UAS - SELAMAT BERJUANG KAWAN

Di sebuah sekolahan, tampak para siswa terlihat bahagia, mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka nanti-nantikan selama 3 tahun sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di sekolah tersebut. Akhirnya mereka menyelesaikan pendidikan dengan berbagai cerita suka dan duka selama mereka menjalankan pendidikan tersebut. Mereka telah bersiap untuk melanjutkan kehidupan selanjutnya, sebagian dari mereka memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan sebagian memutuskan bekerja untuk membantu orang tua mereka. Dengan hal tersebut, maka pertemanan yang telah dijalin oleh keempat sahabat, yaitu Tian, Andito, Firly dan Fibrilia harus terpisahkan oleh jarak karena mereka berempat memiliki jalan masing-masing di tempat yang berjauhan.

Setelah pengumuman kelulusan yang diadakan oleh sekolahan, banyak siswa yang melakukan konvoi di jalanan dan mencoret-coret pakaian seragamnya. Namun, keempat sahabat ini memutuskan untuk tidak mengikuti ajakan teman-teman yang lain. Selepas kepulangan mereka dari sekolah, mereka akhirnya memutuskan menuju rumah Firly dengan mengendarai sepeda motornya, sepanjang perjalanan mereka tampak bahagia dengan kelulusannya, mereka berempat berhasil lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, mereka berempat berhasil masuk dalam 10 besar di sekolahnya.

Sesampainya di rumah Firly mereka berempat disambut oleh ibunya, Ibunya telah mengenal dekat ketiga sahabatnya, karena mereka telah berteman sejak duduk di bangku SMP. Ibunya telah menganggap mereka sebagai anak kandung sendiri, karena seringnya mereka bermain maupun belajar bersama di rumah Firly. Setelah Firly menunjukkan pengumuman kelulusan dan hasil ujiannya Ibunya nampak sangat bahagia, ia sangat bangga dengan apa yang dicapai oleh putrinya dan teman-temannya. Untuk memperingati kelulusan anaknya, Ia berjanji akan memberikan sedikit hadiah. Ia lalu memasakkan masakan kesukaan anaknya dan teman-temannya.

Saat Ibunya memasak, Firly pun mengajak teman-temannya untuk menuju atap rumahnya, tempat ini bisa dibilang sudah menjadi base camp mereka sejak SMP, mereka telah menjadikan tempat ini sedemikian rupa agar nyaman untuk digunakan berkumpul, bersendau gurau ataupun untuk belajar. Di tempat ini terdapat berbagai hal seperti alat musik, permainan, ayunan maupun rak buku, mereka berempat membuat semua ini dibantu dengan Ayah Firly.

Sesampainya mereka diatas, mereka lalu membahas apa yang akan mereka lakukan sebelum mereka akhirnya berpisah untuk melanjutkan perjalanan hidupnya sesuai apa yang telah mereka pilih, masih ada waktu satu bulan sebelum mereka semua berangkat. Semua tampak hening sejenak, mereka berempat masih berpikir apa yang harus mereka lakukan. Tiba-tiba Andito memberikan saran agar mereka pergi liburan ke luar negeri, Namun Tian menolakknya karena ia sudah tidak ingin menambah beban orang tuanya karena orang tuanya telah mengeluarkan banyak uang untuk kebutuhan kuliahnya yang akan datang. Setelah menolak saran dari Andito, Tian pun mencooba untuk memberikan jalan keluar lain denngan mengajak teman-temannya berkunjung ke salah satu pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan pantainya yang terletak ditengah Laut Jawa. Mendengar rencana Tian, Firly pun menolak dengan keras usulan dari Tian. Tian pun seketika ingat dengan masalah yang dihadapi oleh Firly, sejak kecil Firly mengidap penyakit Thalassophobia. Thalassophobia adalah sebuah phobia yang menyebabkan penderitanya merasa ketakutan terhadap lautan yang dalam dan luas, penderita menganggap lautan adalah tempat yang menyeramkan dan berbahaya. Phobia tersebut muncul karena trauma yang dialami oleh Firly saat ia diajak berlibur ke sebuah pantai oleh keluarganya saat masih kecil, pada saat itu Firly terlepas dari oranng tua nya dan hanyut ke lautan lepas, namun beruntungnya Firly masih selamat dan ditemukan oleh nelayan di tengah laut dalam keadaan Firly mengapung di sebuah kayu.

Disaat sedang sibuk bediskusi, tiba-tiba Firly dikagetkan dengan kedatangan Ibunya, Ibunya membawa makanan kesukaan keempat sahabat tersebut, Ibu membawakan Nasi uduk dengan ditemani tempe penyet yang dibuat dengan kedelai pilihan, tidak lupa Ibunya membawakan jus semangka yang dibuat menggunakan semangka yang di impor langsung dari Mesir. Selain makanan dan minuman tersebut, Ibu juga membawa es krim vienetta yang didapatkan dengan susah payah karena es krim tersebut telah habis di minimarket karena telah dibeli semua oleh para penimbun yang tidak memiliki akhlaq. Ibu terpaksa harus membeli es krim vienetta dari para penimbun tersebut dengan harga yang sangat mahal, Ibu tidak mempermasalahkan hal tersebut karena ia telah merasa bahagia atas apa yang telah diraih putrinya dan teman-temannya.

Firly dan teman-temannya lalu menyantap makanan tersebut, di saat sedang asyik menyantap makanan tersebut Ibunya yang tadi sempat mendengar percakapan mereka lalu mencoba memberikan saran agar mereka berkunjung ke rumah neneknya Firly di lereng gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur dan setelah itu bisa melanjutkan liburan dengan mendaki gunung tersebut, Fibrilia pun langsung menyetujui hal tersebut karena ia ingin sekali menikmati sunrise di puncak gunung dengan ditemani secangkir kopi dan musik indie seperti yang ia lihat di beberapa status teman-temannya di WhatsApp yang diambil dari Instagram. Namun Fibrilia masih agak ragu, karena ia belum mendapatkan ijin dari kedua orang tuanya. Semuanya pun sependapat dengan Fibrilia namun masih menunggu persetujuan dari orang tuanya.

Keesokan harinya setelah mereka mendapatkan ijin dari orang tuanya mereka memutuskan untuk berangkat mendaki. Sebelum berangkat mereka berkumpul di base camp, dari sana mereka berangkat menuju stasiun dengan diantar oleh Ayah Firly. Mereka tampak membawa banyak barang yang akan mereka butuhkan saat mendaki. Namun dari mereka berempat, Firly dan Fibrilia tampak membawa barang lebih banyak daripada mereka yang laki-laki, hal itu wajar karena kebutuhan perempuan jauh lebih banyak daripada laki-laki. Namun selain kebutuhan yang penting-penting, terdapat berbagai barang yang menurut Andito kurang penting namun dibawa oleh teman-temannya tersebut. Sebagai contoh boneka, bantal, es krim vienetta dan berbagai barang yang tidak terlalu berguna lainnya.

 Sesampainya di stasiun mereka lalu masuk ke stasiun dan berpamitan dengan Ayah Firly. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya kereta yang mereka tunggu datang, mereka kemudian masuk dan duduk di kursi kelas ekonomi seperti yang telah mereka pesan. Bagi Firly, Andito dan Fibrilia ini merupakan pengalaman pertama menaiki kereta api. Untung saja mereka berempat duduk berdampingan dan berhadap-hadapan dengan sahabat mereka sendiri. Mereka tidak bisa membayangkan apabila mereka harus duduk dengan orang asing, betapa canggungnya mereka harus duduk dengan orang asing karena mereka sebenarnya memiliki sifat cenderung introvert atau bahasa kerennya nolep. 

Sepanjang perjalanan mereka tampak menikmati perjalanannya, mereka bersendau gurau, bermain game maupun mendengarkan musik, namun di tengah perjalanan Firly tampak kurang sehat dan tiba-tiba saja ia muntah dan mengenai Tian, Tian pun terkejut dan langsung berdiri menghindar namun terlambat, bajunya basah oleh muntahan Firly, ia bergegas membersihkan bajunya, tetapi setelah itu ia memutuskan untuk mengganti bajunya sesampainya di sebuah stasiun di kota tujuannya. Sampai di kota tersebut bukan berarti mereka telah sampai, mereka harus berpindah trasnportasi ke sebuah bus kecil menuju kota tempat tinggal nenek Firly. Perjalanan menggunakan bus kecil tersebut tidak memakan waktu lama, akhirnya mereka sampai di kota kecil tempat dimana nenek Firly tinggal, Mereka memutuskan untuk tinggal beberapa hari di rumah Nenek Firly sembari menunggu kondisi kesehatan Firly membaik.

Setelah 2 hari mereka tinggal di rumah nenek Firly akhirnya mereka memutuskan akan mendaki gunung, mengingat kondisi kesehatan Firly telah membaik. Dengan diantar Paman Firly yang tinggal tidak jauh dari rumah nenek Firly akhirnya mereka sampai di pos pemberangkatan, Disini mereka mendaftarkan diri untuk mendaki di gunung tersebut. Di awal-awal perjalanan mereka tampak sangat bersemangat dan ceria. Saat waktu telah menunjukkan pukul 15.00 mereka beristirahat sejenak, lalu Andito yang telah memiliki pengalaman mendaki beberapa kali memutuskan agar mereka harus berjalan lebih cepat agar bisa sampai di pos berikutnya untuk mendirikan tenda sebelum langit mulai gelap. 

Tampak Firly dan Fibrilia mulai kelelahan, Andito dan Tian pun dengan sigap membawakan barang bawaan mereka yang menurut Andito sangat tidak berguna seperti boneka, bantal dan sebotol es krim vienetta yang telah cair karena sudah 3 hari lebih tidak dimasukkan ke dalam frezzer namun Firly ngotot untuk tidak menikmati es kebanggannya tersebut sebelum ia sampai puncak.

Tepat pukul 17.00 mereka tiba di tempat pendirian tenda. “Matahari tampak mulai meredup meninggalkan dunia yang fana ini, mengajarkan kita akan keindahan yang tak selamanya abadi” kata Fibrilia yang memang agak puitis dan mengagung-agungkan senja dengan berbagai kata-kata indah yang dirangkainya saat senja, namun hal tersebutlah yang dapat mengantarkannya masuk ke jurusan sastra Indonesia di salah satu perguruan tinggi di Australia. Melihat Fibrillia tampak sibuk merangkai kata-kata, Tian pun menegur temannya tersebut untuk segera membantu mendirikan tenda sebelum gelap. Teman-teman yang lain pun lantas tertawa, namun Fibrilia pun terlihat cemberut karena merasa aktivitasnya telah terganggu. 

Akhirnya mereka pun selesai mendirikan tenda, Tian dan Andito lalu mencari kayu dan ranting pohon untuk mereka jadikan api unggun, sedangkan temannya yang perempuan tampak berada dalam tenda untuk mempertahankan kecantikkannya walaupun seharian belum mandi, berbeda dengan Andito dan Tian yang acuh terhadap wajah dan bau tubuhnya yang seharian belum mandi. Setelah selesai dan api unggun telah menyala mereka pun duduk di dekat api untuk menghangatkan tubuhnya didalam dinginnya udara gunung. Mereka pun mengeluarkan stok makanan yang mereka bawa dan menghangatkannya di api lalu melahapnya dengan buas seperti seekor harimau yang mendapatkan rusa yang gemuk, hal ini karena sejak berangkat mereka belum makan sama sekali. Di saat menikmati makanan tersebut, keempat sahabat tersebut saling bercerita dan bersendau gurau, hal ini mungkin akan mereka rindukan saat mereka telah berpisah nanti. Seperti kebanyakan bangsa manusia, setelah kenyang akhirnya mereka pun tidur

Pukul 02.00 Tian pun bangun dan segera membangunkan temannya karena mereka harus berangkat ke puncak untuk menikmati sunrise disana. Dari mereka semua Firly adalah orang yang paling susah untuk dibangunkan, ditambah tidurnya yang mendengkur seperti Ayahnya, selain itu juga tampak di pipinya sebuah pulau yang terbentuk dari keringnya air liur yang keluar saat Firly tertidur. Tidak lupa sebelum membangunkan Firly, Fibrilia pun mengabadikan momen bersejarah ini dan tidak lupa untuk mengunggahnya di Instastory nya, kedua temannya yang lain pun tidak lupa untuk merepostnya. Setelah membutuhkan waktu beberapa lama akhirnya Firly terbangun, mereka pun bergegas merapikan barang bawaan mereka dan segera berangkat menuju puncak.

Sepanjang perjalanan Firly tampak masih mengantuk dan ia mengeluarkan kemampuan langka yang dimilikinya, yaitu berjalan sambil tertidur. Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di puncak, matahari pun belum menunjukkan dirinya. Tidak menunggu waktu lama matahari pun terbit. Firly yang tertidur pun dengan sekejap bangun tidak seperti tadi saat tidur didalam tenda. Fibrilia pun tampak sibuk mengeluarkan imajinasinya didalam sebuah kertas.

Ditempat ini aku mengenal kalian
Ditempat ini kita mengukir cerita bersama
Suka, duka kita lalui bersama
Kegembiraan, kesedihan dan keegoisan
Semua itu menjadi bukti kebersamaan kita
Dan ditempat ini pula kita berpisah,
Mengejar mimpi-mimpi kita,
Tapi aku yakin suatu saat kita kan bertemu kembali
Dalam kondisi dan waktu yang berbeda
Selamat berjuang kawan

Itulah puisi yang ditulis Fibrilia disaat ia melihat keindaahan fajar bersama ketiga sahabatnya yang sebentar lagi akan berpisah mengejar cita-cita nya masing-masing. Setelah itu mereka  pun berjanji di puncak gunung tersebut untuk selalu bersama walaupun terpisahkan jarak.

Komentar

Postingan Populer