UAS- MIMPI SANG PEMIMPI
Sore hari ketika kuntet berjalan seorang diri untuk bermain dengan teman temannya. Ia bepapasan dengan seorang tua penggembala domba dengan seorang anak kecil yang berjalan beriringan. Sepintas terdengar pengembala domba tersebut seperti menasihati anaknya
"belajarlah nak selagi masih kecil dan bermimpilah setinggi langit".
"Dari mana pak?" kuntet memotong pembicaraan orang tua itu dengan anaknya.
"oh iyaa dek, habis dari lapangan ini" jawab orang itu dengan senyuman.
Tradisi orang desa ketika bertemu selalu tegur sapa. Karena takut ketinggalan bermain kuntet pun berlari menuju tempat bermainnya.
Sesampainya di tempat bermain, ternyata tak ada seorang anak pun disana, yang terlihat hanyalah daun daun kering yang terbawa angin kesana kemari. Tak heran karena tempatnya di bawah pohon beringin besar dan rindang.
" Ahh kok sepi banget, kemana ya jhoni dan yang lainnya" heran melihat sepinya tempat itu.
Yang terdengar hanyalah ocahan burung yang hinggap di ranting ranting pepohon itu. Kemudian ia duduk diatasnya batu besar yang berada di bawah pohon itu. Ia teringat perkataan orang tua pengembala itu dan juga pesan Ir. Soekarno presiden pertama RI " Bermimpilah setinggi langit jikau kau jatuh, maka enkau akan jatuh diantara bintang- bintang"
Iapun teringat keinginannya di masa mendatang untuk menjadi seorang dokter dan dapat membantu orang orang yang sakit.
"Suster suster tolong ambilkan stetoskop diatas meja saya". Permintaan tolong dari kuntet kepada suster yang membantunya.
"Ahhhhh sakitt dok" rintihan pasien yang perutnya sakit.
"Oh sabar ya bu, coba saya periksa dulu" ujarnya pada pasien.
"Tak apa bu, ibu ini terkena penyakit mag" ia katakan apa yang telah ia periksa.
" Jaga pola makan ya bu, makan itu harus teratur. Untuk sementara ini jangan makan yang kasar kasar dulu, lebih baik makan yang lembut, seperti bubur dan lain lain" pesan dokter kuntet kepada pasiennya.
Ia merasa kejatuhan sesuatu dari atasnya, tepat ditangan kirinya, terlihat padat dengan tekstur lunak. Ia pun mencium benda itu.
" Aduhhhhh bau banget, dasar burung sialan" . Ungkapnya dengan wajah terlihat kesal.
Ia membuang ranting yang sebelumnya, dipegangnya sambil membayangkan cita citanya. Lalu ia membersihkan kotoran burung tadi dengan dedaunan kering karena tak ada air di sekitar tampatnya itu.
Tak sadar sudah berjam jam ia disitu, ia baru sadar hari semakin gelap. Bergegas lah ia untuk pulang. Belum sempat ia melangkah jauh terdengarlah, "Allahuakbar Allahuakbar" adzan Maghrib telah dikumandangkan.
"Alhamdulillah sudah waktunya berbuka" ujarnya, terlihat pula sepintas senyumnyabyang kemudian berganti dengan wajah cemberut ketakutan.
"Pasti ibu marah ini, sudah jam segini belum ada dirumah, belum mandi pula aku" gumam dalam hatinya, dengan wajah ketakutan ia percepatan langkahnya.
Sesampainya di dekat rumah, kuntet melihat ibunya yang mondar-mandir di depan pintu seperti menunggu seseorang. Lalu berlarilah kuntet menuju ibunya.
"Aduh.... Kuntet...kuntet...kemana ajaa kamu?, Udah waktunya berbuka ini cepat sana makan!. Perintah ibunya. Belum sepat ia masuk pintu rumahnya.
" Tet kamu kok bau seperti kotoran, main kemana aja kamu seharian? Tanya ibu pada kuntet.
"Maaf bu, tadi kuntet bermain di tempat biasanya, itu di bawah pohon beringin sebelah lapangan itu". Jawab kuntet pada ibunya
"Oh iya bu, kalo yang bau kotoran itu, tadi kuntet kejatuhan kotoran burung" sambungnya sambil tersenyum malu.
"Dasar kamu tet tet...kalo main sampai lupa waktu, yaudah mandi dulu sana, baru nanti di lanjut dengan berbuka puasa!" Perintah ibu.
"Baik bu" jawab kuntet sambil bergegas menuju ke kamar mandi.
Selesai kuntet mandi ia segera bergabung dengan ibunya untuk berbuka puasa. Ia hanya tinggal berdua dengan Sang ibu. Ayahnya yang telah meninggal di waktu kuntet masih kecil merubah ibunya menjadi wanita perkasa. Ia harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, Ia pun tahu bahwa kuntet memiliki keinginan yang besar walaupun hidup di tengah tengah keluarga serba sederhana.
"Selamat berbuka puasa ibu" celoteh kuntet pada ibunya, sesampainya ia di meja makan.
"Cepat makan itu makanannya, itu ibu juga udah ambilin buat kamu" perintah ibunya dengan lembut.
"Iya bu" jawabnya.
Ia merasa sangat lapar, seharian ia belum makan sebab ia berpuasa. Langsung Ia sergap makanan yang ada di depannya.
"Waahh......mantap ini masakan ibu" pujian yang terlontar dari mulut kuntet.
"Ehhhh...jangan langsung makan itu" sang ibu dengan memanjangkan nada bicaranya.
"Berbukalah dengan yang manis manis dulu dan jangan lupa untuk berdoa. Sebagai rasa syukur kita atas apa yang di berikan tuhan YME kepada kita" perintah ibunya.
"Siap bos" candaan kuntet.
Ia melepaskan makanan yang tadi ia sergap dengan penuh nafsu.
Sambil menikmati masakan ibunya, ia teringat apa yang sore itu terlintas dibenaknya di bawah pohon beringin besar. Ia bertanya pada ibunya
"Bu....bisa tidak ya kelak aku jadi orang besar?"
Ibunya heran dan tetap melanjutkan menghabiskan makanan yang ada dimulutnya.
"Sebaiknya makan dulu itu makananmu tet" jawab ibunya terlihat senyum menghiasi wajahnya.
Selesai makan kuntet hanya bersandar di kursi makannya, Ia merasa terlalu kenyang. Sedari tadi ia makan seakan makanan itu akan ia habiskan sendiri.
"Haiikkkkkkk...." Kuntet bersendawa didepan ibunya seakan tak berdosa.
"Ihh....tet... Kuntet....ga punya ahlaq kamu ya tet, gitu kok katanya mau jadi orang besar" nasihat dari ibunya.
"Hehehehe.....habisnya kenyang banget bu kuntet" jawab kuntet sambil tertawa kecil.
"Bisa tidak ya bu?" Melanjutkan pertanyaannya yang sedari tadi belum di jawab oleh sang ibu.
"Tak ada yang tak mungkin didunia ini tet, selagi kita mau berusaha dan berdoa" jawab ibunya.
"Tapi kalo bersendawa sembarangan seperti tadi, ya mana bisa jadi orang besar" candaan ibunya pada kuntet.
"Ihh ibu masih itu terus yang di bahas" ujar kuntet.
"Bermimpi lah selagi langit masih sanggup menampungnya tet" pesan sang ibu pada kuntet.
Malam semakin larut, tapi kuntet belum bisa tidur. Ia masih terus memikirkan apa yang ia impikan dan kata - kata dari ibunya terus terngiang di benaknya. Kata kata itu membuatnya semangat untuk menggapai cita-citanya. Disisi lain Ia kasihan dengan ibunya yang hanya seorang diri mencari nafkah apa lagi dengan keinginannya menjadi dokter, tak sedikit uang yang harus dibayarkan. Hal itu akan membuat semakin susah ibunya.
Pada pengumuman masuk di perguruan tinggi ia melihat namanya masuk di perguruan tinggi ternama, dengan jurusan yang ia idam idamkan selama ini dan dengan jalur beasiswa pula. Ia sangat senang dengan apa yang raih, impiannya akan semakin dekat. Guru-gurunya melihatnya dengan bangga. Kuntet melihat ibunya tersenyum bangga padanya. Ia tak bisa berkata apa -apa, matanya tampak berkaca-kaca. Lalu meneteslah air mata bahagianya. Tiba- tiba ia mendengar suara sebuah pintu terbuka.
"Tet...tet, bangun tet. Ibu sudah masakin sahur itu. Cepat segera dimakan, keburu imsak lho" perintah ibunya pada kuntet.
Ia terbangun "ahhhhh...iyaa ibu" jawab kuntet dengan setengah sadar.
Ternyata hal itu hanyalah bunga tidurnya. Kuntet masih duduk di bangku smp kelas 8 dan masih panjang perjalanan hidupnya. Dari mimpi itu ia berharap menjadi kenyataan, pada suatu hari nanti.
"Semoga mimpi itu jadi kenyataan. Aamiin...." Doanya dalam hati.
"belajarlah nak selagi masih kecil dan bermimpilah setinggi langit".
"Dari mana pak?" kuntet memotong pembicaraan orang tua itu dengan anaknya.
"oh iyaa dek, habis dari lapangan ini" jawab orang itu dengan senyuman.
Tradisi orang desa ketika bertemu selalu tegur sapa. Karena takut ketinggalan bermain kuntet pun berlari menuju tempat bermainnya.
Sesampainya di tempat bermain, ternyata tak ada seorang anak pun disana, yang terlihat hanyalah daun daun kering yang terbawa angin kesana kemari. Tak heran karena tempatnya di bawah pohon beringin besar dan rindang.
" Ahh kok sepi banget, kemana ya jhoni dan yang lainnya" heran melihat sepinya tempat itu.
Yang terdengar hanyalah ocahan burung yang hinggap di ranting ranting pepohon itu. Kemudian ia duduk diatasnya batu besar yang berada di bawah pohon itu. Ia teringat perkataan orang tua pengembala itu dan juga pesan Ir. Soekarno presiden pertama RI " Bermimpilah setinggi langit jikau kau jatuh, maka enkau akan jatuh diantara bintang- bintang"
Iapun teringat keinginannya di masa mendatang untuk menjadi seorang dokter dan dapat membantu orang orang yang sakit.
"Suster suster tolong ambilkan stetoskop diatas meja saya". Permintaan tolong dari kuntet kepada suster yang membantunya.
"Ahhhhh sakitt dok" rintihan pasien yang perutnya sakit.
"Oh sabar ya bu, coba saya periksa dulu" ujarnya pada pasien.
"Tak apa bu, ibu ini terkena penyakit mag" ia katakan apa yang telah ia periksa.
" Jaga pola makan ya bu, makan itu harus teratur. Untuk sementara ini jangan makan yang kasar kasar dulu, lebih baik makan yang lembut, seperti bubur dan lain lain" pesan dokter kuntet kepada pasiennya.
Ia merasa kejatuhan sesuatu dari atasnya, tepat ditangan kirinya, terlihat padat dengan tekstur lunak. Ia pun mencium benda itu.
" Aduhhhhh bau banget, dasar burung sialan" . Ungkapnya dengan wajah terlihat kesal.
Ia membuang ranting yang sebelumnya, dipegangnya sambil membayangkan cita citanya. Lalu ia membersihkan kotoran burung tadi dengan dedaunan kering karena tak ada air di sekitar tampatnya itu.
Tak sadar sudah berjam jam ia disitu, ia baru sadar hari semakin gelap. Bergegas lah ia untuk pulang. Belum sempat ia melangkah jauh terdengarlah, "Allahuakbar Allahuakbar" adzan Maghrib telah dikumandangkan.
"Alhamdulillah sudah waktunya berbuka" ujarnya, terlihat pula sepintas senyumnyabyang kemudian berganti dengan wajah cemberut ketakutan.
"Pasti ibu marah ini, sudah jam segini belum ada dirumah, belum mandi pula aku" gumam dalam hatinya, dengan wajah ketakutan ia percepatan langkahnya.
Sesampainya di dekat rumah, kuntet melihat ibunya yang mondar-mandir di depan pintu seperti menunggu seseorang. Lalu berlarilah kuntet menuju ibunya.
"Aduh.... Kuntet...kuntet...kemana ajaa kamu?, Udah waktunya berbuka ini cepat sana makan!. Perintah ibunya. Belum sepat ia masuk pintu rumahnya.
" Tet kamu kok bau seperti kotoran, main kemana aja kamu seharian? Tanya ibu pada kuntet.
"Maaf bu, tadi kuntet bermain di tempat biasanya, itu di bawah pohon beringin sebelah lapangan itu". Jawab kuntet pada ibunya
"Oh iya bu, kalo yang bau kotoran itu, tadi kuntet kejatuhan kotoran burung" sambungnya sambil tersenyum malu.
"Dasar kamu tet tet...kalo main sampai lupa waktu, yaudah mandi dulu sana, baru nanti di lanjut dengan berbuka puasa!" Perintah ibu.
"Baik bu" jawab kuntet sambil bergegas menuju ke kamar mandi.
Selesai kuntet mandi ia segera bergabung dengan ibunya untuk berbuka puasa. Ia hanya tinggal berdua dengan Sang ibu. Ayahnya yang telah meninggal di waktu kuntet masih kecil merubah ibunya menjadi wanita perkasa. Ia harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, Ia pun tahu bahwa kuntet memiliki keinginan yang besar walaupun hidup di tengah tengah keluarga serba sederhana.
"Selamat berbuka puasa ibu" celoteh kuntet pada ibunya, sesampainya ia di meja makan.
"Cepat makan itu makanannya, itu ibu juga udah ambilin buat kamu" perintah ibunya dengan lembut.
"Iya bu" jawabnya.
Ia merasa sangat lapar, seharian ia belum makan sebab ia berpuasa. Langsung Ia sergap makanan yang ada di depannya.
"Waahh......mantap ini masakan ibu" pujian yang terlontar dari mulut kuntet.
"Ehhhh...jangan langsung makan itu" sang ibu dengan memanjangkan nada bicaranya.
"Berbukalah dengan yang manis manis dulu dan jangan lupa untuk berdoa. Sebagai rasa syukur kita atas apa yang di berikan tuhan YME kepada kita" perintah ibunya.
"Siap bos" candaan kuntet.
Ia melepaskan makanan yang tadi ia sergap dengan penuh nafsu.
Sambil menikmati masakan ibunya, ia teringat apa yang sore itu terlintas dibenaknya di bawah pohon beringin besar. Ia bertanya pada ibunya
"Bu....bisa tidak ya kelak aku jadi orang besar?"
Ibunya heran dan tetap melanjutkan menghabiskan makanan yang ada dimulutnya.
"Sebaiknya makan dulu itu makananmu tet" jawab ibunya terlihat senyum menghiasi wajahnya.
Selesai makan kuntet hanya bersandar di kursi makannya, Ia merasa terlalu kenyang. Sedari tadi ia makan seakan makanan itu akan ia habiskan sendiri.
"Haiikkkkkkk...." Kuntet bersendawa didepan ibunya seakan tak berdosa.
"Ihh....tet... Kuntet....ga punya ahlaq kamu ya tet, gitu kok katanya mau jadi orang besar" nasihat dari ibunya.
"Hehehehe.....habisnya kenyang banget bu kuntet" jawab kuntet sambil tertawa kecil.
"Bisa tidak ya bu?" Melanjutkan pertanyaannya yang sedari tadi belum di jawab oleh sang ibu.
"Tak ada yang tak mungkin didunia ini tet, selagi kita mau berusaha dan berdoa" jawab ibunya.
"Tapi kalo bersendawa sembarangan seperti tadi, ya mana bisa jadi orang besar" candaan ibunya pada kuntet.
"Ihh ibu masih itu terus yang di bahas" ujar kuntet.
"Bermimpi lah selagi langit masih sanggup menampungnya tet" pesan sang ibu pada kuntet.
Malam semakin larut, tapi kuntet belum bisa tidur. Ia masih terus memikirkan apa yang ia impikan dan kata - kata dari ibunya terus terngiang di benaknya. Kata kata itu membuatnya semangat untuk menggapai cita-citanya. Disisi lain Ia kasihan dengan ibunya yang hanya seorang diri mencari nafkah apa lagi dengan keinginannya menjadi dokter, tak sedikit uang yang harus dibayarkan. Hal itu akan membuat semakin susah ibunya.
Pada pengumuman masuk di perguruan tinggi ia melihat namanya masuk di perguruan tinggi ternama, dengan jurusan yang ia idam idamkan selama ini dan dengan jalur beasiswa pula. Ia sangat senang dengan apa yang raih, impiannya akan semakin dekat. Guru-gurunya melihatnya dengan bangga. Kuntet melihat ibunya tersenyum bangga padanya. Ia tak bisa berkata apa -apa, matanya tampak berkaca-kaca. Lalu meneteslah air mata bahagianya. Tiba- tiba ia mendengar suara sebuah pintu terbuka.
"Tet...tet, bangun tet. Ibu sudah masakin sahur itu. Cepat segera dimakan, keburu imsak lho" perintah ibunya pada kuntet.
Ia terbangun "ahhhhh...iyaa ibu" jawab kuntet dengan setengah sadar.
Ternyata hal itu hanyalah bunga tidurnya. Kuntet masih duduk di bangku smp kelas 8 dan masih panjang perjalanan hidupnya. Dari mimpi itu ia berharap menjadi kenyataan, pada suatu hari nanti.
"Semoga mimpi itu jadi kenyataan. Aamiin...." Doanya dalam hati.
Komentar
Posting Komentar