UAS - Sahabat Berkhianat


Sahabat Berkhianat
Tampaknya cuaca hari ini begitu cerah. Terlihat sinar matahari terbit lebih awal dari biasanya.kenalkan namaku Althina Ilma Izzatunifah. Dan aku bisa dipanggil dengan sebutan nama Ilma. Namun entah mengapa hatiku tak begitu mendukung sinar matahari yang memberi semangat kepada setiap insan di muka bumi ini.

Pagi ini aku berangkat sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Entah mengapa semangatku menghilang untuk hari ini. Namun aku tetap untuk mencoba tersenyum di hadapan teman-teman ku. Satu harapan ku yaitu aku tak menginginkan semua orang menghawatirkan ku.

Di sinilah aku, berdiam diri di dalam kelas yang begitu ramai. Kenapa semua orang di dalam kelas ini begitu bahagia? Sementara diri ku begitu sedih untuk hari ini.

“Ilma, kamu kenapa?” tanya seorang gadis memanggil nama ku. Suara itu sudah tidak asing lagi bagi telinga ku. Aku pun mencoba menatapnya.

“Apa kamu tidak menyadarinya? Apa kau tahu? Seharian ini aku belum makan, aku baru memakan beberapa snack ringan.” Ujar ku.

“Apa ada masalah?” Tanya gadis bernama Nisya itu.

“Apa kamu tidak merasakannya?” Tanya ku pada Nisya.

“Aku mengerti perasaan mu, bahkan aku sudah merasakannya. Bukan hanya satu atau pun dua kali, tapi aku sudah pernah merasakannya lebih dari itu. Sudah lah jangan menangis.” Ucapnya. Seketika itu juga air mata ku mulai terjatuh.

Aku tak tahu harus bagaimana lagi, yang bisa ku lakukan sekarang hanya lah menangis. Mungkin dengan menangis, perasaan ku akan lebih baik.

“Ilma jangan menangis, ku mohon.” Ucap Nisya. Ia terlihat begitu khawatir ketika aku mulai menangis.

Tidak peduli apa yang di katakan teman sekelas. Bahkan aku menjadi bahan tontonan untuk mereka, mereka semua memandang ku.

Aku sudah membendung air mata ini sejak tadi pagi. Dan sekarang aku sudah tidak kuat untuk membendungnya. Seandainya saja aku bisa teriak sekarang, aku akan teriak sekeras mungkin. Aku ingin meluapkan semua yang ku rasakan saat ini. Namun itu semua tidak mungkin untuk ku lakukan. Aku tidak menginginkan semua teman ku yang ada di dalam kelas ini menghawatirkan ku, aku tidak mau itu sampai terjadi.

Bel sudah sudah berbunyi, saatnya untuk belajar. Aku pun menghapus air mataku ketika seorang guru memasuki ruang kelas ini. Suara yang bising tadi seketika lenyap saat itu juga.

Aku mencoba mencerna semua materi pelajaran yang di sampaikan oleh guru tersebut. Walaupun dengan keadaan tidak semangat seperti sekarang ini. Namun aku akan mencoba untuk semangat, ini semua untuk masa depanku.

Setelah satu jam, pelajaran pun usai. Semua anak di kelas ini mulai bersiap-siap untuk pulang. 

Setelah keluar dari kelas, tiba-tiba Nisya menghampiri ku. Aku tahu sifat Nisya, ia pasti begitu penasaran tentang masalahku ini.

“Tiara ceritakan saja apa masalahmu, supaya kamu merasa tidak begitu terbebani. Bukankah sekarang kamu merasa sangat terbebani?” Ucap Riani. Dugaanku benar, dia sangat ingin mengetahui masalah yang ku alami ini.

“Aku tidak akan mungkin menceritakannya, Maaf.” Ucapku.
“Baiklah, tetapi kamu jangan nangis lagi ya?” 
“Tentu saja.” Ujarku sambil tersenyum tipis kepedanya. Ia pun pergi meninggalkan ku. Tentu saja aku tidak akan menceritakan masalah ini pada Riani. 

Aku tidak mungkin menceritakan bahwa aku telah di khianati oleh sahabat terbaikku. Dia memang sahabatku tapi mengapa ia lebih memilih sahabat barunya sementara aku menyendiri di dalam kelas yang begitu ramai namun kesunyian yang ku temui saat itu, mungkin karena tak ada sahabat yang selalu berada di sisiku. 

Bukankah didalam persahabatan tidak mengenal adanya penghianatan? Tapi entah mengapa aku menemui penghianatan dalam kisah persahabatanku dengannya.

Aku tidak membencinya, hanya saja aku kecewa karena dia lebih memilih sahabat barunya itu. Aku benar-benar kecewa. Aku memang tidak spesial tapi ku mohon jangan pernah hianati aku.

Seorang teman berkata kepada ku. “Mungkin ini semua terjadi karena adanya kesalah pahaman di antara kalian berdua.” 

Kesalah pahaman? Apa benar ini semua terjadi karena adanya kesalah pahaman di antara kita berdua?

Aku terus memikirkan perkataan temanku tadi. Mungkin dia benar, ini semua hanya salah paham. Tidak seharusnya hari ini aku menjauhinya. Bahkan dia pun sadar aku telah menjauhinya.

Apa yang aku pikirkan tadi? Sampai aku menjauhinya. Bukankah tidak seharusnya kebencian itu di balas dengan kebencian pula. Bukankah ketika seseorang membenci kita, kita harus mengasihinya. Karena kita tahu, cinta akan mengalahkan kebencian.

Kenapa aku tidak memikirkan semua itu? Apa saat itu amarahku sudah tidak bisa terkendali? Entahlah yang pasti saat ini aku benar-benar menyesal dengan perbuatanku tadi.

Aku berjanji, besok aku akan meminta maaf kepadanya. Setidaknya aku akan membalas semua yang ku lakukan kepadanya. Sungguh ini semua terjadi karena kesalah pahaman. 

Aku tidak ingin berlama-lama menjauhi dirinya, karena ku tahu dia adalah sahabat terbaikku. Kita sudah bersahabat selama empat tahun lamanya, tidak mungkin persahabatan yang kita bangun selama ini hancur karena kesalah pahaman. Itu semua tak akan terjadi begitu saja. Tak akan pernah.

Pagi berikutnya. Seperti pagi di musim kemarau pada umumnya, matahari memberikan sinar yang begitu hangat.

Pagi ini aku akan berbicara dengan sahabat terbaikku, Fiana. Aku akan meminta maaf kepadanya. Aku benar-benar merasa bersalah kepada Fiana.

“Fiana.” Sapaku. Ia tersenyum hangat dan segera menghampiriku. 

“Ada apa?” tanyanya.

“Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu. Kemarin aku menjauhimu. Aku benar-benar minta maaf.” Ucapku tulus.

“kamu tidak perlu minta maaf Il, ini semua bukan kesalahanmu. Aku juga salah, tidak seharusnya aku meninggalkanmu sendiri di dalam kelas. Sementara aku pergi bersama teman baruku itu. Aku juga minta maaf.”

“Terima kasih Fiana, kamu memang sahabat terbaikku.”
“kamu juga sahabat terbaikku.”

Kita berdua pun memasuki kelas dan segera bersiap untuk belajar dan menerima materi pelajaran untuk hari ini.

Tidak ada lagi kata sedih untuk hari ini. Tidak ada lagi air mata yang terbuang untuk hari ini. Tidak ada lagi kesunyian di dalam kelas. Tidak ada lagi yang menghawatirkanku. Tidak ada lagi kesalah pahaman.

Hari ini aku benar-benar bahagia. Semua beban yang kurasakan kemarin telah lenyap seketika.

Semangatku pun telah kembali. Senyumku kembali terlihat di wajahku ini. Semua kembali cerah, tidak ada awan hitam yang menyelimuti hatiku. 

Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat yang begitu baik, yang berusaha menghapus kesunyian yang ku alami.

Sahabat memang sangat berarti. Dia memang selalu ada, selalu memberikan yang terbaik. 

Aku tidak tahu bagaimana jadi nya diriku tanpa seorang sahabat. Mungkin aku akan merasa sunyi melewati hari-hari. Jangan pernah sia-siakan seorang sahabat karena jika ia pergi, kau pasti akan merasa kehilangan dan saat itulah kau sadar apa arti sahabat yang sesungguhnya.


Komentar

Postingan Populer