UAS-UNTUK KATA yang TAK SEMPAT TERUCAP



Sinar matahari tanpa permisi masuk melewati celah celah jendelaku.aku merauang karna itu sukses membangunkan tidurku yang entah berapa lama berlangsung,aku tersenyum bahagia, bahagia sekali.Hari ini aku akan mempersiapkan pernikahanku dengan laki-laki yang aku cintai dengan laki-laki yang baik hati dan bisa mengerti aku,rasanya hormone oksitosinku juga sangat bersemangat mengawali pagi ini dengan penuh senyuman.Aku mandi berdandan,merias wajahku agar nampak cantik dihadapannya,memakai baju pink dengan bawahan celana jeans hitam yang aku padu padankan dengan sneakers pemberiannya saat ulang tahunku yang pertama sebagai sepasang kekasih,kutambahkan kalung cantik bertuliskan huruf C yang berarti CINTA.Ku pantulkan diriku di cermin dan
“perfect cinta”pujiku untuk diriku sendiri.Aku melangkahkan kaki ku menuruni tangga sambil besenandung ria.
“pagi ibuku cantik” sapaku untuk ibuku yang sedang memasak sarapan didapur kupeluk dia daribelakang dan kucium pipinya betapa aku sayang sekali dengan perempuan ini
“cintaa udah segede ini juga masih aja manja” ujarnya,yaps umurku memang sudah menginjak 24 tahun tapi manjakuu tidak pernah bias hilang apalagi dengan ibuku
 “biarin aja emang kenapa?cinta sayang sekali dengan ibu”
“adududuu anak ini,oh ya hari ini jadwalnya kamu buat lihat-lihat gedung kan sama farhan?”
“Iya ibuku sayang,emang akenapa bu?”
“gak ada apa-apa kamu hati-hati dijalan ya”
“oke ibuku,aku pergidulu ya bu,daa ibu” kuserang ibuku dengan beriburibu ciuman yang sukses mendarat di wajahnya.ku langkahkan kakiku meninngalkan dapur setelah meminum susus yang disediakan ibuku.Tiba tiba aku berhenti untuk menatap foto yang terpampang besar diruang tamu,betapa teduhnya senyum lakilaki tua yang berdiri disamping ibuku,betapa sabarnya beliau terhadap anak  dan betapa tangguhnya dan disiplinnya belaiu untuk kebaikan anaknya.Tak terasa air mata menetes sukses melewati pipiku menghapus bedak dan blushonku.
7 tahun yang lalu
Ku dengar suara gaduh seperti orang berdebat dari arah dapur.ya,inilah pedesaan hanya suara jangkrik yang terdengar tanpa ada hiruk pikuk kendaraan lalu lalang sehingga suara sekecil apapun akan terdengar apalagi perdebatan seperti itu.mata dan telingaku dengan sangat sangat fokus melihat dan mendengarkan bapak dan ibuk sedang berdebat tentang aku tentang masa depanku dan tentang keinginanku.
“uang dari mana kita untuk nyekolahin cinta sampek universutas buk,uang kita udah habis buat rawat inap ibu kemaren“
“tapi cinta pingin kuliah pak,kasihan dia”
“iya buk,tapi uang dari mana?bapak udah gadaiin sawah buat rawat inap ibu,yang tersisa tinggal rumah ini  buk,ibuk mau kita jual rumah ini terus kita jadi gelandangna ibu mau?”
Ibu hanya menyeka air matanya,dadaku sesak sekali mendengar itu air mataku tak bias lagi kubendung harapanku untuk duduk dibangku kuliah seakan sirna dengan apa yang bapak katakana.memang benar kita yang hidup didesa bekerja banting tulang tak terkecuali aku yang sehabis sekolah membantu ibu memetik teh untuk dijual dipengepul.
“Aku bias bekerja dikota untuk membantu bapak membiayai kuliahku” tiba-tiba dan tanpa keraguan aku mengucapkan hal itu
“Aku akan suksres pak,cinta janji cinta akan sukses,cinta pintar pak,bapak tau kan cinta sering dapat juara dikelas,cinta pasti bisa cinta bias cari pekerjaan disana lalu cinta bias biaya i sendiri kuliah cinta cinta pasti bias pak” ucapku denga  tersedu sedu berusaha meyakinkan bapak
“tidak bapak tidak setuju,kmu anak cewek cinta dan kamu anak satu-satunya bapak,dikota bahaya kmu enggak tau kan bahaya seperti apa dikota besar itu”
“cinta gak mau tau pak,cinta udah bulletin tekat cinta buat kuliah “
“CINTA”bentak bapak                                                                                      
“maaf pak tapi cinta juga punya hak untuk cita cita cinta,cinta janji bakal pertanggung jawabin ini semua” aku lari kekamar denga  tangisanku yang tak juga berhenti.di luar sana kudengar bapak masih berdebat denga  ibu, tak lama bapak membanting pintu keluar dengan ibu yang meneriaki bapak,mungkin hanya menghibur diri batinku,aku tak tau dan tak mau tau denga apa yang terjadi malam itu,kututupi tubuhku denga selimut dan kututup telingaku dengan bantal berharap besok akan jauh lebih baik dari malam ini.
            Hari ini akhirnya tiba,aku akan pergi kekota untuk kuliah,aku berkemas kemas mempersiapkan semua yang akan kubawa,berkas-berkas yang nanti akan kuperlukan dan baju-baju seadanya.bagaimana dengan bapak?entah akupun tak tahu semenjak kejadian malam itu aku dan bapak tidak pernah saling mengobrol panjang,bapak hanya sesekali menanyakan apakah aku serius?tidakkah aku kan berubah pikiran?dan jawabanku tetap TIDAK.
“tok…tok… cinta boleh ibu masuk?” ujarnya dari luar sana
“Boleh bu” jawabku
“Ini ada sedikit uang tabungan ibu,pergunakanlah dengan baik ya nduk,ini juga ada baju-baju baru buat kamu disana pasti temen-temen kamu pakek baju barusemua,oh ya ibu juga belikan kamu sepatu,ya walau jelek tapi ini lebih mending daripada sepatu kamu yang ini”
Tanpa berucap lagi kupeluk ibu sambil menangis,bukan, bukan terharu karna ibu membelikan aku barang barang baru tapi aku menangis karna akan meninggalkan ibu dan bapak didesa sendirian siapa yang akan memebantu ibu memasak?siapa yang akan membantu ibu memetik teh?,badan ibu tidak sekuat dulu dan bapak?sering aku dengar bapak batuk-batuk tengah malam sampai ia terbangun,memikirkan itu pernah meembuat aku ragu.tapi aku berjanji akan kembali lagi dengan keadaan yang jauh lebih baik lagi.Kulepes pelukanku dan kuganti sepatuku dengan sepatu yang dibelikan oleh ibu.
            Ketika aku hendak pergi ke terminal dan berpamitan dengan ibu,kulihat wajahnya kupandangi wajahnya,wajah yang akan aku rindukan setiap saat,kulihat ada tatapan haru saat harus merelakan aku pergi kekota dari matanya,dan ketika aku berpamitan dengan bapak?tak ada ekspresi apapun dari wajahnya,datar dan tak ada kesedihan melepaskan aku
“cinta pamit pak,doakan cinta ya pak”ujarku sambil menyalaminya.Dia hanya mengangguk pertanda IYA.Ingin sekali aku memeluknya dan bilang cinta minta maaf pak telah menyakiti hati bapak tapi kuurungkan niatku takut hal itu membuat bapak semakin marah padaku.Setelah kusalami semua,tanpa berpaling kumantapkan kakiku menuju terminal.”Aku janji akan kembali dengan keadaan yang lebih baik pak.buk”lirihku dalam hati.
            “Ahhhhh pegal sekali rasanya punggungku”ujarku,hari ini tepat 3 tahun  sudah aku berkuliah di bandung,kulirik jam dinding jadul ditembok kost ku”jam 12 malam”lirihku dalam hati baru dua jam aku berkutat dengan tugas tugas segunung ini tetapi rasanya kasur dan selimut itu jauh lebih menarik daripada tumpukan kertas didepanku.Bukan karna malas aku baru mengerjakan tugasku tapi karna aku baru pulang dari pekerjaan paruh waktuku menjadi kasir disebuah café dibandung yang gajinya lumayan untuk biaya makan dan untuk manabung untuk keperluan yang lain,terkadang aku juga mengambil pekerjaan tambahan jika ada yaitu membagikan brosur itupun tidak pasti selalu ada aku akan dipanggil jika memang diperlukan dan gajinya lumayan walau tidak  besar.pagi aku kuliah sampai sekitar pukul 1 siang atau paling lama 3 sore lalu kulanjutkan mebaca buku diperpus atau mengerjakan tugas sampai waktu aku masuk untuk bekerja sebagai kasir dicafe.Aku tidak mempunyai teman dekat disini bukan karna tidak ada yang mau berteman denganku tapi karna aku terlalu sibuk bekerja dan belajar sehingga tidak sempat untuk pergi hanya sekedar minum teh bersama,mereka tau aku bekerja sebagai kasir bahkan mereka juga minum dan nongkrong dicafe tempat aku bekerja dan mereka tidak pernah meremehkan pekerjaanku dan tidak pernah ada bulliying dan semacamnya untukku.Bapak ibu?jarang sekali aku berkomunikasi dengannya,sinyal didesa begitu susah terlebih bapak dan ibu yang tidak mempunyai ponsel disana,sempat aku menelfon tetanggaku menanyakan kabar ibu bapakku disaat itu aku dan ibu sempat berbincang sedikit menanyakan kabar,saat itu bapak sedang tidak ada dirumah tetapi mereka sehat semua tidak ada yang perlu aku takutkan.sempat terfikir untuk pulang kekampung tapi ibu melarangnya dia bilang tidak usah,lebih baik uangnnya ditabung untuk kebutuhanku disana,saat aku menanyakan bapak, ibu selalu bilang bapak sedang diluar dan bapak sehat-sehat.Kuliahku lancar tidak ada yang perlu dicemaskan ditambah aku mendapatkan beasiswa untuk membayar semua uang semesteran ku sampai aku lulus,tak hanya itu aku juga mendapatkan uang susbsidi siswa berprestasi dari desaku ibu bilang itu kebijakan desa untuk menambah semangat anak-anak desa agar kuliah sepertiku,aku bersyukur berkat itu aku tidak pernah meminta uang dari bapak untuk biaya hidup dan kuliahku disisni lagi pula kalaupun aku tidak mendapatkan subsidi itu aku juga tidak akan mau meminta uang dari bapak karna aku janji tidak akan membebankan bapak.
            Tahun ini tahun ketiga kuliahku semakin mendekati tahun keempat membuat aku semakin tidak sabar untuk terjun kedunia pekerjaan.Malam ini kuputuskan untuk beristirahat saja agar besok pagi saat kuliah aku bias lebih fresh,lagi pula seminggu kedepan aku libur bekerja karena café tempat aku biasa bekerja sedang direnovasi.
Siang pukul 11 siang kuliahku sudah tidak ada kelas,jadwalku selanjutnya adalah mengikuti seminar kepemimpinan agar memudahkanku mendapatkan pekerjaan.Diseminar itulah aku bertemu dengan laki-laki baik hati dan tampan,dia bernama Muhammad farhan biasa dipanggil farhan.aku tidak sengaja bertemu dengannya saat kita sama-sama hendak mengikuti seminar kepemimpinan tersebut dari situlah aku tau bahwa dia juga kuliah dibandung walau beda kampus dengan aku bedanya dia sekarang tahun keempat jadi aku hanya beda satu tahun dengannya.Dari situlah aku mulai dekat dengannya,kita bertukar nomor telefon saling intens memebri kabar dan tak jarang kita bertemu saat malam minggu hanya untuk nonton atau minum dicafe.Tak ada yang tau kapan dimulai tapi saat itulah kita mulai berkomitmen menjalin hubungan bersama .
            1 tahun berlalu dengan cepat,sekarang aku menginjak tahun keempatku.farhan sudah wisuda dan bekerja diperusahaan besar dibandung,aku mulai menyiapkan judul yang akan kuajukan untuk skripsiku,semakin tak sabar untuk memyelesaikan semuanya dan pulang kedesa bertemu bapak dan ibu. Sudah beberapa bulan uang subsidiku tidak keluar,ibu bilang itu dikarenakan desaku yang sedang memperbaiki jalan dan sarana disana jadi ibu meyuruhku untuk sedikit berhemat,aku memaklumi karna memang prasarana didesaku banyak sekali yang rusak.Hari ini saat aku akan pergi kekampus tiba-tiba saja ada surat dari pak pos untukku,kulihat itu dari ibu didesa.setelah membaca surat itu aku bergegas membereskan sebagian baju dan keperluanku kedalam tas dan pergi ke terminal untuk pulang kedesa.Bapak sakit sudah hampir satu tahun belakangan ini satu kalimat yang mampu membuat aku tanpa pikir panjang untuk pulang.Bus seakan akan melaju sangat lambat dan jarak rumahku dari bandung seakan akan semakin jauh, aku ingin sekali cepat sampai rumah dan melihat kedaan bapak.
Sore harinya aku tiba dirumah,tetanggaku bilang bapak dilarikan ke rumah sakit didesa,aku segera berlari menuju rumah sakit desa,kulihat ibu sedang menunggu bapak yang sedang tidur dengan alat bantu nafas dan infus yang menacap ditangannya .kudekati bapak kulihat wajahnya yang nampak tua dan lesu kusalami bapak sambil menangis disampingnya tak pernah aku melihat bapak berbaring lemas seperti ini kupeluk dia kuciumi bapak hal yang tak pernah kulakukan beberapa tahun belakangan ini.Bapak terbangun denga suara lemah dia berbicara padaku
“kamu pulang cinta? Maafin bapak ya” itulah kalimat terkhir yang diucapkan bapak kepadaku,bapak telah pergi.iya bapak pergi meninggalkan aku dan ibu untuk selamanya aku menangis sejadijadinya aku memeluk bapak dan meneriaki namanya” bapakk……bapakkkk…..” Ibu juga tak kalah terpukul dengan aku,ia menangis walau tak sehisteris aku.
            Malamnya setelah prosesi pemakaman bapak selesai,aku terdiam memandangi foto bapak dikmar.Tiba-tiba ibu masuk dan memelukku sambil menangis,dari situlah aku tau kebenarannya malam saat aku bedebat dengan bapak,bapak pergi bukan untuk menghibur diri tapi bapak pergi mencari utang sana sini agar aku bisa kuliah,baju-baju bahkan sepatu yang ibu berikan padaku bukanlah uang dari tabungan ibu tapi itu hasil bapak mencari utang
“Bapak menyuruh ibu membeli baju baru dan sepatu baru untukmu,bapak bilang biar kamu gak malu sam temen temen kuliahmu karna baju dan sepatumu jadul”.Entah harus sepetri apa ekspresiku saat ini aku menagis dipelukan ibu tak hanya itu uang subsidi yang ibu bilang dari desa itu adalah uang hasil kerja bapak,subsidi bukan telat karna desa sedang dalam perbaikan tapi karna bapak sedang sakit dan tak bias bekerja“bapak gak mau kmu tau kalo itu dari bapak,karna bapak tau kamu akan menolaknya cinta,bapak bekerja terus walau ibu melarangnya karna bapak sudah sering sakit,tapi bapak ngotot,bapak gak mau kamu kebingungan nyari uang disana cinta”
Ya allah sebegitukah bapak terhadap aku,aku ingin memeluknya aku ingin sujud dihadapannya tapi apa daya,bapak sudah tiada tanpa bisa aku berterimaksaih padanya tanpa sempat aku memeluknya dan meminta maaf padanya.Cerita ibu masih berlanjut saat aku akan pergi kekota saat aku sudah tidak ada dirumah bapak menangis diam diam dikamarku memandangi fotoku,ibu bilang bapak yang selalu mengingatkan ibu untuk selalu mendoakan aku.Saat aku menelfon ibu untuk menanyai kabar,bapak bukanlah sedang ada diluar bapak dirumah duduk disamping ibu tapi bapak tidak mau bebicara karna bapak sudah mulai sakit-sakitan bapak tidak mau aku menyadarinya dan aku khawatir,bapak takut itu bias membuat aku tidak fokus kuliah.tak tega mendengar apa yang ibu katakana,membayangkan betapa kerasnya bapak bekerja,betapa letihnya ia bekerja untuk aku membuat aku malu terhadap ibu dan bapak.Malam itu aku menghabiskan air mataku bersama dengan ibu kita saling menguatkan satu sama lain dan berjanji untuk hidup berbahagia.

Loh cinta kamu belum berangkat,nanti ditungguin farhan loh.Tiba-tiba ibu datang menghampiriku yang sedang melihat foto bapak,tak terasa air mataku jatuh dan aku langsung memeluk ibu
“Cinta kangen bapak bu”ujarku padanya
“Bapak pasti bahagia meihat kamu sudah sukses seperti ini,sudah mandiri dan sebentar lagi akan menikah,putri kecil bapak dulu akan jadi istri orang”ledeknya sambil menenagkanku.Yah setelah kepergian bapak aku wisuda dan telah bekerja di institusi besar dibandung,aku membawa ibu serta kebandung,sedikit demi sedikit aku bisa membeli rumah dan hidup mandiri bersama ibu.kini Bapak bisa tersenyum diatas sana melihat aku dan ibu bahagia.Terimakasih bapak untuk cintamu padaku.

Komentar

Postingan Populer