CERPEN Semesta Tak Pernah Ingkar Janji


                                      SEMESTA TAK PERNAH INGKAR JANJI

Awal tahun ajaran baru SMA, hal yang paling ditunggu oleh banyak kaum remaja, karena konon katanya masa SMA adalah masa yang paling terindah semasa remaja. Dian salah satu siswi dari SMPN Purnama adalah salah satu orang yang menunggu masa-masa ini, ia kini sedang duduk di bangku kelas 9 SMP.

Dua minggu yang akan datang adalah hari Ujian Nasional yang merupakan puncak dari pembelajaran selama tiga tahun. Dian juga sudah merencanakan dimana dia akan sekolah selanjutnya, tentunya dengan berdiskusi dengan orang tuanaya, orang tua Dian menyarankan untuk melanjutkan di SMKN Purnama saja , karena lokasinya yang dekat dan banyak teman Dian yang melanjutkan ke SMKN Purnama juga, namun Dian menolak, karena Ia tidak ingin sekolah dengan basic kejuruan, SMKN Purnama sendiri dekat dengan SMPN Purnama dan teman-teman dian juga banyak yang melanjutkan sekolah kesana, yang otomatis Dian akan merasakan suasana yang sama , yang Dian inginkan adalah suasana baru, memperluas kehidupan social dengan banyak orang, dan salah satu tujuan Dian melanjutkan ke sekolah SMA adalah karena cita-citanya ingin menjadi seorang perawat. Keinginan Dian tidak muluk-muluk Dia mau di sekolahkan  SMA mana saja, namun orang tua Dian tidak memberikan jawaban apapun sampai pengumuman kelulusan tiba.

Tepat satu minggu setelah pengumunan kelulusan adalah hari pendaftaran sekolah menengah baik sekolah menengah atas maupun sekolah menengah kejuruan. Dian hanya pasrah beriap diri mau didaftarkan disekolah mana saja oleh orang tuanya, Dianpun berangkat untuk pendaftaran oleh ibunya menaiki sepeda motor, Dian hanya bisa berharap ia didaftarkan ke sekolah berbasic SMA, beberapa menit berlalu sampailah Dian dan ibunya ke tempat yang dituju, kurang lebih tiga puluh menit waktu yang ditempuh hingga sampai ke tempat tujuan yaitu SMAN Kusuma, yang merupakan SMA yang cukup ternama pada jajaranya, Dian sangat senang hingga tidak bisa berkata-kata, pada saat itu Diang dan ibunya dating terlalu awal hingga tidak ada satupun orang di SMA tersebut, merekapun menunggu di serambi masjid di SMA tersebut yang terletah di depan dari bagian sekolah tersebut, beberapa menit berlalu bany siswa-siswi lain yang berbondong-bondong ingin mendaftar, antran yang cukup panjang dan melelahkan, pada hari itu adalah hari ketiga puasa, pendaftaranpun selesai, Dian dan Ibunya kembali pulang di bawah naungan sinar matahari yang cukup menyengat, dalam hati kecil Dian sangat ingin membatalkan puasanya, namun diurungkan karena sesampainya dirumah Dian tertidur lelap karena kecapekan.

Hari-hari berlalu, sambil menunggu hari tes skolastik Dian mulai belajar mempersiapkan diri untuk ter, karena selain nilai UN, nilai tes skolastik juga menjadi salah satu syarat masuk dalam syarat masuk sekolah menengah guna seleksi system gugur. Hari yang ditungu telah tiba, Dian diantar ibunya untuk tes skolastik, pada hari itu Dian cukup senang karena soal-soal yang keluar banyak soal yang sudah dipelajari oleh Dian, iapun optimis dapat menjadi siswi SMAN Kusuma. Dan pengumumanya akan keluar setelah tujuh hari setelah tes skolastik.

Hari pengumuman yang ditunggu telah tiba, Orang tua Dianpun sudah tidah sabar untuk tahu hasilnya, pengumunan dapat diakses lewat jalur online, pada saat itu Dian menggunakan via SMS dengan mengetikan nomor peserta ujian untuk mengetahui hasilnya, jantung Dian bedetak kencang, rasa yang tercampur aduk antara rasa optimis diterima dengan rasa takut  gagal, perlahan Dian megetik dan mengirimkan pesan, tak menunggu lama Dian mendapat balasan dari pesanya, rasa ragu dan penasaran bercampur, Dian memberanikan diri untuk membuka pesan tersebut, dan akhirnya pesanya dibuka, kalimat selamat yang didapat seketika Dian memberi tahu orangtuanya dengan kegirangan berapa bahagianya keluarga Dian pada saat itu, apa yang diinginkan anaknya tercapi.

Awal masuk SMA seperti pada umumnya diadakan masa orientasi siswa (MOS), guna mengenalkan lingkungan sekolah dan menjalin keakraban antara warga sekolah. MOS sendiri dilakukan selama satu minggu dengan kelas acak dan belum ada penjurusan. Selama MOS Dian tidak punya teman yang akrab hanya sekerdar tau nama teman di kelasnya saja, dia hanya berbicara dengan Yayan yaitu sepupu dari Dian, hari terus berlalu, Dian sangat tidak nyaman dengan rangkaian kegiatan MOS karena pemandu kegiatan MOS (OSIS) malah seperti menyalahgunakan kekuasaanya untuk menggodai adik-adik kelasnya, Dian sangat tidak nyaman dengan itu. Hingga hari terakhir MOS-pun tiba, hari itu adalah hari pembagian kelas dan jurusan Dian sangat berharap akann masuk jurusan MIPA, karena sesuai cita-citanya menjadi seorang perawat, pengumuman ditempel di madding setelah sholat dzuhur dilaksanakan, sangat berdesakan dan Dian memilih untuk melihat belakangan karena postur tubuhnya yang kecil dan tak akan mampu bila berdesak-desakan, setelah lama menunggu Dian akhirnya bisa membaca pengumuman itu dan ternyata sesuai harapan Dian masuk di kelas MIPA tiga, senang yang tak terbendungkan yang dirasakan oleh Dian.

Hari pertama masuk sekolah, di kelas baru dengan teman yang tiga taun kedepan mendampinginya, seperti biasa Dian tidak memiliki teman karena tidak ada satupun dari mereka yang mau mengajak Dian berkenalan, maklum saja muka Dian yang garang dan tidak banyak bisaca menjadi factor penyebabnya, namun sebenarnya Dian adalah anak yang ramah dan banyak bicara hanya saya ia masih mali-malu untuk memperlihatkan itu. Hari demi hari terlewati akhirnya Dian sudah dapat berinteraksi dengan teman-temanya, namun disisi lain Dian belum bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya karena karakter teman-temanya yang begitu berbeda jauh dari teman-temannya waktu di SMPN Purnama dulu.

Walau bagaimanapun Dian harus menjalani kehidupan barunya, menyesuaikan diri terhadap lingkungan juga penting guna kenyamanan belajarnya, Dian memulai dengan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya ia memilih untuk ikut di ekstrakulikuler PMR sesuai dengan tujuan masa depanya Dian kira ekstrakulikuler ini akan menjadi bekal yang bermanfaat untuknya, dan ekstrakulikuler satu lagi yaitu menjadi anggota ROHIS, Dian rasa kegiatan kemanusiaan itu penting namun harus seimbang dengan kegiatan kerohanian. Dian sangat rajin dan aktif dikegiatan ekstrakulikulernya ia sangat nyaman dan gemira walau dia belum cocok dengan difst-sifst teman satu kelasnya padahal hampir satu tahun berlalu.

Pada suatu hari dimana saat Dian pulang sekolah mengendarai motoornya dengan kecepatan sedang, ia menyaksikan kejadian tabrak lari oleh anak kecil yang mengendarai motor bonceng tiga dan menyerempet nenek tua renta yang hendak pergi kesawah, pada saat itu hanya dian satu-satunya saksi mata ia menyaksikan nenek yang terkapar lemah ditengah jalan karena ditinggal lari oleh anak yang menyerempetnya, hati kecil Dian memanggil untuk menolong sang nenek yang sudah tengkurap lemah takberdayam Dian memberanikan diri mendekati nenek itu, lalu memegang sang nenek yang setelah ia lihat nenek tersebut berumuran dara di mukanya yang keluar dari mulut dan hidung, Dianpun segera mencari pertolongan dalam keadaan menangis kasian dan sok melihat banyaknya darah yang keluar. Setelah mendaoat pertolongan para warga menganjurkan Dian untuk pulang sata dan nenek tedi sudah dibawa ke rumah sakit terdekat, menuju perjalanan pulang Dian masih terngiang dengan darah sis nenek tadi, ia merasa takut tak karuan, semenjak hari itu Dian mengurungkan niatnya untuk menjadi seorang perawat karena sejak kejadian itu Dian trauma akan sarah,


Hari begitu cepat berlalu, Dian menceri kesibukan lain untuk mencari apa yang harus dipilih untuk masa depanya, citacita menjadi perawa seketika pupus mati hilang tak tersisa, kini Dian tertarik dengan dunia pertanian dan menyukai pelajaran biologi, tak terasa tiga taun masa SMA sudah terlewati, kini tiba waktunya menuju ke masa depan dengaan melanjutkan kualiah, selama tiga tahun belajar Dian menjadi siswi yang berprestasi ia sering mendapatkan juara kelas mulai dari tinggkat lima besar hingga tiga besar dikelasnya, ia juga menjadi salah satu siswa yang terpilih diperbolehkan mendaftar perguruan tinggi lewat jalur rapot, ia mendapatkan parallel tingkat enam disekolahnya tingkat satu sekolahan,


Dian mulai membicarakan niatnya untuk medaftar di fakultas pertanian, namun kedua orang tua Dian menolah karena orang tua Dian menganggap bahwa fakultas pertanian tidak terlalu menjanjikan untuk masa depanya, hal ini yang dipengaruhi oleh tetangga dian yang menganggur setelah menyandang sarjana pertanian, orang tua Dian lebih menganjurkan untuk masuk fakultas MIPA, yang berbau ilmu teknologi atau Bahasa inggris, karena kemampuan Bahasa inggris Dian lemah tentunya dia tidak akan memilih fakultas Bahasa inggris, Dian mulai binggung lagi-lagi keinginanaya pupus sebelum dioerjuangkan, sebenarnya Orang tua Dian tidak setuju bila Dian kuliah di provinsi tempatnya , orang tua  Dian menginginkan Dian kuliah di kampus yang berada di kabupaten saja, bukan ketidakadaan biaya melainkan orang tua Dian tidak tega jauh dengan Dian karena Dian adalah anak bunggu yang juga suka memilih-milih makanan itu sebabnya hingga kini Dian berbadan kurus. Dian tidak menghiraukan keinginan kedua orang tuanya yang tidak meridhoi ia kuliah di provinsi, Dian nekat mendaftarkan diri untuk mendaftar di kampus provinsi melalai berbagai jenis pendaftaran yang menggunakan system menggunakan nilai rapt, alhasil dari nekat dan ketidak ridhoan orang tuanya Dian tidak di terima di kampus manapun dari pendaftaran lewat jalur rapot.

Kebanyakan teman-teman Dian diterima di kampusyang di tuju bahkan temanya yang paralelnya jaug dari Dian, rasa kecewa terselip dihatinya, ia merasa perjuangan selama tiga tahun belajar mendapat peringkat terbaik sia-sia begitu saja, karena ia tidak di terima di kampus manapun lewat jalur rapot. Namun keterpurukan ini tidak berlangsung lama Dian akan mencoba pendaftaran melalui jalur tes, Dian pun berjuang keras belajar agar dapat di terima di fakultas yang dituju. Waktu tes telah tiba dian berangkat ke kota Sanjaya untuk menjalani tes masuk perguruan tinggi, sampai saat itu orang tua Dian masih tidak meridhoi Dian kuliah di provinsi hingga orang tua Dian mendapat kabar bahwa akan diadakan beasiswa penuah yang lokasi kampusnya dekan dengan rumah Dian, awalnya Dian menolak untuk daftar beasiswa tersebut, namun Dian dan orang tuanya membuat perjanjian Dian boleh mendaftar di kampus provinsi tapi dian juga harus  mendaftar di beasiswa pilihan orang tuanya,, jika nantinya Dian masuk di kedua kampus yang didaftarinya Dian diperbolehkan untuk memilih kampus di provinsi namun jika Dian diterima di kampus beasiswa pilihan orangtuanya saja mau tidak mau dian harus memasukinya.

Serangkaian perlengkapan berkas dan tes akademik untuk mendaftar pergguruan tinggi dari kedua kampus telah dilaksanakan, Dian sudah  melakukan yang terbaik dan kini tinggal menunggu hasil kerja keras yang telah dilakukan. Pengumuman di kampus beasiswa sudah terlebih dahulu keluar satu hari sebelum pengumuman di kampus provinsi, dan Dian diterima di kampus beasiswa pilihan orang tuanya, Dian masih berharap untuk diterima di kampus provinsi, ia menunggu hari esok yang merupakan hari penentu kelanjutan kehidupanya, hari yang di tungu telah tiba dian membuka ponselnya unutuk melihat pengumunman karena diumumkan secara online dan lagi-lagi Dian di tolak di kampus provinsi, sesusi perjanjian Dian harus masuk di kampus beasiswa pilihan orang tuanya. Dari sini Dian baru sadar bahwa ridho orang tua sangat berpengaruh dalam setiap langkah setiap anaknya, dan Dian baru sadar bahwa jauh dari orang tua itu hal yang sangat sulit, kini Dian besyukur dan tidak menyesali apapun, dia senang  masih bisa dekat dengan oragtuanya dan dari beasiswa ini lenih menjamin kehidupan Dian selanjutnya karena usai lulus Dian akan dipekerjakan menjadi pegawai oleh perusahaan yang membiayai kuliahnya dan yang ebuat Dian bangga adalah Dian mampu menuruti apa  yang menjadi keinginan orangtuanya.






Komentar

Postingan Populer