang begitu saja tanpa ragu. Tiap kali dia tersenyum, astaga,
rasanya hatiku akan meledak begitu saja. Aku baru sadar jatuh cinta begitu
sederhana. Dengan melihatmu saja aku telah jatuh cinta begitu dalam dan semakin
dalam.
Entah
semalam mimpi apa, tiba-tiba saja Abah menyuruhku dan Denis untuk mengantarkan
nasi kotak ke tempat pengajian. Tumben Abah mengijinkanku keluar malam-malam
bersama laki-laki. Tapi tak apa, dengan begini aku juga bersyukur bisa bersama Denis.
Sepanjang jalan tak henti-hentinya aku dan Denis tertawa karena obrolan-obrolan
kecil yang menggelikan. Namun tiba-tiba nada bicaranya menjadi serius. Jujur
ini membuatku merasa agak tak nyaman.
“Mir.. kamu mau aku ajak ke rumahku?” Denis memasang raut
serius
“Ke Jakarta? Jauh Denis…” Bagaimana mungkin pergi ke
Jakarta, Jarak Semarang-Jakarta itu begitu jauh
“Enggak, ikut aja” pintanya dengan meyakinkan
Terpaksa aku mengiyakan
ajakannya.
Denis membawa ku ke sebuah
bangunan besar.
“Nah.. sekarang sudah sampai” aku melihat senyum kecil tulus tersirat dibibirnya.
“Apa ini? Ini rumah
Denis?”
Ujung
bangunannya seperti kubah masjid, hanya saja lebih kerucut. Rumahmu hampir sama
seperti rumahku, Didalam rumahku berkumandang lantunan ayat suci Al-qur’an
dirumahmu juga ada yang berkumandang hanya saja mereka mengumandangkan nyanyian
kepada tuhan mereka. Aku memanggil saudara-saudaraku dengan suara tabuhan
bedug, dan kamu.... memanggil semua saudaramu dengan suara gemerincing lonceng.
Jika rumahku bertuliskan lafadz Allah begitupun rumahmu yang terpampang lambang
salib.
“Mir..” panggilnya
“Mau kah kamu aku ajak untuk singgah ke rumahku? Untuk
masa depanmu dan juga masa depanku” Aku membeku, tak kuasa lagi mendengar
kalimatnya
“Rumahmu indah, tapi maaf aku tak akan pernah bisa menginjakkan
kaki ku kedalam rumahmu.Tuhanku bisa marah. Terima kasih sudah mengajakku
kerumah mu” ujarku sambil melangkah meninggalkannya.
Air mataku
seketika susul-menyusul membasahi pipi, aku biarkan mengalir begitu saja. Aku
tak sempat menghapusnya, karena aku terlalu sibuk menahan guncangan yang
menghantamku secara tiba-tiba.
Kalau semua telah berujung serumit ini, haruskah
kita saling melupakan disaat kita masih saling mencintai? Haruskah kita saling
meninggalkan saat kita tengah berada pada perasaan ingin memiliki?
Begitu menyakitkan, ada tembok besar yang menentangku, yang
berusaha menghalangi impianku bersamamu. Aku tak pernah menyalahkan agamamu
maupun agamaku, aku hanya menyesali
kenapa kita harus saling jatuh cinta. Bagaimana bisa aku berdoa untuk kebaikan
kita, sedangkan tuhanku dan tuhanmu saja berbeda.
“Aku tahu kita berbeda agama, sudah pasti itu tidak akan
mungkin. Aku bisa memelukmu, meluluhkan hati abahmu, tapi sainganku begitu
berat antara Istiqlal dan Katedral. Aku kacau, tapi aku mencintaimu. Aku harus
bagaimana?”. Ujar Denis, rupanya dia menyusulku
“Berdoalah kepada tuhanmu, aku juga akan berdoa kepada
tuhanku. Minta izinlah” Aku menguatkan hatiku untuk menjawabnya
“Sudah pasti Tuhanku dan Tuhanmu tak akan mengizinkan”
Tepat sekali
“Kau sudah tau jawabannya. Hati kita sama, hanya saja
Tuhan kita berbeda. Perbedaan ini membuat kita sama-sama dilema. Tuhanmu dan
tuhanku mempertemukan kita hanya untuk sesaat bukan selamanya.” Jawabku
tersenyum getir
“Kalau ternyata agama memisahkan kenapa Tuhan
mempertemukan” Keluhnya terluka
Aku melihat kedua mata Denis mulai berembun.
“Terkadang Tuhan hanya mempertemukan bukan mempersatukan” Percaya atau tidak inilah kenyataannya.
Mari kita belajar untuk saling mengikhlaskan takdir yang
begitu menyakitkan. Meski harus dipatahkan dan merelakan kepergian seseorang
tanpa pernah memilikinya. Kita tak lagi sama dan kita tak bisa berdiri dibawah
atap yang sama
Rumahmu bukanlah rumahku…Begitupun sebaliknya…
Komentar
Posting Komentar