UAS - Lady Marline

LADY MARLINE
karya Muhammad Taufiqur Rahman

Di sebuah kabupaten di Jawa Barat,seorang pria membeli rumah untuk ditinggali kelak bersama dengan pendampingnya. Di rumah itu dia menemukan sebuah buku catatan tentang pengalaman misteri pemilik sebelumnya. Awalnya dia tidak mempercayai apa yang dituliskan di dalam buku merah itu,namun hal – hal aneh mulai terjadi saat pasangan tersebut pindah ke rumah itu.
Pagi ini,setelah seminggu yang lalu Dipper Pines sudah sepakat untuk membeli rumah ini untuk ia tempati setelah menikah nanti. Dia dating untuk melihat-lihat para pekerja yang sedang membersihkan rumah,rumput-rumput yang sudah meninggi akan segera habis oleh pekerja yang membawa arit yang tajam. Adapun pekerja lainnya sibuk menyapu dan mengelap-ngelap bagian rumah yang terdiri dari dua lantai ini. Bertema minimalis,dan banyak memakai kaca di depannya. Seminggu yang lalu,saat Dipper sedang mencari-cari rumah untuk ditinggali dengan calon istrinya.
Dia dapat rekomendasi dari seorang temannya yang bekerja dalam satu kantor, namun berbeda divisi. Dipper adalah seorang arsitek muda yang bekerja di perusahaan pengembang properti. Di usia yang baru 30 tahun dia sudah mampu membeli rumah.
Tepat di sebuah perumaham besar,yang cukup terkenal di kota Bandung. Dia menjalankan mobilnya,mencari alamat yang sudah diberikan oleh temannya itu. Setelah berkeliling,dia sampai di rumah yang ia tuju. Sebuah rumah dengan dua lantai,bergaya minimalis dengan banyak kaca yang menghiasi rumah itu. Dia lalu turun dari mobilnya,bergerak menuju pagar. “Rumputnya tinggi-tinggi,sudah berapa lama rumah ini ditinggal pemiliknya?” sambal mengintip ke dalam. Di pagar tertempel sebuah iklan,da nada nomor yang bisa dihubungi.
Dipper menghubungi sales rumah ini yang bernama Angel. Mereka sepakat untuk bertemu di rumah ini lagi setelah jam makan siang,sebelum Dipper masuk ke mobil dia membalikkan badannya kea rah rumah. “Hmm..” “Mungkin perasaanku saja,” Dipper kembali masuk ke mobilnya sambal pergi ke kantor. Di kantor dia bertemu dengan temnannya yang bernama Harry. Dia lebih tua dua tahun dari Dipper,dengan kemeja biru dan dasi yang selaras dengan kemejanya. Mereka berbincang sebentar sebelum jam masuk kantor. “Kang,barusan saya sudah melihat rumahnya,” ucap Dipper. “Ah sudahlah,panggil saja Harry,saya ngga nyaman dipanggil kang,berasa sudah tua,” “oh iya,bagus kan?” “Ya sekilas mah kelihatan bagus,ya cuman kaya ngga pernah diurus gitu yah, rumputnya pada tinggi-tinggi,tapi saya sudah hubungi salesnya,siang pas jam makan siang ketemunya.”
Saat jam makan siang,Dipper pergi menemui sales yang akan menjual rumah yang akan ia tinggali. Sesampainya disana,Dipper melihat sebuah mobil sedan putih yang terparkir di depan rumah itu. Nampaknya itu mobilnya si Angel,sales penjual rumah itu. Dengan pakaian formal serta mengenakan jas berwarna biru dongker membuat si Angel nampak seperti sales ulung. Dipper dan Angel lalu masuk ke dalam rumah itu. Di dalam,mereka berbincang tentang sejarah dan property yang ada di dalam rumah tersebut. Saat akan masuk rumah,rumput-rumput ilalang yang begitu tinggi nampak di halaman rumah itu. “Saya akan mengirimkan orang untuk membersihkan rumah ini,jangan khawatir” ujar si Angel. Setelah cukup lama berbincang di dalam,mata Dipper tertuju pada lemari besar yang ada di kamar di lantai dua. Tak Cuma lemari yang unik karena ukirannya,bahkan seisi kamar itu berisi macam-macam furnitur yang masih kokoh karena terbuat dari kayu jati. “apakah kayunya masih bagus atau sudah habis dimakan rayap nih?” Tanya Dipper. Lalu ia mendengar sebuah benda jatuh. Dia melihat sekeliling meja rias samping lemari karena suaranya berasal dari situ.
Dia mencoba melihat kolongnya. Dipper menemukan sebuah buku merah. Setengah jam berlalu,mereka berdua sudah selesai melihat lihat seluruh isi rumah. Dipper sepertinya menyukai rumah itu dan akan mengabarkan secepatnya. Dalam perjalanan kembali ke kantornya,mata Dipper selalu tertuju pada tas kerjanya,yang di dalamnya terdapat buku merah yang ia temukan waktu melihat - lihat isi rumah itu. Dia belum berani membukanya. Rencananya dia akan membukanya saat sampai di apartement. Dipper sengaja tidak menceritakannya ke Angel karena siapa tahu buku itu menyimpan sesuatu tentang rumah ini.
Sesampainya ia di apartment,ia lantas membuka buku merah itu. Halaman pertama buku ini sungguh mengejutkannya. “Jika kamu menemukan buku ini,pergi dari rumah ini sekarang!” Itu sungguh membuat Dipper kaget. Ia lantas membuka halaman berikutnya secara acak,yang dilihatnya adalah tulisan panjang mengenai peristiwa yang terjadi di dalam rumah tersebut. Salah satu halaman yang ia buka mengatakan bahwa pemiliknya sering diganggu oleh suara ketukan pintu kamarnya,padahal tidak ada orang lain yang tinggal selain pemilik rumah yang sedang tidur di kamarnya. Belum lagi ada suara anak kecil bermain yang terdengar jelas di siang hari.
Besoknya Dipper kembali ke rumah untuk mengecek rumah itu.  Disana banyak pekerja yang sedang membersihkan rumah. Kemudian Dipper masuk ke kamar di lantai dua. Menurutnya kamar ini sangat mewah bila dibersihkan. Kemudian terdengar suara langkah kaki dari tangga,sepertinya akan naik ke atas. Suara itu semakin dekat,hingga terdekat di pintu kamar ini. Dipper langsung membalikkan badan untuk melihat siapakah yang dating itu. “Iya pak ada apa?” Ia mengira bahwa itu adalah salah satu pekerja. Tapi tidak ada siapa siapa. Dipper kemudian keluar dan bertanya kepada para pekerja siapa tadi yang ada di tangga. Para pekerja itu merasa heran karena tidak ada satupun pekerja yang naik ke lantai dua.
Kemudian Dipper kembali ke kantornya. Saat dia sedang membereskan berkas berkas miliknya,ia melihat buku merah yang seharusnya ada di tasnya malah ada di atas meja. “Lho bukannya?” Kemudian timbul niat untuk membacanya kembali. “19 Januari,aku baru berani menuliskannya sekarang,setelah beberapa hari aku mengalami beberapa kejadian yang aneh, Lebih anehnya lagi,suamiku tidak mengalaminya dan dia malah tidak mempercayaiku,saat itu aku sedang menikmati the hangat di balkon rumah,kemudian aku terasa seperti ada yang melempar batu ke arahku dari bawah,aku coba tuk melihatnya,tidak ada siapa-siapa disana,bahkan aku menggunakan lampu senter di ponselku,hasilnya tetap sama,tida ada siapa-siapa,kemudian aku turun dari balkon menuju ke teras rumah yang berada di bawah. Saat aku sedang menyorot…” “Duarrrrrr” terdengar suara bentingan dari pintu apartmennya. Dipper yang sedang serius membaca teralihkan perhatiannya. Dia mengecek pintu apartmentnya. Membuka pintu dan melihat keluar “hmmm..” dia menutupnya lalu berjalan ke meja kerjanya. Tetapi ia merasa seperti menginjak sesuatu. Dia melihat kebawah,ternyata itu adalah buku merah yang sedang ia baca tadi. “Lho kok ada disini sih?” Dipper merasa keheranan melihat itu. Kemudian ia lanjut membacanya di sofa. “saat aku sedang menyorot,terdengar suara anak kecil yang sedang tertawa. Aku menoleh ke belakang,kesamping,aku tidak menemukannya.” Tulisan pertama berkahir seperti itu. Dipper menutup buku merah itu dan mencoba untuk menenangkan pikiran dengan berpikir positif.
Waktu berlalu,Dipper dan pasangannya menikah. Setelah menjalani serangkaian bulan madu mereka berdua pindah ke rumah yang sudah Dipper beli sebelumnya. Selain itu,ia juga menambah anggota baru penghuni baru rumah tangga bernama Mbok Yati(53). Acara seperti syukuran mereka adakan di hari ahad. Mereka pun juga turut mengundang anak yatim di panti asuhan dekat rumah mereka. Mbok Yati meminta izin ke istrinya Dipper,Dina untuk ganti baju karena ia menganggap baju yang ia pakai kurang pantas untuk acara syukuran tersebut. Mbok Yati keluar dari kamarnya dengan keadaan lemas dan mukanya pucat. Dina menyuruh Mbok Yati untuk istirahat di kamar saja. Ia tahu Mbok Yati sudah bekerja menyiapkan untuk acara syukuran ini dari tadi pagi. Tetapi Mok Yati tetap ingin bekerja walau dengan keadaan yang begitu. Acara pun selesai. Dipper dan Dian mulai membereskan rumahnya. Saat sedang membereskan rumah,tiba tiba pintu kamar Mbok Yati terbuka kencang,dia keluar kamar terbirit-birit. “Pak,Buk,acaranya sudah selesai?” kata Mbok Yati. Dipper dan Dina bingung mendengar perkatan Mbok Yati. Karena mereka melihat sendiri bahwa Mbok Yati ikut dalam acara syukuran tadi. Apalagi Dian sempat berbicara dengannya. Dipper tidak percaya apa yang dilihatnya,tidak mungkin Mbok Yati membohongi keluarganya. “Berati yang barusan siapa? Bagaimana kalau nanti Dian bertanya? Aku juga belum memberitahunya kalau furniture di kamar atas punya pemilik sebelumnya,dan juga sebuah buku merah yang aku temukan dulu.” Dipper langsung teringat akan buku merahnya. “Jika pemilik sebelumnya mengalami hal serupa,bukan tidak mungkin di buku itu akan ada cara menangkalnya!” Buku merah itu ia simpan di apartmentnya dan tidak pernah ia baca lagi semenjak hari itu pertama kali ia membacanya. Setelah beres beres rumah bersama Mbok Yati,malam menjelang tidur. Dian,menanyakan hal yang terjadi barusan. “Sayang,kejadian yang tadi kok aneh ya?” “Hmmm…” berpikir mencoba mencari penjelasan yang lebih masuk akal. “yaa.. mungkin karena kita kecapean yang”. Tiba tiba Dipper melihat sesosok makhluk yang melintas di luar pintu kamarnya. Berambut panjang acak,memakai pakaian serba putih menutupi kakinya. Ekspresinya yang terkejut membuat istrinya kembali bertanya. “Ada apa yang?” “Engga ga ada apa apa kok,bener kamu Cuma kecapean.” Menutup pintu kamar dan mulai bersiap untuk tidur.
Besoknya Dipper kembali berangkat kerja. Sebelum itu ia juga akan mengantarkan istrinya bekerja meninggalkan Mbok Yati sendirian di rumah untuk mengurus rumah. Saat itu,Mbok Yati sedang melihat TV di ruang keluarga di depan. Terdengar suara “Mbokkk…sini” suaranya mirip suara Dian. Mbok Yati yang mengira Dian sudah pulang kemudian menghampiri suara itu yang berada di lantai dua. Kemudian ia terdiam,waktu masih pagi,kemudian ia memberanikan diri untuk melihat siapakah itu. “ss..siapa?” ia melihat sesosok wanita berpakaian seperti jaman Belanda. Wanita itu lalu menjatuhkan dirinya ke bawah lantai satu. “aaaaaaaaaaaa” Mbok Yati berteriak kencang histeris melihat itu,lalu ia pingsan. Sementara di tempat lain,Dipper di tempat kerjanya. Ia sedang mencari cari informasi tentang bagaimana cara mengusir makhluk halus. Sampai kemudian ia menemukan buku merah yang selama ini ia cari. Ia lalu membacanya. “Aku harap kalian menemukan tempat yang aman dan damai” isi buku itu. “Ini sama sekali tidak membantu” Dipper menggelengkan kepala. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya,Dipper terkejut. Ternyata itu adalah temannya Harry. Sementara di rumah,Mbok Yati yang tadi pingsan sekarang sudah sadar,dia terbangun sedang duduk di sofa ruang utama.  TV masih menyala namun siarannya sudah berganti. “Lho kok di depan TV?” “Untung cuma mimpi,aneh juga masih pagi-pagi udah ketiduran aja” Kembali menonton TV tanpa mengetahui apa yang akan terjadi padanya.
Jam kerja usai,Dipper menjemput istrinya pulang. Tidak ada obrolan aneh terjadi,semua tentang keseharian mereka masing-masing. Mereka pun pulang pada waktu malam hari tiba. Saat akan tidur,Dipper mendengar seperti ada suara senandung. “Um…apasih?” suara senandung itu seperti samar samar tapi masih bisa terdengar. Suara itu berasal dari balik gorden kamarnya. Angin nampak berhembus dengan kencang sampai sampai ia menutupinya wajahnya dengan satu tangannya. Saat angin berhembus kencang,ia melihat ada sesosok wanita berpakaian ala jaman Belanda sedang membelakangi gorden,menghadap ke depan. Sosok itu mulai membalikkan badannya. Dipper sedikit gemetaran,karena ini benar-benar pengalaman pertamanya melihat makhluk astral. Angin bertip kencang lagi,membuat gorden terbang menari-nari. Sosok wanita itu pun terlihat semakin jelas,berparas cantik,rambut pirang menyala. Dia hanya tersenyum melihat Dipper lalu sosok itu menghilang di antara gorden itu. Dipper bisa bernafas lega,sosok itu tidak mengganggunya. Lalu dia mengambil buku merah itu dan membacanya. Ia mencari apakah sosok yang ia lihat itu tertulis dalam buku ini. “26 Januari,malam itu aku terbangun,suara senandung tiba-tiba terdengar. Aku sempat tidak percaya mendengarnya,lalu aku mencoba untuk mencari darimana suara itu berasal,kelihatannya suara itu datang dari balik gorden balkon rumahku,aku melihat ada sesosok wanita dengan paras cantik berambut pirang berdiri di situ,anehnya aku sama sekali tidak meras takut dengannya,malah aku merasa hangat di dekatnya.” Dipper membaca lagi tambahan kutipan kalimat di buku itu, “Wanita dengan pakaian Belanda jaman penjajahan itu bernama Harlott,tanpa kusadari kami bertemu di alam mimpi,dia banyak bercerita,namun yang bisa kuingat hanya saat dia memberitahu namanya.” Dipper membaca banyak tentang Harlott sebelum menutup buku itu. Sejenak dia berpikir,kenapa sosok Harlott bisa ada di rumah ini? Furnitur-furnitur ini apakah ada hubungannya dengan dia? Dipper masih sering mendengar senandung-senandung Harlott di setiap malam.
Bu Angel sang penjual rumah sangat sulit dihubungi. Dipper ingin sekali menanyakan profil pemilik rumah sebelumnya. Akhirnya Dipper menemui bu Angel dan menanyakan tentang hal itu. Katanya,rumah itu pemiliknya adalah bu Ratna. Ia tinggal di Bandung barat. Bu Angel lalu memberikan alamatnya kepada Dipper. Akhirnya Dipper memutuskan untuk menemui Bu Ratna di rumahnya. Setelah sampai disana,Dipper memutuskan untuk bercerita tentang rumah itu kepada Bu Ratna. Orangnya kurus mukanya pucat dan wajahnya nampak suram dan tatapannya kosong. Itulah dia,Bu Ratna si pemilik buku merah itu. Mereka berdua bercerita tentang buku dan rumah itu. Dulu rumah itu rumah yang sangat tua. Banyak perabotan-perabotan jaman dulu yang menghiasi rumah itu. Namun,saat berganti pemilik selanjutnya,yaitu Bu Ratna,ia membeli rumah itu dan ingin merenovasinya. Sekarang jadilah rumah itu dengan dua lantai dan bergaya minimalis. Dulu,waktu saat merenovasi rumahnya,Bu Ratna merasakan hal-hal mistis yang terjadi padanya. Mulai dari senandungan orang Belanda,sampai suara anak kecil sedang bermain dan tertawa. Dia merasa sudah tidak betah berada di rumah itu. Sampai di suatu ketika,suaminya Bu Ratna,Pak Galih meninggal dengan sebab yang tidak jelas. Pak Galih ditemukan tewas di kamar lantai dua. Hasil visum dokter mengatakan bahwa Pak Galih meninggal karena tercekik. Namun saat dilakukan investigasi oleh polisi tidak ditemukan adanya sidik jari ataupun bukti bukti lainnya. Bu Ratna stress ditinggal suaminya. Dia akhirnya memutuskan untuk menjual rumahnya.
Mendengar cerita itu,Dipper turut berduka cita atas meninggalnya suami Bu Ratna. Rasanya ada yang janggal dengan kematian Pak Galih. Dipper memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Sementara itu,Dian bersama Mbok Yati sedang menunggu kepulangan dari Dipper. Mbok Yati merasa heran kenapa Dipper hingga saat itu belum pulang juga. Dian memberitahu Mbok Yati bahwa Dipper sedang ada kerjaan lembur. Makan malam sudah siap,Dian menuju kamarnya untuk membersihkan badan terlebih dahulu sebelum makan malam. Saat turun setelah mandi,dia melihat Mbok Yati sedang menonton TV di ruang tengah. Tidak pernah dipermasalahkan jika Mbok Yati ingin menonton TV di ruang tengah walaupun sebenarnya di kamar Mbok Yati juga ada TV-nya. Dian mengambil lauk pauk yang sudah disediakan,lalu berjalan menuju ke ruang tengah untuk bergabung dengan Mbok Yati menonton TV. “Mbok,makan…” menawarkan makan kepada Mbok Yati,tapi Mbok Yati hanya diam menatap TV tanpa menjawabnya. Dia juga tidak menoleh kea rah Dina padahal ia duduk di seberangnya. Badannya tegak dengan kedua tangannya disimpan di atas pahanya. Dian pikir volumenya terlalu kencang hingga membuat Mbok Yati hanyut dalam keseruan itu. Dian melajutkan makannya tanpa menghiraukan Mbok Yati. Dia beranjak pergi menuju ke dapur untuk meletakkan piring kotor. Dapur rumahnya terletak di bagian belakang rumah dekat dengan kamar Mbok Yati. Saat sedang mencuci piring,Dian mendengar kegaduhan dari arah kamarnya Mbok Yati. Setelah mematikan kran air,Dina lalu berjalan menuju kearah Kamar Mbok Yati untuk mengeceknya. Dian membuka pintu dan melihat Mbok Yati sedang menonton TV dengan gaya yang santai. “Lho…mbok kok ada disini? Bukannya di ruang tengah ya?” Mbok Yati kemudian kaget mendengar itu. “ Saya daritadi juga disini tho bu..” Ujar Mbok Yati. “Terus,yang di ruang tengah siapa?” mereka berdua merasa heran. Apalagi si Dian yang baru saja tadi melihat Mbok Yati ada di ruang tengah. Mereka berdua memutuskan untuk mengecek ruang tengah itu. Dan ternyata Mbok Yati palsu itu masih disana dengan TV yang masih menyala. Dian kaget bagaimana mungkin Mbok Yati bisa ada dua. “Hahh? Itu siapa bu? Kok bajunya sama seperti saya?” Mbok Yati gemetaran,tangannya menecengkram erat di sela tangan Dian. Sosok itu lalu menggerakkan kepalanya. Kepalanya bergerak mirip seperti robot,bergerak dengan perlahan. Mereka berdua bergidik ngeri melihatnya. Kepalanya berputar 180ͦ,sedangkan badannya masih menghadap kea rah TV yang masih menyala. Matanya hitam melotot menatap kea rah mereka berdua dengan senyum menyeramkannya itu. Mereka yang melihatnya langsung berlari ke arah kamarnya Mbok Yati. “Bu,itu apa?” suaranya bergetar Mbok Yati sangat ketakutan. “sa…saya tt..tidak tahu Mbok” tidak lama terdengar suara ketukan pintu. Keduanya menjerit keras. “Di..aann…Di..aaann” suara wanita memanggil nama Dian. Mereka semakin ketakutan. Sementara itu,Dipper telah sampai di depan rumah. Dipper kemudian masuk dan melihat TV di ruang tengah masih menyala. “Sayangg? Mbok?” Dipper mencari-cari mereka berdua. Dipper naik keatas dan tidak ada jawaban. “Pada kemana sih?” Dipper mencoba untuk menelpon Dian. Suara handphonenya terdengar di bawah. Handphone Dian ada di atas meja makan. Dipper berjalan ke kamar Mbok Yati untuk mengeceknya. Dipper mengetuk pintu, Pergi! Pergi! Jangan ganggu kami!” dari suaranya itu adalah suara Dian. “ Dian?...,hei buka ini aku Dipper.” “PERGIII!!” suara itu semakin keras Dipper memanggil Mbok Yati untuk meyakinkan Dina. Pintu akhirnya terbuka perlahan,Dian masih dalam keadaan takut. Keadaan mulai terkendali. Mbok Yati akhirnya bercerita tentang kejadian yang dialaminya. Waktu itu,dia melihat di lantai dua ada sosok wanita berbaju putih khas Belanda berdiri di dekat tangga lalu menjatuhkan dirinya. Yang dia lihat mukanya sudah tua dan rambutnya hitam pekat. Yang dilihat Mbok Yati ternyata bukan sosok Harlott melainkan sosok lainnya.
Lalu saat sedang mau tidur,Dipper memutuskan untuk kembali membaca buku merah itu. “Malam itu aku sangat terkejut dengan kehadirannya,wanita Belanda lain selain Harlott tiba-tiba muncul dengan senyum mengerikan penuh darah.” “Sosoknya sama dengan Harlott hanya saja mukanya putih dan rambutnya hitam pekat dengan sanggul di kepalanya. Dia selalu menghantuiku di setiap malam sampai aku berani untuk menuliskan ini, Harlott memberitahu namanya. Dia bernama….,” Angin kencang berhembus kencang membuat buku yang Dipper baca terbang. Buku itu terjatuh di lantai dan alangkah terkejutnya Dipper saat menemukan buku itu sudah berlumuran darah di setiap halamannya sehingga tidak dapat dibaca lagi. Darah itu berjalan ke arah tangan Dipper sehingga ia melempar buku itu. “Argh!” lalu tulisan besar muncul di tembok kamarnya,tulisannya terbuat dari darah. Namun,ia masih bisa membacanya. “Lady Marline,” Tulisan besar yang ada di tembok kamarnya. Darah- darah yang membentuk tulisan itu perlahan mulai masuk melalui pori-pori tembok kamar,lalu hilang sepenuhnya.
Keesokkan harinya,Dipper sekeluarga memutuskan untuk pindah ke apartmentnya. Mbok Yati turut serta ikut dengan mereka. Setelah pindah,mereka sudah tidak merasakan gangguan gaib lagi,hanya Dipper yang masih merasakan ada yang mengintip di persimpanan lorong saat dia pulang bekerja. Masih denga rasa penasarannya,Dipper memutuskan untuk tinggal sendiri di rumah itu. Disinilah terror mulai terjadi. Dipper meletakkan buku merah itu di meja hias yang terbuat dari kayu jati. Karena hanya dia yang tinggal sendiri di rumah itu,rasa kantuk datang,tanpa disadari Dipper sudah tertidur. Dipper lalu membuka matanya,dia berada di sebuah ruangan. Tepatnya ruangan makan karena ada sebuah meja makan yang terbuat dari kaca yang ukurannya panjang dengan hiasan lilin di atasnya. Lalu,tanpa ia sadari muncul seorang wanita muda bermabut pirang berpakaian Belanda melintas di sampingnya. Wanita itu memandangi Dipper lalu pergi. Dipper yang penasaran lalu pergi mngejarnya. Saat ingin keluar,sesuatu menghalanginya. Seperti tembok gaib yang tidak terlihat mempagarinya di ruang makan itu. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah,wanita yang ia lihat tadi sekarang terlihat sedang duduk di salah satu kursi,kepalanya tergeletak menyamping ,matanya terbuka sangat lebar,dari mulutnya keluar busa berwarna ungu. Kedua tangannya berada di bawah meja. Dipper tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tiba- tiba ada sebuah tangan abu-abu pucat keriput menembus dadanya. Dia tidak merasakan sakit,hanya saja Dipper tidak bisa mnggerakan badannya. Lalu keluar kepala dari tembok belakangnya,seorang nenek tua dengan rambut yang sangat berantakan. Mukanya panjang,senyumannya sangat lebar,dia membisikkan sesuatu kepada Dipper “Jangan datang LAGIII!!!” suaranya awalnya pelan namun keras di akhir.
Dipper terbangun dari tidurnya,dan mencari air minum untuk menenangkan pikirannya. Sesosok berbayang putih melintas di lorong kamarnya yang berada di lantai dua. Bergegas ia melihat itu,dan ternyata sesosok itu kemudian menjatuhkan dirinya. “Jangan-jangan ini…” sosok wanita tua itu lalu melompat dari ujung tangga,terjatuh dengan keras ke lantai. Bunyi-bunyi tulang yang patah terdengar sangat jelas,Dipper yang melihatnya lalu mundur beberapa langkah. Tangannya gemetaran,gelas air yang dia pegang goyah. Kepala sosok wanita itu bergerak-gerak tidak mulus. Kepalanya bergerak memutar seperti arah jarum jam,semakin lama semakin cepat lalu terhenti. Tepat saat kepala itu mulai berdiri sendiri,di saat bagian lain tubuhnya menghadap ke lantai. Menggunakan dagunya sebagai tumpuan,matanya juga melotot tajam. Kali ini tangan dan kakinya bergerak,sekarang wanita tua itu terlihat seperti laba-laba. Tiba-tiba berjalan dengan sangat cepat menggunakan tangan dan kakinya menghampiri Dipper. Dipper yang kaget lalu terjatuh kebelakang dan pingsan. Di saat bangunnya,Dipper masih terbayang makhluk mengerikan yang tadi malam menghantuinya itu. Kemudian dia mencari buku merah itu dan membacanya. “Foto itu masih tersimpan di gudang,aku tidak bisa membuangnya. Foto ini tidak mau pergi.” Ada satu ruangan di rumah ini yang hanya dia lihat sekilas,yaitu gudang. Letaknya di ujung rumah dekat dengan kamar Mbok Yati. Dipper tidak terlalu memperhatikan ruangan ini. Lantainya berdebu dan banyak sarang laba labanya. Seluruh barang yang ada disana ditutupi oleh kain putih agar tidak kotor. Ada sebuah foto yang dimaksud dalam buku itu yang dia ingin lihat. Dipper membuka satu persatu kain putih itu,membongkar tumpukan benda benda. Sampai ia menemukan suatu kotak yang bergembok. Gemboknya sudah berkarat dan gampang lepas. Dipper kemudian membukanya,ada banyak peninggalan,mulai dari surat hingga buku catatan. Ada sebuah foto juga berwarna hitam putih. “Sosok ini…” “Harlot?” foto itu terdiri dari beberapa anggota keluarga Belanda. “ Lalu di ujung…,” suara pintu terbanting terdengar olehnya. Dipper mengeceknya. Tanpa sadar foto itu masih ia pegang.
Ada sosok mirip Harlott di foto yang dia pegang. Berambut pirang dan berwajah cantik,mirip juga dengan yang dia lihat dalam mimpinya. Sosok Lady Marline,di foto ini parasnya cantik dan juga anggun. Tidak seperti yang sering ia lihat bersosok seram,keriput,dan menakutkan. “Van Garlie Family…” sebuah nama yang tertera di bagian belakang foto itu. Dipper kemudian keluar untuk pergi ke makam Belanda,mengecek kesana. Anehnya hanya ada 4 makam dan makam Marline tidak ia temukan. Kemudian ia pulang ke rumah karena hari sudah mau maghrib. Saat dalam perjalanan,ia masih keheranan dimana si Lady Marline dimakamkan. Saat mau tidur,ia sadar ia akan mengalami mimpi yang sama. Dipper kembali masuk ke alam mimpi. Sekarang latarnya berubah,di sebuah dapur ayahnya Harlott yang bernama Wesley terlihat sedang berbicara dengan salah satu pelayannya. Seorang wanita masih muda,mungkin hanya beberapa tahun di atas Harlott. Sekarang dia ada di halaman belakang rumah,sosok Lady Marline terlihat berlutut sambal menangis. Sementara Wesley memegang sebuah senapan laras panjang ditemani pelayan wanitanya di sampingnya. Tanpa basa-basi ia langsung menembak Lady Marline tepat di dadanya,darah mengucur deras keluar. Lady Marline jatuh tak sadarkan diri. Setelah melihat Lady Marline tidak bergerak,meraka membawa tubuhnya perginya jauh menggunakan mobil tua yang di jaman itu terlihat bagus. Ternyata tubuh Lady Marline disimpan di bagasi mobil. Ternyata ia belum tewas,karena takut ketahuan,Wesley langsung memukul wajah Lady Marline dengan keras hingga kepalanya membentur mobil. Kejadian selanjutnya membuat Dipper tidak mampu merasakan sesak nafas yang amat menyiksa. “D.Diaann…Hntikan!” Dipper meronta mencoba melepaskan cekikan istrinya yang kini wajahnya berubah menjadi pucat berwarna abu,matanya mengeluarkan darah dan memegang pisau yang berdarah. Dian tertawa terbahak-bahak,suaranya melengking. Perlahan dia menjilati pisaunya. “Sekarang giliran KAMU!!!” Dina telah kerasukan Lady Marline. “Aku bukan Dian!AKU AKAN MEMBUATMU SEPERTI SI PRIA TUA DUNGU ITU,AKU MEMBUNUHNYA DENGAN KEJAM SAMPAI ISTRINYA JADI GILA..HAHAHAHA” Tertawa dengan keras. Dipper terjatuh di kasur. Lady Marline mengayunkan pisaunya,namun tidak mengenai Dipper. Pisau itu menancap di kasur dan Dipper menendang Lady Marline dan ia tidak sadarkan diri. Saat melihat pisau itu,nampak di dalam kasurnya ada kain yang menutupi sebuah mayat dengan perban di sekujur tubuhnya. Dipper lalu merobek kasurnya itu dan benarlah ada mayat yang tersimpan di kasurnya. Inilah mengapa dia selalu dihantui,dan membuat rumahnya menjadi angker. Dipper membawa mayat itu keluar dan pergi ke makam kemarin. Dia menggali tanah tepat di sebelah makan anggota keluarga Van Garlie. Lalu menguburkannya dengan perban yang masih menyelimuti mayat itu. “ Beristirahatlah dengan tenang..” Sosok Harlott tiba tiba muncul di sebelahnya, “Terima kasih,sekarang nenekku bisa pergi dengan tenang.” “ Ya…” Dipper menjawab dengan lirih. Akhirnya Keluarga Dipper hidup dengan aman tanpa ada gangguan mahkluk halus.

Komentar

Postingan Populer