UTS - Dilema lockdown
Di tengah pandemi COVID-19 yang kian memuncak, sejumlah negara-negara di dunia telah memberlakukan penguncian wilayah. Kendati tak secara resmi mengumumkan lockdown, berbagai negara lainnya memperketat perbatasan dan membatasi pergerakan warga di dalam negeri.
Pandemi COVID-19 akibat virus corona baru di tingkat global kini telah mencapai 179.165 kasus infeksi terkonfirmasi dan lebih dari 7.000 kematian. Berbagai institusi pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta telah menghimbau para staf mereka untuk bekerja dari rumah, sementara sekolah-sekolah diliburkan dan tempat peribadatan ditutup sementara.
Seruan jaga jarak (social distancing) untuk mencegah penyebaran virus telah menyebabkan pusat-pusat bisnis dan hiburan yang biasanya ramai kini ditinggalkan dan terabaikan. Beberapa gerai makanan seperti Starbucks kini tak lagi menyediakan kursi sehingga pelanggan hanya bisa memesan untuk dibawa pulang, bukan dinikmati di tempat.
LOCKDOWN
COVID-19 menjadi dilemma ekonomi dan nyawa manusia. Kritik yang mengatakan
bahwa pemerintah terlambat mengantisipasi COVID-19 memang benar, pasalnya banyak
bukti korban terus berjatuhan, APD untuk tim medis terbatas, sejumlah dokter
meninggal dan korban yang terpapar semakin hari kian membludak. Update kasus
COVID-19 hingga 30 maret 2020 yaitu 1414 kausu, 122 meninggal, 75 sembuh.
Setiap hari jumlah yang terinfeksi dan meninggal dunia terus bertambah.
Lalu apa yang harus di lakukan ? cukupkah kebijakan
Sosoal Distanding, anjuran jaga jarak, kerja diruma, belajar di rumah ?
Lockdown local menurut Undang- Undang nomor 6 tahun
2018 I sebut karantina wilayah mungkin menjad solusi terbaik saat ini.
Tapi tidak sedikit juga masyarakat yang bertanya
Tanya bagaimana nasib kita yang berpenghaslan harian rendah ? Kebutuhan yang
terus menerus setiap hari sedangkan tidak dapat melakukan pekerjaan.
Harga masker, hand sanitizer emggila, demikian juga
maal, swalayan dan pusat perbelanjaan di serbu masyarakat untuk mengantisipasi
lockdown , itu mungkin tidak menjadi masalah bagi mereka yang memiliki banyak
uang, tapi bagi masyarakat yang memiliki kondisi ekonomi yang pas pas an bahkan
kurang mereka sangat kesulitan. SURGA BAGI ORANG KAYA NERAKA BAGI ORANG MISKIN
Pemerintah benar benar dihadapkan
antara nyawa dan krisis. harus menerapkan lockdown untuk memutus rantai
penyebaran COVID-19 tetapi kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi yang semakin
melambat pasti akan terjadi.
Presiden Joko Widodo menyampaikan langsung soal beberapa upaya untuk ringan kan derita warga di tengah pandemi corona. hal itu di sampaikan dalam rapat terbatas lewat video converence yang disiarka chanel youtube sekretariat presiden, selasa (24/3/2020).
Jokowi meminta pemerintah provinsi menyiapkanrealokasi dan refocusing anggaran. Selain itu, jokowi juga mengungkapkan soal implementasi program kartu pra-kerja. Program kartu pra-kerja dijalankan untuk mengantisipasi PHK akibat wabah virus corona di indonesia.
Tak hanya itu, jokowi juga menampung banyak keluhan dari pengusaha mikro,kecil dan menengah (UMKM) . Banyak yang mengeluh sepinya omzet.
Komentar
Posting Komentar