UAS - Podcast, Teman Rebahan di Era Millenial



Di era milenial ini podcast semakin menunjukan eksitensinya. Akhir-akhir ini podcast memang digemari anak muda milenial yang candu untuk mendengarkan ocehan para podcaster yang tersiar di berbagai media online. Buat kalian yang masih awam tentang podcast, apa sih podcast itu? Istilah dan praktik podcast mulai dikenal antara tahun 2004-2005. Merujuk artikel Guardian pada 2004 silam, jurnalis Ben Hammersley menyebut bahwa pod datang dari pemutar media digital ciptaan Apple, iPod. Sedangkan cast adalah kependekan dari broadcast atau siaran. Namun, kini podcast bisa diputar dari pemutar media apapun. Secara sederhana, podcast diartikan materi audio atau video yang tersedia di internet yang dapat didengarkan audiens melalui media pemutar portable baik secara gratis maupun berlangganan.

Kehadiran podcast, membunyikan lonceng peringatan bagi keberlangsungan radio siaran. Rhoads mengingatkan para pengelola radio siaran kembali bersiap menghadapi perpindahan pendengar radio ke internet. Menurut survei Daily Social, pendengar podcast di Indonesia pada 2018 sebesar  25,29%. Angka ini lebih besar dibandingkan pendengar yang memilih radio yang hanya mencapai 17,98%. Data ini dipaparkan oleh Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio(KBR) Citra Dyah Prasasti yang baru me-relaunch audio cast KBR Prime. "Tahun ini jumlah podcast di Indonesia bisa dibilang membludak. Kalau buka spotify bisa dilihat podcast dari Indonesia itu merajai. Beda kondisinya dengan dua tahun lalu. Sekarang sudah semakin banyak pilihan tema maupun konten. Mirip dengan era YouTube dulu, awalnya masih sedikit peminat lalu booming," tutur Citra dalam acara KBR Prime Podcast Party di FX Sudirman, Kamis (03/10/2019). Meski demikian, internet tidak semata menjadi ancaman, akan tetapi pada saat bersamaan juga menyediakan peluang untuk dimanfaatkan pada pengelola radio siaran. Eks penyiar 96,7 Hitz FM Adit 'Insomnia' berpandangan bahwa kemunculan format digital apapun sebenarnya sudah menjadi ancaman bagu radio. Namun, podcast sendiri, menurutnya, dibuat oleh orang-orang yang mungkin tidak punya keahlian dasar penyiaran, sehingga para praktisi radio tidak usah khawatir 'lapaknya' direbut oleh penyiar podcast.

"Selagi kita masih bisa memberikan siaran yang lebih variatif dan informatif, sepertinya podcast bukan menjadi ancaman. Justru kita bisa saling membagi informasi dan saling melengkapi. Misalnya, 'Oh si podcast itu sudah ngomong ini lho.' Jadi bukan menjadi ancaman," ujarnya kala menyambangi kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Melihat Perkembangan podcast di Amerika Serikat, menurut Vogt dalam laporan akhir tahunan PEW Research Institute, podcast di Negeri Paman Sam semakin berkembang. Data dari Edison Research tahun 2016 menunjukkan bahwa 21% warga Amerika usia 12 ke atas pernah mendengarkan podcast. Data ini menunjukkan peningkatan jumlah pendengar podcast dibanding tahun 2013 yang ada pada kisaran 12%. Bahkan persentasenya meningkat sampai 36% untuk kategori ‘pernah mendengarkan podcast’ yang meningkat dua kali lipat dibanding data tahun 2008. Begitupun, di negeri berflower ini bahkan platform streaming audio Spotify mencatat kenaikan yang signifikan dalam angka pendengar podcast di Indonesia. Dilansir dari pernyataan tertulis yang diterima Liputan6.com baru-baru ini, kini 20 persen pengguna Spotify di Indonesia mendengarkan podcast setiap bulannya. Tak hanya itu hanya itu, jumlah jam yang mereka gunakan untuk mendengar podcast pun naik sepuluh kali lipat dalam setahun terakhir. semakin maraknya penikmat podcast membuat para podcaster dan juga perusahaan media semakin minat untuk mengembangkan konten berupa audio ini. Nic Newman baru-baru ini merilis hasil studi Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2018 gagasan Reuters Institute for the Study of Journalism dan University of Oxford.. Di sana tercatat bahwa berdasarkan survei terhadap 194 editor, bos, dan pejabat perusahaan media digital dunia, diperkirakan pada 2018 media dengan format audio akan mengalami peningkatan.

"Sebanyak 58 persen penerbit (media) mengaku akan fokus pada podcast, dengan proporsi yang sama menilik pada konten untuk speaker [pengeras suara] yang diaktivasi menggunakan suara," tulis Newman dalam hasil risetnya. Berdasarkan laporan The Smart Audio dari Edison Research, 65 persen pemilik gawai menggunakan pengeras suara pintar untuk mendengarkan musik, 29 persen untuk berita, 20 persen untuk podcast dan 18 persen untuk buku audio.

"Merespons tren ini, perusahaan media yang masuk survei kami mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi lebih banyak tahun ini untuk media berbasis audio seperti podcast (58 persen) dan eksperimen konten pendek [58 persen] yang asli bagi platform baru. Inisiatif ini dianggap lebih penting bagi penerbit dibanding bentuk video (47 persen) dan dua kali lebih penting dari realita virtual (25 persen)." Tulis Newman. Bahkan  di Indonesia platform spotify, akhirnya menjalin kerja sama dengan delapan podcast beken Indonesia. Kedelapan podcast ini yakni Podcast Raditya Dika (PORD), Do You See What I See, PODKESMAS, RAPOT, Menjadi Manusia, Podcast Bagi Horror, Box2Box Football Podcast, dan Podcast Suara Puan. Ini adalah podcast yang paling sering diputar di Indonesia. Sekadar informasi, Spotify kini memiliki lebih dari 700 ribu judul podcast di dalamnya. Secara global, jumlah jam yang dihabiskan pendengar podcast di Spotify tumbuh 200 persen setiap tahun. Sekitar 90 persen dari podcast ini, dibuat dengan menggunakan Anchor. Melalui kerja sama ini, kedelapan podcast tersebut bisa diakses secara eksklusif di Spotify. Ini merupakan kerja sama yang pertama untuk wilayah Asia Tenggara.. "Kerja sama podcast eksklusif ini merupakan bagian penting dari rencana Spotify untuk mengembangkan ekosistem podcast di Indonesia," kata Gautam Talwar, Managing Director Spotify Asia Tenggara.

Podcast dapat menjadi hiburan kala wabah covid19 semakin marak di Indonesia. Penikmat podcast tentu saja tidak begitu merasa bosan terkait anjuran pemerintah untuk #dirumah aja. Untuk mengakhiri artikel ini, berikut rekomendasi podcast dari penulis yang cocok menjadi teman rebahan agar tak mati kebosanan perihal lockdown di beberapa kota.

1. MUDA CUMA SEKALI




Konten Podcast Muda Cuma Sekali sangat cocok untuk kamu, para mahasiswa, fresh graduate, dan juga para job seeker. Podcast ini membahas mengenai topik-topik yang bisa mengubah perspektifmu dan juga membuat dirimu menjadi lebih baik. Dipandu oleh Ogut, kamu akan mendengarkan topik-topik seputar self-development, self-branding, dan juga passion. Setelah mendengarkan podcast ini, kamu akan bisa lebih memahami bagaimana harus menjalani masa muda yang hanya akan terjadi satu kali dalam hidupmu.

2. MENJADI MANUSIA


Penggemar  sajak maupun puisi sastra, podcast Menjadi Manusia jadi rekomendasi yang menarik, lho. Sesuai dengan deskripsinya, Menjadi Manusia igin menjadi platform untuk mereka yang ingin berbagi dan mendengar cerita-cerita tentang kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

3. RINTIK SEDU


Buat kalian yang suka galau, podcast ini dapat menguras emosi para pendengarnya. Konten podcast ini ringan, seperti cerita sehari-hari ketika kita galau, patah hati, dan lainnya Namun, cara ceritanya yang terasa dekat, membuat topik-topik ringan tersebut terdengar apik. Bahkan podcast Rintik Sedu mampu berada di jajaran All Podcast Apple Indonesia loh.Podcaster Rintik Sedu merupakan nama pena dari Nadhifa Allya Tsana. Gadis kelahiran tahun 1998 ini senang berbagi cerita dengan para pendengarnya tentang kehidupan romansa anak muda yang berkait banget dengan usia dan masalah kita.

4. DO YOU SEE WHAT I SEE


Kamu penggemar berat cerita horror? Tenang, karena Do You See What I See bakal memanjakan telinga kamu. Dengan gaung audio yang mencekam, kamu bisa mendengarkan berbagai cerita horror berdasarkan pengalaman orang yang mengalami. Yang menarik, podcast ini melibatkan banyak selebritis ibukota buat bercerita.

5. PODCAST RETROPUS


Penggemar sepakbola wajib mengikuti Podcast Retropus. Dipandu oleh Randy dan Febri, podcast ini berisikan curhatan khas suporter sepakbola yang dibawakan segar, lucu dan santai. Menariknya, bahasan sepakbola di Retropus dipadukan dengan cerita kehidupan sehari-hari, lho.

6. PORD (Podcast Raditya Dika)


Rekomendasi podcast yang satu ini rasanya tidak perlu dijelaskan lagi ya guys. Buat kamu yang suka mendapatkan inspirasi dan ilmu baru, kamu bisa mendengarkan podcast dari seorang komedian kondang Indonesia ini. Podcast milik Raditya Dika dengan format talkshow. Tanpa Gimmick dan skrip, semua obrolan dengan tamu di Podcast ini mengalir apa adanya. Di-update secara berkala.

7. TEMAN TIDUR


Susah tidur selama self quarantine, karena kebanyakan rebahan dari dari fajar sampai senja ? Enaknya didongengin sama Dera Firmansyah lewat podcast Teman Tidur. Sesuai dengan namanya, podcast ini berisikan berbagai cerita percintaan yang bakal menghantarkan kamu ke dunia mimpi.

Udah hari ke berapa self quarantine?. Kamu udah dengerin podcast Indonesia yang mana? Dan mana yang jadi favorit kamu? Bagi kamu yang belum dengerin, daripada bosen #dirumahaja yuk jadikan podcast sebagai teman ditengah pandemi ini.


Source : https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180401031240-241-287315/podcast-masa-depan-penyiaran-yang-belum-pasaran-di-indonesia

Komentar

Postingan Populer