UAS - KEBOHONGAN BAPAK
Orang itu adalah Bapak Roni.
Pekerjaannya sehari-harinya tak menentu. Ia bekerja serabutan hanya
untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Ia memiliki seorang anak perempuan,
bernama Rani. Roni cukup tahu diri, ia sadar memiliki anak
banyak dengan keadaan hidupnya yang seperti ini dapat lebih membebani
finansial keluarganya. Jika dipaksakan, bisa-bisa semua anaknya akan terlantar
kelak. Dan Roni tidak mau hal itu terjadi. Bahkan Ia dan
keluarganya tidak dapat membeli tempat tinggal, mereka sekarang tinggal di
sebuah rumah tua yang berdiri di daerah kumuh, pinggiran ibu kota.
Roni dengan
istrinya, Risma, membesarkan Rani dengan penuh kasih sayang walaupun
dengan keadaan yang bisa dikatakan kekurangan. Namun hasil dari
kerja kerasnya, Rani tumbuh menjadi anak perempuan yang pintar serta hormat
kepada orang tuanya.
Dikarekan biaya
yang ia miliki sangat terbatas, Rani hanya dapat bersekolah di
sekolah darurat di bawah jembatan yang tak jauh dari rumahnya. Di sekolah
tersebut, Roni tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Walaupun
tempat dan fasilitasnya sangat terbatas, yang penting Rani mendapatkan
pelajaran yang seharusnya diterima oleh anak seusianya.
Setiap
pagi, sebelum Rani berangkat ke sekolah daruratnya, Roni menasehati
Rani dengan kalimat yang sama, "Sekolah yang baik ya, Nak, supaya kamu menjadi
orang yang sukses. Jangan seperti bapak dan ibumu." Ucap Roni dengan
penuh harap, Rani selalu termotivasi untuk belajar lebih giat lagi.
Suatu
hari, saat Roni pulang lebih awal dari pekerjaannya, ia menemukan
Rani tertidur dengan selebaran yang berasa di dekat kepalanya. "Apa
itu, Bu?" tanya Roni penasaran, saat istrinya datang menyambut
suaminya itu dengan segelas air putih. Risma menoleh ke arah kertas
yang ditunjukan oleh Roni, lalu menggeleng. "Aku nggak tahu, Pak. Aku
kan buta huruf, mana bisa aku baca selebaran itu. Rani dari tadi sibuk
memandangi kertas itu," jawabnya dengan nada memelas.
Dengan perlahan, Roni menariknya tanpa
berniat membangunkan putrinya. Lalu perlahan, ia mulai membaca kata demi kata
yang terdapat di sana. Dengan wajah penasaran, Risma bertanya,
"Jadi apa itu, Pak?"
"Sepertinya
Rani ingin mengikuti lomba menggambar, tapi ia tahu jika kita tidak punya uang
jadi dia diam saja."
"Maksud
Bapak?"
"Di
sini ditulis, biaya pendaftaran lomba menggambar ini sebesar dua ratus ribu,
Bu," jelas Roni.
"Astaga,
uang darimana sebanyak itu?" Risma memasang wajah syok. "Tapi
kasihan Rani, kalau tidak mengikuti lombanya."
"Biar aku yang
urus ini," ucap Roni lalu bergeser sedikit untuk membangunkan
Rani. Risma sedikit bingung melihat apa yang dilakukan suaminya itu,
terlebih ketika mendengar Roni menyuruh Rani untuk membuat gambar
yang akan dikirimkan untuk lomba tersebut lomba. Tentu Rani sangat
bahagia, ketika tahu ia diperbolehkan mengikuti lomba menggambar itu.
Keesokkan
paginya, Roni bangun lebih pagi dari hari biasanya berniat untuk
mencari uang lebih giat lagi, untuk mencari uang pendaftaran lomba tersebut. Pada
selebaran itu, dituliskan jika waktu paling lambat pengiriman hasil menggambar
adalah tanggal 29 yang artinya masih ada waktu sekitar satu minggu lagi untuk
mengumpulkan uang.
Kenyataanya
yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang Roni rencanakan. Uang
itu tidak terkumpul, setenganya pun tidak ada. Padahal, Ia sudah
bekerja lebih lama dari biasanya. Ia bahkan mengurangi biaya makan
keluarganya sehari-hari, dengan mengurangi porsinya sendiri. Jika
biasanya mereka selalu membeli tiga buah nasi bungkus, akhir-akhir
ini Roni kadang hanya membeli dua bungkus saja. Namun, mengapa
uang itu tidak terkumpul juga?
Di
pinggir jalan, Roni terdiam. Ia tidak ingin mengecewakan
putri satu-satunya itu, apalagi mengingat perkataanya tadi malam sebelum tidur.
"Bapak,,
Rani hanya ingin punya piala. Makasih ya Pak, sudah membolehkan Rani
ikut lomba ini, Rani jadi punya kesempatan untuk punya piala, deh."
Bahkan Roni masih
ingat betul mata Rani yang berseri-seri, menunjukan keantusiasannya. Roni benar-benar
tidak mau meredupkan cahaya itu dari mata Rani.
Sekarang
sudah berjalan tiga hari setelah batas terakhir pendaftaran dan pengiriman
gambar, yang mana hari ini pemenang dari lomba tersebut akan diumumkan. Roni bisa
saja bilang pada Rani jika ia tidak dapat juara dan mungkin masalah akan
selesai sampai disitu. Namun, Roni tidak setega itu. Ini adalah
kali pertamanya Rani ingin mengikuti lomba semacam ini. Selama ini, Rani tidak
percaya diri dengan gambar buatannya. Takutnya, jika Roni berbohong
dan berkata kalau Rani kalah, padahal Rani sama sekali tidak bertanding. Rani
akan kembali terpuruk dan lebih buruknya, ia akan lebih tidak percaya diri dari
sebelumnya.
Ketika
sedang melamun, tanpa sengaja Roni menengadah dan melihat ke arah
depan. Di depan sana ia melihat sebuah toko yang menjual piala. Dan tiba-tiba
saja sebuah ide terbesit dalam benaknya. Tersenyum, Ia segera
bangkit dari tempat duduknya lalu menyebrangi jalan raya untuk mencapai toko
itu. Toko yang akan menjadi solusi dari masalahnya kali ini.
Dinaikinya
setiap tangga, sebelum akhirnya ia benar-benar tiba dalam toko itu. Roni sempat
kebingungan, bagaimana ia membeli salah satu piala di sini. Sampai
seorang pelayan took menegurnya dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyannya.
Sebentar, Roni tertegun
karena tidak menyangka pemuda di hadapannya ini bersikap baik. Maklumlah,
biasanya Roni akan langsung ditolak mentah-mentah. Sebab bajunya
yang lusuh dan compang-camping. Kebanyakan orang akan langsung mengira ia akan
mengamen atau mengemis lalu memperlakukan Roni dengan buruk.
"I-iya,
saya mau membeli piala," jawabnya.
Pelayan itu
mengangguk, lalu mulai menunjukan dan menjelaskan jenis-jenis piala yang
disusun di sebuah lemari kaca. Mata Roni tertuju pada satu piala
cukup besar, dengan bentuk sebuah kuas di atasnya. Tanpa
aba-aba, bertanya berapa harganya. Setelah mendengar berapa jumlah
yang harus dikeluarkan, senyumnya pun luntur. Uang yang dibawa masih
sangat kurang untuk membeli piala tersebut. Sayang sekali, padahal Roni sudah
membayangkan bagaimana bahagianya Rani jika ia membawa piala yang besar
itu. Sekarang, dengan terpaksa ia harus kubur dalam-dalam bayangan manis tadi
karena uang yang berada di dalam plastik bening yang kumal ini, tidak terlalu
banyak jumlahnya.
Akhirnya Roni bertanya
lagi pada pemuda tadi. Kali ini Roni menanyakan piala mana yang
harganya paling murah, yang sekiranya sanggup ia beli. Pada akhirnya Roni hanya
mampu membeli piala yang paling kecil. Sangat berbeda dengan yang ia harapkan
pada awalnya. Tapi tidak apa-apa, setidaknya masih ada piala yang bisa ia bawa
pulang untuk menyenangkan putri semata wayangnya.
Ketika
pemuda itu bertanya apa yang akan dituliskan di piala itu, Roni berkata,
"Juara satu menggambar, Rani Yudiyani."
Beberapa
meter sebelum tiba di rumah, Roni segera mengeluarkan piala yang
dibelinya tadi dari dalam plastik berwarna hitam yang kemudian ia kantongi
plastiknya. Setelah itu ia menyembunyikannya piala tersebut di belakang
tubuhnya, berniat mengejutkan Rani.
Kebetulan
saat Roni datang Rani sedang berada di depan rumah, menjemur
pakaian-pakaian basah.
Dengan
jantung yang berdegub, Roni mendekati putri satu-satunya. Pun Roni tersenyum
lebar. "Kamu menang, Nak!" katanya menyerahkan piala kecil itu. Rani memeluk bapaknya erat-erat.
Komentar
Posting Komentar