Sahabat Secret Admire
Sahabat Secret Admire
Namaku adalah
Burhan. Aku berteman dengan Dina sejak dari kelas tiga SMA. Hingga sekarang aku
telah bekerja di sebuah perusahaan percetakan, sedangkan Dina memilih untuk
melanjutkan kuliahnya. Wwalaupun telah terpisah jarak, tetapi komunikasi antara
kami tak pernah terputus. Saat Dina sedang dilanda permasalahan baik dalam
urusan keluarga ataupun kuliahnya, ia pasti mencurahkan permasalahanya itu
kepadaku. Yah, walaupun aku tak bisa memberikan solusi yang tepat, tetapi
menurut Dina aku adalah seorang pendengar yang baik. Dan aku memang selalu
inDIn menjadi pendengar yang baik untuknya.
Hubunganku
sangat dekat dengan Dina. Aku ingat, dulu waktu semasa SMA teman-teman kami
sering memperolok kami pacaran, bahkan mereka mengatakan kami adalah pasangan
yang serasi. Tetapi, aku menghormati Dina yang selalu menganggapku sebagai
sahabat terbaiknya. Dan hingga kini, kami masih berkomitmen untuk selalu
menjadi sahabat yang saling menyayangi.
Pada saat
kelulusan SMA, Dina pernah bercerita kepadaku bahwa ia telah jadian dengan
seorang cowok yang sudah lama ia taksir. Dina selalu mengatakan kepadaku,
betapa ia sangat mencintai kekasihnya. Hubungan itu berlangsung selama dua
tahun dan mereka sudah sama-sama yakin akan cintanya masing-masing, hingga
akhirnya sebuah kejadian tragis memisahkan cinta mereka berdua.Baru tahun yang
lalu, kekasih Djna menjnggal dalam sebuah kecelakaan. Sepeda motor yang
dikendarainya itu oleng dan terserempet oleh sebuah bus yang sedang melaju
kencang. Peristiwa tersebut terjadi ketika kekasihnya itu bermaksud menjemput
Dina untuk menuju ke kampusnya.
Dina sangat
terpukul dengan kejadian tersebut. Betapa, kesedihanya sangat ku rasakan kala
itu. Semenjak itu, Dina menjadi seorang yang pemurung. Bahkan, sesekali ku
temukan ia dalam keadaan menangis di kamarnya pada saat aku menjenguknya.
Keadaan itu berlangsung selama kurang lebih satu tahun, dan sebagai sahabat
yang menyayanginya, aku tak bisa membiarkan Dina seperti ini seterusnya.
Diam-diam, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan mencarikan seseorang yang
pantas menggantikan kekasih Dina dahulu, seseorang yang bisa membuat sahabatku,
RaDina Putri Oktavia kembali menjadi gadis yang ceria. Ya, aku akan mencarikan
seorang kekasih untuk sahabatku.
Tak ku sangka,
puisi-puisi kiriman S.A mampu membuat Dina kembali tersenyum, walaupun
terkadang ia masih terlihat sedih takkala mengingat kejadian lampau. Tetapi ku
pikir, ini adalah langkah awal yang baik. Dan ku pikir pula, pilihanku memilih
S.A adalah langkah yang tepat. Hari ini, sepulang kerja sengaja aku mampir
sebentar kerumah Dina. Kulihat Dina sedang menggenggam setangkai mawar ditangan
kanannya dan sebuah kertas ditangan kirinya.
"Cie,cie...yang sekarang punya Secret Admire. Seneng banget kayaknya." aku mengagetkan Dina yang disambut senyum sumringah darinya.
"Eh, iya nih Bur. Secret Admireku baru aja mengirimkan aku puisi dan bunga mawar ini." jawab Dina seraya menyodorkan kertas yang ada ditangan kirinya. Ku baca isi kertas itu dengan seksama.
"Cie,cie...yang sekarang punya Secret Admire. Seneng banget kayaknya." aku mengagetkan Dina yang disambut senyum sumringah darinya.
"Eh, iya nih Bur. Secret Admireku baru aja mengirimkan aku puisi dan bunga mawar ini." jawab Dina seraya menyodorkan kertas yang ada ditangan kirinya. Ku baca isi kertas itu dengan seksama.
"gimana Bur?" Dina
bertanya pendapatu tentang puisi itu.
"DIn, aku boleh bertanya nggak?" aku berbalik bertanya padanya.
"apa?"
"memang sih, cara dia memberikan surprise padamu sangat manis dan romantis. Tapi, kalau ternyata pada kenyataanya si S.A nggak semanis dan seromantis seperti surprisenya padamu gimana?" aku bertanya dengan serius.
"kamu seperti nggak kenal aku aja Bur, kamu kan tau aku itu orangnya nggak pilih-pilih. Yang penting orangnya itu benar-benar tulus dan peduli sama aku."
jawaban Dina barusan membuat aku semakin kagum sekaligus bangga sebagai sahabatnya. Memang, dari dulu Dina tak pernah pilih-pilih dalam menjalin sebuah persahabatan. Baginya, fisik itu bukan yang utama.yang terpenting adalah akhlak dan hatinya.
"memangnya kenapa Bur kamu tanya seperti itu?" pertanyaan Dina membuyarkan lamunanku barusan.
"nggak apa-apa kok, emang nggak boleh ya aku bertanya?"
"ya boleh dong. Tapi aku kira tadi, kamu tuh tau sebenarnya si S.A itu siapa."
"nggak mungkinlah Din, mungkin malaikat kali yang memberi tau identitas kamu ke dia." aku hanya menjawab seenaknya.
"ah, kamu bisa aja Bur." Sebuah senyum kembali menyimpul dibibirnya.
Aku memang sengaja belum berniat memberi tau tentang S.A kepada Dina karena aku tak ingin tergesa-gesa. Dan akupun tau, saat ini Dina belum siap untuk menerima seseorang sebagai pengganti kekasihnya yang dulu.
"DIn, aku boleh bertanya nggak?" aku berbalik bertanya padanya.
"apa?"
"memang sih, cara dia memberikan surprise padamu sangat manis dan romantis. Tapi, kalau ternyata pada kenyataanya si S.A nggak semanis dan seromantis seperti surprisenya padamu gimana?" aku bertanya dengan serius.
"kamu seperti nggak kenal aku aja Bur, kamu kan tau aku itu orangnya nggak pilih-pilih. Yang penting orangnya itu benar-benar tulus dan peduli sama aku."
jawaban Dina barusan membuat aku semakin kagum sekaligus bangga sebagai sahabatnya. Memang, dari dulu Dina tak pernah pilih-pilih dalam menjalin sebuah persahabatan. Baginya, fisik itu bukan yang utama.yang terpenting adalah akhlak dan hatinya.
"memangnya kenapa Bur kamu tanya seperti itu?" pertanyaan Dina membuyarkan lamunanku barusan.
"nggak apa-apa kok, emang nggak boleh ya aku bertanya?"
"ya boleh dong. Tapi aku kira tadi, kamu tuh tau sebenarnya si S.A itu siapa."
"nggak mungkinlah Din, mungkin malaikat kali yang memberi tau identitas kamu ke dia." aku hanya menjawab seenaknya.
"ah, kamu bisa aja Bur." Sebuah senyum kembali menyimpul dibibirnya.
Aku memang sengaja belum berniat memberi tau tentang S.A kepada Dina karena aku tak ingin tergesa-gesa. Dan akupun tau, saat ini Dina belum siap untuk menerima seseorang sebagai pengganti kekasihnya yang dulu.
Tak terasa waktu
terus berlalu, sang Secret Admire masih tetap rajin mengirimkan puisi-puisi
yang indah kepada Dina. Keadaan Dinapun kini telah membaik. Ia telah kembali
seperti dulu, Dina yang murah senyum dan selalu ceria. Bahkan, tak lama lagi ia
akan menamatkan kuliahnya. Aku turut merasakan kebahagiaan yang tengah
dirasakan Dina saat ini. Dua hari menjelang wisudanya, Dina menerima sebuah
kiriman lagi dari Secret Admirenya. Tetapi kali ini bukanlah sebuah puisi,
melainkan sebuah pesan yang berbunyi
aku akan datang dan menemuimu pada saat kau wisuda, tunggulah aku di taman dibawah pohon berinDIn didepan kampusmu.
Betapa senangnya Dina mendapat pesan itu. Dari semua surprise yang dikirimkan oleh sang Secret Admirenya, pesan inilah yang membuat dirinya paling bahagia. Bertemu dengan sang pemuja rahasia.
aku akan datang dan menemuimu pada saat kau wisuda, tunggulah aku di taman dibawah pohon berinDIn didepan kampusmu.
Betapa senangnya Dina mendapat pesan itu. Dari semua surprise yang dikirimkan oleh sang Secret Admirenya, pesan inilah yang membuat dirinya paling bahagia. Bertemu dengan sang pemuja rahasia.
Hari ini adalah
hari yang ditunggu-tunggu oleh Dina. Hari wisudanya sekaligus hari dimana ia
akan bertemu dengan Secret Admirenya, seseorang yang telah mengembalikan
senyumanya, seseorang yang telah mengembalikan kehidupanya. Namun aku tak bisa
ikut hadir dalam kebahagiaan itu karena ada pekerjaan mendadak yang tak bisa
aku tinggalkan. Untunglah, Dina sangat mengerti keadaanku. Setelah acara
wisudanya selesai, Dina bergegas menuju ke taman seperti yang dijanjikan.
Disana terdapat pohon berinDIn yang tumbuh dengan gagah. Jantung Dina mulai
berdegup dengan kencang. Di bawah pohon berinDIn itu berdiri seseorang dengan
posisi membelakanDInya. Tubuhnya gagah, segagah pohon beringin yang
memayunDInya.
"ka, kamu S.A?" Dina bertanya dengan terbata-bata kepada lelaki yang membelakanginya itu.
sang lelaki membalikkan tubuh gagahnya. Betapa terkejutnya Dina melihat sosok didepanya kini yang tak lain adalah diriku sendiri.
"ya Dina, akulah Secret Admiremu, Burhan Adiguna. Sebenarnya telah lama aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Tapi atas nama persahabatan, perasaan itu selalu ku tepis sebisaku. Takkala kulihat kesedihanmu, hatiku terasa terkoyak-koyak. Aku merasa tak berguna sebagai laki-laki yang mencintaimu. Maka di dalam hati, aku bersumpah untuk seumur hidupku, bahwa aku akan menjadi seseorang yang akan selalu membahagiakanmu. Tapi bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang kekasih."
"ka, kamu S.A?" Dina bertanya dengan terbata-bata kepada lelaki yang membelakanginya itu.
sang lelaki membalikkan tubuh gagahnya. Betapa terkejutnya Dina melihat sosok didepanya kini yang tak lain adalah diriku sendiri.
"ya Dina, akulah Secret Admiremu, Burhan Adiguna. Sebenarnya telah lama aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Tapi atas nama persahabatan, perasaan itu selalu ku tepis sebisaku. Takkala kulihat kesedihanmu, hatiku terasa terkoyak-koyak. Aku merasa tak berguna sebagai laki-laki yang mencintaimu. Maka di dalam hati, aku bersumpah untuk seumur hidupku, bahwa aku akan menjadi seseorang yang akan selalu membahagiakanmu. Tapi bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang kekasih."
Kami cukup lama
dalam kebisuan masing-masing. Sekejap, ku berpikir Dina kecewa terhadapku.
Akupun berbalik arah dan bermaksud meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, Dina
segera berlari dan memeluk erat pinggangku dari belakang seraya berkata
"mengapa tak kau katakan itu dari dulu?"
Dinapun menangis dalam pelukanku. Tapi kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan kami berdua.
"mengapa tak kau katakan itu dari dulu?"
Dinapun menangis dalam pelukanku. Tapi kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan kami berdua.
Komentar
Posting Komentar