UTS - Anjloknya Harga Minyak Dunia


Anjloknya Harga Minyak Dunia

Harga minyak mentah dunia merosot ke level terendah sejak tahun 2002. Penurunan harga minyak di karenakan kekhawatiran investor terhadap pelemahan permintaan di tengah meningkatnya penyebaran virus corona di berbagai belahan dunia.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei dipatok US$20,09 per barel atau turun US$1,42 di New York Mercantile Exchange.
Sementara, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun US$2,17 menjadi US$22,76 per barel di London ICE Futures Exchange. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak 2002.
Penurunan permintaan minyak tak lain karena lebih dari 3 miliar orang di dunia mengunci diri mereka di dalam rumah demi menekan resiko penularan penyakit covid-19.
Harga minyak telah terkoreksi lebih dari setengahnya dalam satu bulan terakhir lantaran banyak perusahaan yang memangkas atau bahkan menghentikan produksinya. Selain karena permintaan minyak mentah yang terus merosot, perang harga yang terjadi antara Arab Saudi dan Rusia turut menjadi penyebab lain dari harga yang terus terkoreksi.
Perang harga tersebut terjadi ketika Arab Saudi gagal melakukan negosiasi dengan Rusia untuk memangkas produksi. Padahal keputusan tersebut telah di setujui oleh anggota OPEC lain. Keputusan pemangkasan produksi tersebut muncul akibat rantai logistic dunia yang telah terdampak oleh virus corona (covid-19).
Di Indonesia sendiri, dalam hal ini adalah Pertamina (persero) belum berencana memangkas investasi migas pada tahun ini. Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menyatakan perusahaan belum merivisi rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP). Meski demikian, pihaknya akan terus memantau pergerakan harga minyak dunia.
“Sampai saat ini kami tetap berupaya menjalankan operasional sesuai rencana kerja awal dengan lebih efektif dan efisien. Tapi pasti akan dilakukan review kedepan bagaimana efektifitas pelaksanaanya”, kata Fajriyah kepada Katada.co.id, Jumat (27/30).

Adapun investasi Pertamina pada tahun ini meningkat sebesar US$ 7,8 miliar atau sekitar Rp 126 triliun, naik dari tahun lalu sebesar US$ 4,2 miliar. Investasi terbesar dialokasikan ke sector Hulu dengan nilai investasi mencapai US$ 3,7 miliar. Rencananya perusahaan itu akan menggunakan mayoritas dana investasi untuk kegiatan pengeboran sumur migas.

Sedangkan produksi migas Pertamina pada tahun ini di targetkan mencapai 923 MBOEPD atau naik di bandingkan 2019 sebesar 906 MBOEPD. Sedangkan lifting migas mencapai 741 MBOEPD atau naik di banding tahun lali sebesar 732 MBOEPD.

Anak usaha Pertamina di sector Hulu yakni Pertamina EP juga belum berencana untuk mengubah rencana kerja pada tahun ini. Pasalnya, dampak pandemic virus corona belum berpengaruh terhadap kegiatan produksi migas perusahaan.

Lebih lanjut, Nanang menyebut produksi minyak Pertamina EP saat ini telah mencapai 81.601 ribu barrel minyak per hari (BOPD) atau 96% dari target produksi. Sedangkan produksi gas mencapai 956 MMSCFD atau 105% dari target. Pada tahun ini perusahaan menargetkan produksi minyak sebesar 85.000 BOPD dan gas sebesar 909 MMSCFD.




Nama  : Wagito
NIM     : 191420405
Kelas    : PEPC-F ( Mekanik )

Komentar

Postingan Populer